Ketemu Jodoh

Ehm lagi pengen ngomong serius tapi tetep santai. Hehehe… umur-umur segini lagi sensitif dengan hal hal yang berbau nikah. Apalagi abis lebaran ini, undangan sudah menanti banyak. Hohoho… kalau udah gitu pasti deh langsung ditembak, “ditunggu undangannya er”, weladalah… tak undang rapat wae po piye? Hahaha…diundang rapat wae kadang yo ra teko. Eh malah curhat. Emang lagi mau curhat. 

Ckckck… sebenarnya nih tulisan udah nangkring hampir satu tahun yang lalu, tapi baru bisa edit sana edit sini dan share malam ini. I dont know why? Kenapa harus segera share tulisan ini. Ah ya sudahlah, pokoke tak share wae. Tapi ada satu yang bikin galau saat mau ngeshare ini, judulnya apa yah?? Ternyata ngasih judul tuh susah yah? Wis lah teko tak kasih judul “ketemu jodoh”, biar lebih dramatis eh nggak ding tapi biar lebih menarik buat dibaca. Tapi yakin wis, antara judul ma isinya beda. Hehehe… tipu tipu ala artikel or berita online. 😁

Cuuss ajah yah. Yuk marie… 

Yang namanya jodoh itu pastinya tidak ada yang tahu. Pun demikian dengan diri kita sendiri. Sesuka – sukanya kita dengan si dia pun demikian dianya juga suka pada kita, namun jika Allah tak menakdirkan berjodoh, yah sudah usaha apapun tak akan bisa lolos. Dan jika kita tak pernah menganggap dia bakal jadi jodoh kita, eh tiba-tiba saja Allah menjodohkan kita maka jadilah si dia berjodoh dengan kita. Hmm… berat memang pembicaraan kali ