Jomblo Tersi(k)sa

Kebetulan sudah lama tak berkisah di blog apalagi temanya “ngeri”. Oke seperti tag line disetiap medsos yang aku punya, tema besar di usia ke 28 adalah “get your dream”. Yah mimpi itu harus bisa teraih di usiaku yang kata orang sudah tak muda lagi. Tapi pada kenyataanya malah berbanding terbalik. Usia ternyata tak bisa sebanding dengan kedewasaan/ kesiapan dalam hal “tertentu”. Oke, jadi untuk tahun ini tag linenya mau diganti apa yah? Biar lebih bersemangat dan bisa membuat banyak sejarah baru dalam kehidupannku. Oke sembari memikirkan tag line yang tepat, aku mau mau sedikit mengungkapkan apa yang tersirat dari judul diatas. 

Lets chek this out

Baru muncul pembahasanya udah ngeri banget. Hehe sengaja membuat nuansa lebih panas dan bersemangat. Oke, buat teman – teman yang seusia denganku pastinya gregetan deh kalau lagi kumpul atau reunian sama teman – teman kuliah, sma, smp bahkan sd trus yang ditaanyain eh mana nih undangan? Ditunggu yah undangannya? Kapan nih nyusul? Gak kepengen nih punya buntut? Nih anakku lagi lucu-lucunya, gak kepengen yah? Nah apalagi kalau lagi kumpul-kumpul sama keluarga, paman, bibi, pakde, bude, sepupu, yang pastinya tambah bikin nyiksa aja. Yah, memang begitulah nasib jomblo yang masih tersisa. Tapi don’t worry be happy aja. Mereka sebenarnya bukan bermaksud mau nyiksa kita, tapi lebih pada menyemangati supaya lebih bisa berintrospeksi diri. Eh si A yang usianya lebih muda dari kita eh sudah asik main sama babynya, mungkin karena dia memang sudah siap untuk menjadi seorang ibu/ayah, atau si Z yang yang mungkin secara ekonomi biasa-biasa saja tapi ternyata bisa membina rumah tangga, nah mungkin itu juga yang harus menjadi bahan evaluasi diri kita. Pekerjaan yang sudah mapan, usia yang sudah matang, ilmu yang sudah memadai, lalu apalagi yang dicari?? Mungkin disini bukan masalah pencarian tapi masalah takdir. Allah pasti sudah menakdirkan kita dengan pas. 

Sedikit curcol yah, tentang beberapa komunitas grup yang aku ikuti di medos ataupun pada kehidupan nyata. Di setiap grup yang aku ikuti ternyata eh ternyata aku adalah salah satu dari sedikit yang masih “jomblo”. Walah, jujur amat. Setiap kali masuk ke grup pasti yang ditanyain adalah eh kapan undangan/kapan nyusul kita? Nuh buntutku udah mau dua/ tiga. Huaduh… ternyata teman-teman yang seumuran denganku sudah banyak yang berbuntut lebih dari satu, nah daku. Olala, jangankan buntut yang jadi pasangannya belum ada. Nah, ini yang mungkin menjadi siksaan bagi para jomblowan/ jomblowati yang sudah bermur like me. Eh btw sekarang sudah mau twente nine my age yeah… ,(masih ingat istilah ini?) dan sekarang kepake juga sama aku. Hehehe. Tapi tentunya jomblo-jomblo yang masih tersisa (diantaranya, aku) tak perlu khawatir, don’t be afraid. Karena Allah bakal ngasih kejutan istimewa buat kamu-kamu (dan tentunya aku). Keyakinan akan jodoh jangan pernah diragukan lagi. Kayak gak punya Allah saja. Berpikir positif bahwa Allah itu bukan hanya akan mempersiapkan seseorang yang terbaik untuk kita di waktu yang tepat, tapi Allah juga sedang mempersiapkan diri kita untuk mendapatkan sesorang itu dengan tepat. Makanya, sekarang saatnya untuk terus memperbaiki diri, terus untuk memantaskan diri. Jangan-jangan kita kalau disuruh masak belum bisa, nyuci baju masih dicuciin, setrika masih disetrikain, masih merengek minta uang jajan sama orang tua, masih banyak ngerepotin orang tua, belum bisa mandiri, nyelesein masalah dihadapi dengan emosi. Nah itu mungkin sedikit alasan atau hal-hal yang perlu diperbaiki sebelum kita para jomblowan/jomblowati ini siap bersanding dengan pangeran/ putri yang akan menjadi pasangan kita kelak.

Jangan pernah takut untuk terus move on jika Allah ternyata memberikan ujian kepada kita, misalnya dalam berproses menuju pernikahan ternyata banyak kendala dan putus ditengah jalan. Karena itu bisa jadi adalah cara Allah menguji tingkat kesabaran dan sudah sejauh mana kesiapan kita dalam membina rumah tangga. Dan bisa jadi kita akan menemui takdir yang lain. Misalnya kuliah lagi trus berkarir dengan cemerlang, trus berbakti sama orang tua, atau mungkin banyak karya yang akan kita hasilkan. 

Yah mungkin itu sedikit tulisan yang akhirnya tertuang juga, bahkan terposting juga di blog ini. Hanya ingin memberikan semangat, kepada para jomblo- jomblo yang masih tersisa di umur yang kesekian ini. Tak perlu merasa risau, resah bahkan tersiksa oleh celotehan dan pertanyaan kawan-kawan kita yang sudah berbuntut banyak. Nikmati saja kesendirian ini dengan penuh semngat dan manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk terus memperbaiki diri dan memantaskan diri supaya menjadi suami/ istri yang matang. 

Semoga Allah memberikan pasangan yang terbaik dariNya dan jika memang Allah belum memberikan jodoh kita di dunia pastinya Allah akan memberikan pasangan terbaikNya di akhirat nanti. Aamiin. 

NB : 

Ini tulisan udah satu tahun lebih ternyata. Wuihhh masih jomblo ternyata hehehe… 

Masih Pantaskah Menjadi Guru?


Tulisan ini adalah hasil dari kontempelasi (walah bahasane…), renungan panjang, evaluasi diri, sekaligus melihat fenomena yang sedang marak diperbincangkan khalayak ramai di dunia maya. Sebagai seorang guru memang menjadi sensitif jika ada kabar (entah itu gosip ataupun nyata) tentang guru lain. 

Kesimpulan dari kontempelasi yang ujug-ujug di subuh hari ini, adalah bahwa ternyata menjadi seorang guru itu tidak mudah. Dari segala aspek, entah pribadi, profesional dan juga pedagogik (widih pake bahasa tingkat dewa, padahal aye juga kagak ngarti. Ini aye simpulkan dari apel pagi yang dipimpin oleh bapak kepala sekolah). 

Aspek pribadi atau individu yaitu guru dituntut untuk menjadi sempurna seorang teladan (bukan telatan, ini mah aye). Dalam istilah bahasa jawa guru berarti digugu lan ditiru, yang artinya bahwa guru itu akan dianut, didengar kata-katanya dan ditiru perilakunya. Lebih simpelnya sebagai teladan. Menjadi teladan itu tidak mudah teman, teladan yang dilihat pertama adalah sikap, perilaku, alias akhlak. Sikap/perilaku/akhlak ini tidak begitu saja timbul ujug-ujug, tapi tentunya diiringi proses panjang pembentukan karakter pribadi/individu dari guru tersebut. 

Guru, haruslah ramah, murah senyum supaya anak didiknya menjadi anak yang ramah pula. Guru, haruslah ringan tangan membantu dikala ada kesulitan, supaya murid-muridnya juga menjadi anak yang peduli. Guru, haruslah pandai menjaga diri dari kata-kata kotor, supaya siswa/inya menjadi anak yang terpuji tutur katanya. Guru, haruslah jujur dengan sikap dan tingkah lakunya, supaya peserta didiknya menjadi anak yang berani dalam menghadapi masalahnya. Guru, haruslah seorang yang penyabar lagi pemaaf, supaya anak-anak didiknya menjadi anak yang bisa menerima segela permasalahan dengan baik. Guru, haruslah menjadi sosok tanpa cela dalam kesehariannya sepert cara makan, minum, berjalan, duduk, berpakaian, bahkan sampai tidurnyapun harus sempurna. Oh, emang ada ya yang sampai ngintip tidurnya guru (hehehe..). Tentu saja hal ini membuat guru harus belajar lagi untuk menjadi pribadi yang sempurna, walaupun kesempurnaan itu hanya milik Allah semata dan manusia yang paling sempurna hanyalah Rosulullah SAW saja. Tapi paling tidak akhlak yang baik haruslah dijaga dengan sungguh-sungguh, jangan sampai izzah (alias harga diri) jatuh karena akhlak buruk kita dilihat oleh murid-murid kita. 

Aspek kedua yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah professional. Aspek yang sangat menunjang profesi sebagai seorang guru. Bagaimana cara dia mengajar, bagaimana memanajemen kelas, bagaimana dia menerangkan sebuah materi apakah sudah sesuai dengan kurikulum yang ada, bagaimana dia menyelesaikan seluruh administrasi yang diperlukan dan lain sebagainya. Yah, yang jelas ini lebih pada profesionalisme “kerja” sebagai guru, tenaga pendidik. Nah, ini juga tidak mudah untuk serta merta membuat kita menjadi seorang guru yang professional. Untuk menjadi guru yang professional dibutuhkan banyak hal, baik itu dari latar belakang pendidikan dari guru bersangkutan dan juga tambahan-tambahan ilmu baik dari pelatihan-pelatihan ataupun dari pengalaman selama mengajar dan tentunya dari sumber lain seperti membaca buku, sharing, dan lain sebagainya. 

Lalu aspek yang berikutnya adalah pedagogik (panganan opo iki?), mohon maaf sejujurnya aye juga kagak ngerti maksudnya gimana? Secara aye baru ngerti istilah pedagogik itu juga akhir-akhir ini aja pas ada UKG (Ujian Kompetensi Guru). Jujur kagak ngerti sama sekali, karena latar belakang pendidikan aye yang berbeda jauh dari dunia pendidikan. Hal inilah yang menjadi PR buat aye pribadi untuk belajar lagi dan lagi supaya kagak blank blank amat kalau ngomongin istilah-istilah pendidikan kayak gini. Nah berdasar hasil browsing-browsing beberapa waktu lalu, bisa aye simpulkan bahwa pedagogik itu adalah ilmu mengajar/ mendidik. Layaknya seorang yang berprofesi sebagai dokter, dia tentunya akan menjalani kuliah formal profesi dokter. Begitu juga seorang apoteker dia juga harus mengambil profesi apoteker. Demikian juga dengan guru, sebelum dia berprofesi sebagai guru dia harus terlebih dahulu mempelajari pedagodik. Terlebih guru SD dan TK, karena pedagodik ini merupakan ilmu khusus untuk mendidik anak. 

Nah lho? Ternyata dan ternyata menjadi seorang guru itu tidaklah mudah. Apalagi ini menyangkut hajat hidup dan masa depan seorang anak. Kudu dan musti berilmu dulu sebelum mengajar/ mendidik anak-anak. Memang sih awalnya dulu mengajar karena senang ada didepan kelas bicara dan menerangkan, tapi itu saja tidak cukup karena mendidik anak itu berbeda dengan mengajar sebuah materi. Berbicara didepan kelas itu mudah, namun bagaimana ilmu yang kita sampaikan itu bisa masuk dan meresap ke anak-anak itulah yang penting. 

Huh, jadi berpikir ulang apakah diri ini memang pantas dan layak menjadi seorang guru. Beberapa kali sahabat-sahabat tercinta setiap kali bertegur sapa mereka bilang, “masih nggak percaya kalau erli itu jadi guru SD”. Dan beberapa waktu lalu bertemu dengan salah seorang guru SD senior bilang “gak cocok jadi guru SD, cocoknya jadi pegawai Bank”. Hoh, jadi gimana gitu. Mungkin dari segi tampang emang gak cocok blas, dari segi kebiasaan juga gak mungkin banget (terkhusus untuk kawan-kawan yang sudah tahu aku lama, pasti ngerti), dari segi latar belakang pendidikan juga gak pas. Jadi sudah paslah jika pertanyaan itu tak perlu dijawab dengan perenungan panjang. Namun, entah mengapa justru akhir-akhir ini aye merasa tidak bisa melepaskan jati diri sebagai guru SD. Aye merasa senang dan tenang melihat anak-anak berpolah ketika belajar. Itu hiburan tersendiri, sungguh sangat menyenangkan bersama mereka, kepolosan dan kejujuran mereka membuat semakin betah dan tak ingin melepaskan mereka. 

Terlepas dari perasaan dan cita-cita sejak kecil dibenturkan dengan kondisi yang ada, pertanyaan “masih pantaskah menjadi guru?”, selalu terngiang. Membuat hati menjadi semakin bergejolak untuk bertahan ataukah melepaskan. Namun, yang dicari di sini bukan hanya sekedar profesi tapi panggilan hati. Mendidik dengan sebaik-baiknya, untuk menjadi tabungan amal kelak di yaumil akhir. Sembari seiring berjalan waktu belajar kembali tentang bagaimana berprofesi menjadi guru yang betul-betul professional. 

(Tulisan diselesaikan 2 pekan, hihihi…)

Gagal Sarjana 

Ini sudah bulan Agustus akhir, sudah saatnya posting lagi di blog. Semoga tetep istiqomah buat nulis di sini minimal satu bulan sekali. Ide itu sebetulnya tidak terbatas tapi menulis butuh komitmen yang kokoh. Ehm ehm malah jadi ngomongin komitmen, sudahlah, aku mau bahas tentang judul diatas “Gagal Sarjana”. Tulisan itu sebetulnya aku dapatkan dari sebuah tulisan di belakang truk saat perjalanan ke Semarang jemput keluarga mas yang pulang kampung sekitar satu tahun yang lalu. Emang mau dijadikan tulisan, tapi yah itu tadi komitmen menulis itu yang sepertinya belum kokoh. Hehehe… oke mari sejenak rileks dan membaca tulisanku yang masih acak acakan ini. 

Menjadi sarjana adalah impian dari setiap orang (betul tidak?). Kalau misalnya tidak, yah ini buatku sajalah. Menjadi sarjana adalah impianku, apalagi menjadi sarjana dari sebuah perguruan tinggi yang “bagus”. Dan aku sangat bersyukur karena menjadi salah satu dari sekian puluh ribu lulusan dari PT “bagus” tersebut. Oke, aku sebut merek sajalah dari pada tak jelas, Universitas Gadjah Mada atau UGM. Siapa yang tidak mau belajar di universitas ini. Bisa dikatakan sebagian siswa/i SMA pasti bermimpi untuk belajar di sini. Dan salah satunya aku. Yah, sejak kecil entah awalnya dari mana mendengar perguruan tinggi ini aku langsung berkeinginan jika nanti kuliah harus di sini, di UGM. Seiring berjalannya waktu, menginjak SMA kelas 3 idealisme yang tertanam semenjak kecil bertarung, yah ada dua idealisme dalam diri. Bercita-cita menjadi guru dan kuliah di UGM. Kita tahu bahwa UGM tidak memiliki faktultas kependidikan (kecuali pendidikan dokter). Jadi otomatis harus punya pilihan lain apakah meneruskan idealisme menjadi guru dengan kuliah di fakultas kependidikan atau ambil jurusan lain tapi tetap mendaftar di UGM. Maka ikhtiar awal adalah mencoba untuk mendaftar PMDK di UNNES (Universitar Negeri Semarang) yang saat itu aku memilih jurusan Pendidikan Matematika (karena aku sangat suka pelajaran ini). Karena keyakinan dalam diri maka, aku putuskan untuk tidak mendaftar di lain kampus termasuk UGM yang saat itu membuka jalur pendaftaran UM UGM yang menjadi pintu terbesar untuk masuk ke universitas ini. Sekitar 75% kursi direkrut melalui jalur ini, sedangkan 25% melalui jalur PMDK dan SPMB (kalau sekarang namanya SBMPTN, kebijakan ini dikarenakan adanya status baru dari 5 PTN yang berubah menjadi BHMN (sekarang apa yah namanya?). Namun di last minute, ada saran dari mas untuk mencoba mengambil juga formulir UM UGM. Istilahnya buat coba-coba aja. Awalnya ragu, tapi karena didukung oleh bapak dan ibu jadilah aku membeli formulir UM UGM di hari terakhir pendaftaran kolektif. Nah pada saat mengisi formulir terjadilah konflik batin dalam diri apa saja yang harus diambil (pada saat itu ada 3 pilihan). Lalu akupun mengisi 3 pilihan yang menurutku logis untuk kemampuan akademikku. Pilihan pertama yaitu matematika karena aku suka matematika, lalu pertanian, saat itu mikirnya karena aku tinggal di desa jadi sepertinya pas dan cocok jika nanti lulus bisa langsung dipraktekkan. Dan pilihan ketiga adalah peternakan, aku beralasan yang sama ditunjang dengan saat itu aku senang dengan hewan, entah ayam, kucing, dll. Singkat cerita, ternyata aku tidak lolos untuk PMDK Unnes dan lolos di UM UGM jurusan social ekonomi peternakan. Wow, mengingat pada saat tes UM UGM aku tak belajar, hanya belajar satu kali seminggu sebelumnya dan malam sebelum ujian malah nonton sepakbola kalau  tidak salah Piala Eropa. Hahaha ini yang namanya takdir.

Setelah dipikir ulang dan mempertimbangkan banyak hal aku putuskan untuk tidak mengambil kuliah di UGM ini, dan akan berikhtiar lagi untuk ikut SPMB mengambil jurusan keguruan. Namun, orang tua mempertimbangkan lain dan tetap mengambil di UGM dan tidak perlu ikut SPMB dan tes-tes masuk perguruan tinggi yang lain. Yah sudah karena sudah diputuskan begitu maka dijalani saja. 

Sepanjang perjalanan awal kuliah ternyata agak berat, bukan karena mata kuliah yang sulit. Tapi merasa ini bukan duniaku, selama awal kuliah menekatkan dan meniatkan diri untuk keluar dari kampus ini dan mengikuti SPMB tahun berikutnya dan mengambil kuliah keguruan. Namun, seiring berjalannya waktu sampai pada detik terakhir pendaftaran SPMB tahun 2005 takdir berkata lain. Masih teringiang sampai sekarang kata-kata mbak MRku, bahwa inilah takdir yang harus kita syukuri dan kita jalani. Belum tentu apa yang nanti kita ambil nanti menjadi baik untuk kita, dan bisa jadi di sinilah tempat kita menjemput takdir kita yang lebih baik. Yah, inilah pilihan terberat dalam hidup menentukan masa depan yang belum pasti. Lalu, keputusan di last minute kali ini adalah aku akan menjemput takdirku di fakultas Peternakan UGM. Tidak mudah memang, harus mengulang semua dari awal. Niatkan kembali dengan lurus, bahwa dimanapun kita berada semua karena Allah dan niatkan untuk ibadah, mencari ilmu karena Allah. Akhirnya takdir-takdir indah yang mengiringiku sampai detik akhir meninggalkan kota Jogja tercinta begitu indah dan dahsyat. Tak pernah disangka dan tak pernah dinyana aku pada titik ini. 

Sekali lagi perjalanan ini tidak mudah, meniatkan kembali memang mudah namun menjalaninya ada saja ujiannya. Dan inilah yang harus ditempuh, dijalani, dikalahkan dan diperjuangkan. Sebagian teman-teman seangkatan ada yang lulus dengan cepat, ada juga yang pas, dan ada pula yang berlebih, like me. Yah, saat di akhir waktu yang sangat krusial membuat diri ini merasa sudah tak sanggup lagi untuk melangkah, jangankan melangkah bertahanpun sulit. Merasa sudah berhenti, dan akan gagal menjadi seorang sarjana. Hingga kemudian tangan Allah mulai bekerja. Entah apa yang kulakukan dulu, hingga kemudian Allah sungguh meringankan bantuanNya melalui sahabat-sahabat yang setia menemani dan menyemangati untuk bisa menyelesaikan kuliah. Kadang masih tidak percaya bahwa akhirnya aku bisa lulus. Hehehe kalau ingat masa itu rasanya aku ini bukan apa-apa dan bukanlah siapa-siapa. Hanya bisa bersyukur dan terus bersyukur, bahwa satu cita-citaku tercapai yaitu menjadi sarjana dari universitas terbaik di Indonesia. 

Aku mengakui disinilah aku mendapat banyak hal. Bukan hanya ilmunya saja, tapi banyak yang aku dapatkan. Lebih tepatnya disinilah aku mendapatkan ilmu tentang hidup. Bagaimana kita hidup, bertahan hidup bahkan bisa menghidupi orang lain. Disinilah aku mendapatkan semuanya. Aku tidak bisa menyangkal bahwa disinilah universitas terbaik bukan karena dosen-dosen terbaik ada di sini, bukan juga karena fasilitas yang memadai. Tapi bertemu dengan orang-orang bijak yang membuat diri ini mampu menerima takdir dengan baik, menggunakan fasilitas yang ada menjadikan lebih banyak bersyukur karena begitu mudah mengakses sesuatu yang terkadang tak pernah ditemui diluar sana.  

Yah, lulus dari sini bukan berarti langsung menjadi orang sukses. Butuh perjuangan untuk melangkah kembali. Dan kali ini bisa dikatakan aku benar-benar menjadi orang yang gagal sarjana. Bagaimana tidak? Teringat kata MRku dulu Sebuah perguruan tinggi membuat program studi itu ada latar belakangnya, yaitu bahwa Negara ini membutuhkan orang-orang dengan latar belakang pendidikan tersebut. Contohnya, pertanian, peternakan, dll. Bahwa sebetulnya Negara ini membutuhkan sarjana pertanian, peternakan untuk memajukan Negara ini dibidang agro. Hmmm, jadi mikir lagi saat setelah lulus waktu itu. Apakah kemudian akan berkecimpung di dunia yang sesuai dengan latar belakang pendidikan atau hijrah ke cita-cita yang berikutnya atau menerima takdir lainnya? Saat itu aku juga teringat ketika dosen pembimbingku bertanya, Setelah lulus mau apa? dengan mantap aku menjawab, Jadi guru, pak. I dont know. Kemantapanku dari dulu saat kuliah pertama kali sampai detik selesai ujian skripsi, dibenakku ingin menjadi guru. Yah, inilah yang menjadi kegagalan sebenarnya. Bukan ijazah yang diterima atau gelar yang tersematkan sebagai tanda keberhasilan, namun sejatinya keberhasilan dan kegagalan menjadi seorang sarjana adalah pada sejauh mana kebermanfaatan dari ilmu yang didapatkan. 

Teringat kembali pada perbincangan dengan salah seorang teman beberapa waktu lalu. Dia adalah seorang dosen disalah satu sekolah tinggi di kota Magelang yang juga dulu satu almamater denganku. Dia berasal dari, yang menurutku, program studi terkeren di UGM. Dia menganalisis bahwa sekitar 70% mahasiswa itu salah jurusan. Bisa dilihat dari setelah lulus dari kuliah kemana dia bekerja, apakah sesuai dengan latar belakang pendidikan ataukah menyebrang jauh. Selain itu juga dari passion yang mereka miliki, apakah mereka kuliah itu sudah sesuai dengan kesenangan dan minat sesungguhnya dalam dirinya. Analisa ini coba sedikit aku buktikan. Hehehe contoh konkrit yah, daku ini. Ngakunya sarjana peternakan eh kerjanya jadi guru SD (gak cuma aku sih, temen-temenku yang lulusan peternakan jadi guru SD ternyata banyak, mungkin karena kita sayang sama hewan jadi bisa representasi sayang sama anak-anak (). Ada juga temanku kuliahnya di keguruan eh kerjanya malah di Bank. Termasuk temanku ini yang ternyata mempunyai passion yang bukan di latar belakang pendidikannya itu. Hahaha apakah ini yang namanya gagal sarjana atau gagal dalam proses pendidikan? Atau? Entahlah 

Ketemu Jodoh

Ehm lagi pengen ngomong serius tapi tetep santai. Hehehe… umur-umur segini lagi sensitif dengan hal hal yang berbau nikah. Apalagi abis lebaran ini, undangan sudah menanti banyak. Hohoho… kalau udah gitu pasti deh langsung ditembak, “ditunggu undangannya er”, weladalah… tak undang rapat wae po piye? Hahaha…diundang rapat wae kadang yo ra teko. Eh malah curhat. Emang lagi mau curhat. 

Ckckck… sebenarnya nih tulisan udah nangkring hampir satu tahun yang lalu, tapi baru bisa edit sana edit sini dan share malam ini. I dont know why? Kenapa harus segera share tulisan ini. Ah ya sudahlah, pokoke tak share wae. Tapi ada satu yang bikin galau saat mau ngeshare ini, judulnya apa yah?? Ternyata ngasih judul tuh susah yah? Wis lah teko tak kasih judul “ketemu jodoh”, biar lebih dramatis eh nggak ding tapi biar lebih menarik buat dibaca. Tapi yakin wis, antara judul ma isinya beda. Hehehe… tipu tipu ala artikel or berita online. 😁

Cuuss ajah yah. Yuk marie… 

Yang namanya jodoh itu pastinya tidak ada yang tahu. Pun demikian dengan diri kita sendiri. Sesuka – sukanya kita dengan si dia pun demikian dianya juga suka pada kita, namun jika Allah tak menakdirkan berjodoh, yah sudah usaha apapun tak akan bisa lolos. Dan jika kita tak pernah menganggap dia bakal jadi jodoh kita, eh tiba-tiba saja Allah menjodohkan kita maka jadilah si dia berjodoh dengan kita. Hmm… berat memang pembicaraan kali ini, bukan lantaran galau kok gak laku-laku, tapi sebenarnya menulis ini karena sedang bercermin apakah aku sudah pantas untuk menikah?

Yaelah er… udah berapa tahun sih lo hidup didunia ini? Masih nanya sudah pantas atau belum?

Menikah bukanlah perkara usia, itu apologiku. Tapi perkara kesiapan dalam pribadi untuk bisa berbagi peran dalam kehidupan berumah tangga. Peran yang mungkin sangat jauh dari peran kita selama masih jomblo. Nah, kerelaan untuk berbagi peran, bersama melangkah menuju visi dan misi hidup berumahtangga, bersama menyelesaikan persoalan baik pribadi (suami-istri), keluarga, tetangga, masyarakat, tempat kerja, kawan lama, sahabat baru, dsb adalah sebagian kecil yang harus diikatkan dalam komitmen bersama. Yah, KOMITMEN, dalam berumah tangga bukan hanya sekedar rasa “cinta” yang tumbuh diantara pasangan tapi lebih pada komitmen. Sejauh mana komitmen masing-masing pasangan terhadap pasangannya. Tak cukup hanya sekedar menerima kekurangan dan kelebihan, menutup kekurangannya dengan penerimaan kita. Memang kata-kata itu cukup untuk memberikan kelegaan bagi sipasangan, namun what next, lalu apa yang harus dilakukan dengan itu semua. Apakah hanya sekedar aku terima kamu apa adanya. (Titik)?? Rasa-rasanya jika kita hidup dengan prinsip yang demikian, yang terjadi adalah penerimaan yang tak produktif, ibarat kata, sudah tahu kita tak punya uang untuk makan, lalu apakah kita akan menunggu terus makanan itu jatuh dari langit. Tentunya tidak demikian, kita harus berusaha setelah tahu kekurangan dari pasangan kita bagaimana kita membuat kekurangan itu tidak berlarut-larut bahkan menjadi habbit (kebiasaan) yang mungkin bisa menjadi perusak komitmen dalam pernikahan. Alangkah baiknya jika demikian ada usaha, untuk bisa bersama-sama memperbaiki, saling support, saling membantu sehingga rumah tangga ini menjadi lebih produktif.

Aku pernah ikut beberapa kali dauroh/kajian pra nikah, dari beberapa hal yang aku garis bawahi adalah bagaimana pernikahan tidak menjadikan kita malah menurun dalam produktifitas. Baik itu dalam konteks dakwah ataupun personal. Misal, setelah menikah justru banyak ikhwah yang jarang datang liqo, banyak suami-suami yang tidak bisa pergi mukhoyam gegara sang istri merasa keberatan ditinggal beberapa hari, istri yang tidak diijinkan untuk mengisi kajian atau bahkan untuk hadir pada agenda dakwah karena harus mengurus suami/anak-anak. Bukankah ini yang dinamakan komitmen? Hmm, mungkin karena aku belum merasakan yang namanya berumah tangga, jadi teori-teori ini aku makan mentah-mentah. Hehehe… tapi kalau aku lihat pada prakteknya ada beberapa contoh rumah tangga yang memang produktif namun ada juga yang tidak produktif. Dan ternyata berdasarkan analisa sepintas sambil lalu, hal ini adalah karena pada proses awal pernikahan yang akan dirancang kedepan.

Nah, bagi mereka yang produktif biasanya proses yang lurus dan biasanya ada campur tangan jamaah akan lebih terjaga, sedangkan yang tidak produktif biasanya proses dari awal yang tidak sepenuhnya dari jamaah. Ah, aku tak membandingkan, tapi hanya analisa sambil lalu.

Eh jadi ngomongin jamaah juga. Intinya sih pada prosesnya saja. Prosesnya dengan baik dan syar’i insyallah berkah. Ada yang bilang kalau gak salah ust. Salim A. Fillah, Allah akan memberikan jodoh kita dengan lembut ketika kita berproses dengan baik, tapi bisa jadi Allah melemparkan jodoh kita karena kita berproses tidak baik. 

Yah,melelahkan sekali menulisnya, mikirnya juga sampai ribuan kali. Karena minim dengan pengalaman, hanya melihat dari kanan kiri, mendengar dari sana sini, membaca dari cerita ini itu. Yah, cuma bisa berdoa juga semoga Allah memberikan yang terbaik. Baik dalam berproses, sampai ketemunya, dan juga menjalani kehidupan setelahnya. Lagi ngehits banget istilah jodoh sesurga. Nah semoga, segera “ketemu sama jodoh sesurga”. Hehehe… 

Tulisan diselesaikan ditemani bisingnya suara “truk molen” yang lagi ngecor jalan depan rumah. Hohoho… pelebaran jalan, bisa berakibat tambah lebar jalannya, tambah ramai kendaraannya, dan semakin “kota” deh kampung ane. Disyukuri saja, dan selamat malam.:mrgreen:

I’m back… 

Jeng jeng…. 

Allloooowwww… 

Wah, senang sekali bisa bertemu kembali di blog ini kawan. Lama nian tak mengeshare apapun di sini, alias dianggurin. Sudah satu tahun ternyata. Hmm… ngapain aja yah? Yah gak ngapa ngapain sih. Kalau sibuk mah, emang dari dulu sok sibuk. Kalau gak punya ide, dari dulu emang selalu kekurangan ide. Pada intinya sih males. Hehehe… gimana sih ngilangin rasa males, terutama nulis di blog? Padahal aktif juga kalau nulis di mini blog seperti fb, twitter, instagram. Hohoho… disono2 itu ane masih aktif. Hah ya sudah lah, dimana saja tempatnya yang penting tetep bisa share hal-hal yang positif dan juga memberikan pesan dan hikmah. Seperti kali ini, hikmahnya adalah??? Ternyata udah satu tahun ane tak tulis apapun diblog ini. Dan ternyata ane adalah korban sosmed kekinian, belum bisa istiqomah menulis di blog.

Sekarang ini sedang mencoba lagi untuk nulis-nulis, share kejadian seru dan lucu, pengalaman unik dan menarik, review buku yang kece-kece dan segudang hikmah lainnya yang masih tersembunyi dibalik ribuan peristiwa. Alah… ngomong opo to iki? Yang penting setelah satu tahun tak update di blog ini akhirnya gue ngeblog lagi kawan… 😁

Angkutan Umum

#angkutan umum

Kemarin adalah hari yg cukup menguras emosi. Dan aku beri judul #angkutanumum, karena berhubungan dengan angkot dan teman2nya.

Seperti biasa untuk menjalani aktivitas keluar kota pastinya moda transportasi yg aku gunakan adalah #angkutanumum

Karena memang tidak memiliki kendaraan pribadi juga karena bln bisa pakai. Jadi satu2nya cara adalah berkendaraan dengan #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Pagi kemarin memang sdh kurencanakan untuk menikmati akhir liburan ke Jogja, selain mengobati kerinduan jg ajang refreshing #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Sepengetahuanku untuk tarif #angkutanumum menjelang lebaran tidak ada kenaikan, karena sdh ada kenaikan sebelum ramadhan lalu — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Jadi sdh ada dlm perhitunganku berapa uang yg aku siapkan untuk membayar #angkutanumum. Rmh-terminal secang 3rb,secang-mgl 4rb,mgl-jgj 12rb — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Biasanya kalau berangkat pagi naik bus langsung dr terminal secang-jogja cukup 15rb. Tp kemarin tiba2 kondektur bus minta 20rb #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Dengan agak kesal karena kondekturnya juga bermuka tak ramah sekaligus maksa, aku protes “lho biasanya 15rb,kok pak” #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Kondekturnya bilang “kalau 15rb dari mgl-jogja”.Berarti logikanya secang-mgl 5rb??? Waduh mahal amat, ini betul2 keterlaluan #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Walaupun sdh aku bilang kalau sdh biasa naik bus dan tarifnya 15rb, kondektur tetap bersikeras tidak memberikan uang kembalian #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ya sudahlah, berdebat panjang nalah emosi dan kesel. Lebih baik diikhlaskan saja, toh juga pergi ke jogja tak setiap hari #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Sesampainya dijogja tak perlu aku ceitakan panjang lebar karena bisa dikatakan cukup puas berjalan2, silaturahim, dan tentunya mbakso diEMHA — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Langsung pada kisah perjalanan pulang. Ternyata eh ternyata bus yang aku tumpangi dr terminal jombor-mgl br terisi 3 orang #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Aku pikir akan lama “ngetem” menunggu penumpang, tp rupanya bus ini berangkat hanya dengan 4 penumpang saja #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Kembali aku duduk paling belakang (entah kenapa lebih suka duduk dibangku belakang),sembari menikmati tenggelamnya matahari di #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Lalu kondektur bus mulai menarik ongkos, utk memastikan aku bertanya tarif dr jogja-mgl, pak kondektur menjawab ramah “12rb” #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Aku benar2 tak menyangka, ternyata bus yg aku tumpangi saat berangkat telah menipuku. Jadi kesel deh, kok yah beda gitu tarif #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Lalu akupun mulai mengingat kembali PO apa yg aku naiki, krn dulu sempat jg begitu tarifnya seenaknya sendiri #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Yah PO itu,bukan ramayana, bukan sumber waras,bukan mustika, bukan tri sakti,apalagi nusantara (patas ac) -> kok jadi ngelist #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Yah sudahlah, tak perlu dipikirkan lagi?? Tapi yg bikin heran knp kok bisa2nya pake tarif yg beda, maksa lagi? #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ah, pokoknya diingat saja jangan sampai naik bus itu lagi karena sdh 2x ini kena tipu2 kondektur. Yg naikin tarif seenaknya #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ohya ya, ternyata dari 4 penumpang bus ini yg tersisa dr muntilan-mgl hanya daku seorang. Berasa nyarter bus sendirian #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Berdasarkan curi2 dengar dr percakapan kondektur di telpon dgn kondektur bus yg lain ternyata jmlh penumpang dibawah 10 orang #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ah, tentu saja saat ini orang akan lebih nyaman berkendara sendiri lebih irit ongkos dan efisien waktu,tdk bnyk berhenti spt #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Lanjut ke kejadian berikutnya yg membuatku kesel sampai keubun2.Sampai diterminal mgl, ternyata aku tertinggal bus ke secang #angkutanumun — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Otomatis harus menunggu antrian bus berikutnya.Sampai di depan bus antrian berikutnya, dan kondektur menawariku untuk naik bus #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Saat aku bilang mau turun secang,tiba2 kondektur itu menahanku tdk naik bus itu dan memintaku keluar terminal utk mencari #angkutanumum lain — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ya Robb,saat itu aku betul2 kesal.Aku betul2 bingung dengan kelakuan kondektur bus itu?Kok bisa2nya penumpang ditolak naik #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Sebetulnya aku sdh sering mengalami kejadian ini,memang sering diterminal bus #kotamagelang sering menolak penumpang ke secang #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Alasan sebenarnya aku tak tahu, mungkin krn jarak tempuh yg pendek tp logikanya terminal secang itu pemberhentian selanjutnya #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Jadi bus tidak akan sembarangan menurukan penumpang disepanjang jln. Agak sedikit berbeda kalau turun di payaman atau yg lain #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Biasa bus2 yang “pilih2” penumpang adalah jurusan temanggung-wonosobo/sukorejo. Kalau jurusan semarang biasanya tdk masalah #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Tapi akan lebih efisien waktu perjalanan naik yg jurusan ke wonosobo/sukerejo krn “ngetem”nya tidak terlalu lama #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Walaupun kondektur bus menolak menaikan tapi aku dgn cuek dan pedenya tetap naik bus itu.Itu dulu.Tp hari kemarin, tak sanggup #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Aku tak sanggup untuk naik bus itu. Hari kemarin aku betul2 pada puncaknya kesal, marah, dan ah sampai menangis kesal bertanya #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Kenapa perlakuan kondektur pada penumpangnya seperti itu? Andai saja punya kendaraan sendiri pastinya tdk ada kejadian ini #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Andai saja ada yg bs menjemput pasti tdk akan diperlakukan seperti ini. Lalu apakah mereka tdk berpikir? #angkutanunum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Andai sj perlakuan ini terjadi pd istri/anak mereka? Ah,kuhapus kata2 “andai”,toh semua sdh terjadi dan mrk tdk brpikir kesana #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Pastinya mereka sdh memberikan fasilitas terbaik utk istri/anaknya dg motor atau jaminan aman utk tdk ditolak naik bus #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Stelah setengah jam,merenung kenapa begitu kerasnya dunia terminal?sembari ditemani lalu lalang bus antar kota antar propinsi #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Mencoba kembali meneguhkan hati untuk berpikir positif dengan keadaan, dan juga menenangkan diri. Akhirnya bus itu berangkat #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Dan tiba2 kondektur bus menawariku untuk naik ke busnya memperkenankan turun di terminal secang. Lega tapi juga kesal #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Seiring perjalanan msh jg terpikir knp mrk memperlakukan penumpang spt itu? Tak berpikirkah mrk, tnp kami kalian tak makan #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Nasib kalian mungkin akan sama dengan para sopir angkutan kota, yang setiap waktu mengeluh karena tak ada penumpang #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Lalu merenung dan bertanya, apakah ini efek dari pemerintahan sekarang? Tiba2 teringat pembicaraan pakde2 saat lebaran kemarin #angkutanumun — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Kondektur menarik ongkos, uang sdh kusiapkan, 4rb.Kuulurkan kpd kondektur,dan kondektur bilang kurang 1rb. Lagi2 aku bertanya #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Biasanya 4rb”. Kondektur sptnya kesal, tetap memaksa.Akupun bertambah kesal, rasa puas dijogja td musnah sdh gara2 perlakuan #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Drpd aku berantem sama kondektur lebih baik menenangkan diri dan kuberi tambahan 1rb.Lalu kudengar bisik2 dr penumpang sebelah #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ternyata keluhannya sama dgnku, tarifnya dinaikkan seenaknya sendiri.Ya Robb, ada apa ini sebenarnya?Kenapa mrk melakukan itu? #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Apakah ini benar2 akibat dari sulitnya ekonomi saat ini?Ah pikiranku jauh melayang kesana, akibat kenaikan BBM,rupiah melemah, #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Yah spt perbincangan dgn pakde2 kmrn lebaran.Rakyat kecil sdh menderita, mrk yg tak punya kendaraan pribadi pastinya akan naik #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Tapi kendaraan umum sekarang seenaknya dinaikkan tarifnya olrh kondektur tak bertanggung jawab, maka makin beratlah beban ini #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Mungkin bagi masyarakat menengah ytk mengurangi pengeluaran transport akan lebih efisien dgn sepeda motor (walau hrs kredit) #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ditinggalkanlah #angkutanumum, maka nelangsalah nasib sopir/kondektur #angkutanumum ini, garus bersaing dengan kendaraan pribadi. — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Setoran yg tak seberapa, apalagi utk penghasilan. Bahkan ada pula yg harus “nombok” untuk setoran. #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Itu sj dulu curhatan malam ini tentang #angkutanumum. Besar harapan dr aku pribadi sbg pengguna #angkutanumum utk mndpt fasilitas yg baik — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Fasilitas berupa pelayanan ramah dr kru (sopir/kondektur), dan juga masalah tarif yg sering sekali berasa tertipu oleh oknum #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Karena bisa jadi dgn pelayanan rak ramah, masalah tarif yg tdk seragam akan membuat orang semakin enggan menggunakan #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Semoga ada yg baca tulisan ini terutama pihak2 yg bersangkutan. Sopir, kondektur, pemilik/perusahaan,organda atau pemerintah #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Mungkin karena sdh terlalu malam jd tdk ada yg merespon, tp skr aku cukup lega bisa share tentang #angkutanumum yg sdh lama ingin kutuliskan.

Ah siap2 besok pagi, sdh bertemu lagi dengan anak2 di sekolah dan juga akan menikmati perjalanan bersama #angkutanumum. Good night 😪

Tulisan tengah malam di twitter 26 Juli 2015

Sebait Kata Itu

image

Ku baca satu persatu lembaran kertas yang berkisah. Berpikir kembali aku dibuatnya oleh kata-kata yang ia tulis. Sejujurnya tak ada yang istimewa dari kata-kata itu. namun entah mengapa tiba-tiba sebait demi sebait kata yang ku baca membuatku terbang melayang, serasa menuju nirwana. Sekali lagi, sesore ini ditemani buaian angin yang berhembus pelan, bait – bait itu ku baca.

21 Februari 2000
Dear Rasya

Hari semakin cerah, setelah seharian kampung diguyur hujan. Dan betapa dinginnya sore ini, sehingga rasa enggan untuk keluar rumah bersarang di benakku. Tapi aku ingat bahwa hari ini aku harus menyampaikan sesuatu kepadamu.

Aku terus bertanya pada diriku, apa yang sebenarnya terjadi denganmu malam itu. Engkau tiba-tiba marah, tanpa aku tahu apa salahku. Hingga satu pekan berlalu, tak juga kau sapa aku dan aku terus saja bertanya. Tak tahu aku harus bertanya kepada siapa, tentang masalahmu itu. Namun kemarin, salah satu sahabat kita, Ira, mengatakan bahwa kau marah karena sikapku yang tak tak mau jujur padamu.

Mungkin, sudah saatnya aku memang harus berkata jujur kepadamu tentangku dan juga tentang perasaanku. Tapi entah mengapa rasa berat itu selalu muncul ketika aku ingin mengatakan semuanya kepadamu.

Maaf jika saat itu bahkan sampai detik ini aku tak bisa jujur padamu. Tapi dengan tulisan kecil ini, semoga bisa membuka kejujuran yang selama ini aku simpan. 

Jujur aku sedang menyukai seseorang, dia gadis yang baik, lincah, menyenangkan dan yang pasti membuatku berdesir setiap melihatnya. Namun ketika aku ingin mengatakan rasa sukaku itu, aku selalu tak bisa. Dan akhirnya ku coba untuk menuliskannya dalam sebuah bait ini :

“Sembilu angin terus berdesir
Membuat anganku melampaui jalanku
Terus kuterbuai dalam lamunan panjang
Dan tiba-tiba muncul engkau yang tak sengaja ku pandang
Mungkinkah ini suatu pertanda?
Aku masih juga tak sanggup untuk percaya
Bahwa anganku terus melaju mencarimu
Wahai engkau sang pujaanku, bisakah kau hadir dalam jalan nyataku?
Sebab jika hanya bersarang di khayalku saja maka tak berguna ku sebagai insan di dunia”

Rasya, bagaimana menurutmu kata-kata itu? Apakah kata-kata itu pantas tuk aku ucapkan pada seseorang itu?
Aku minta maaf sebelumnya, sejujurnya inilah yang ingin ku katakan kepadamu waktu itu. Semoga kau tak marah lagi kepadaku, aku hanya ingin kau membantuku menyampaikan bait ini kepadanya.
Sekarang kau sudah tahukan? Aku harap kau tak marah lagi, dan aku meminta tolong untuk menyampaikan bait ini kepadanya, Ira. Sudilah kiranya kau membantuku wahai sahabat.

Salam sahabatmu
Dendi

Sebait, yah hanya sebait itu yang membuatku seakan terjebak pada perasaanku sendiri. Ternyata pria itu berharap bukan kepadaku tapi pada gadis lain, Ira. Yah, tak bisa ku sembunyikan lagi, perasaan ini. Kini ku sadari bait-bait itu sudah tak bersisa maknanya untukku, dan kini aku harus berdiri sendiri menuju anganku yang lain.

Ah itu semua sudah berlalu sekian lama, tapi entah mengapa setiap kali ku baca dan ku baca lagi, serasa bait itu tertuju kepadaku. Mungkin itu hanya perasaanku saja, karena ku yakin dia sudah bahagia dengannya, Ira.

Semilir angin sesore ini masih terus membawaku pada angan, yang tak akan mungkin tersampaikan. Namun aku tetap bahagia bersama bait yang tertulis untukku.

Memori, 21 Februari 2015
Aku yang masih berharap
Rasya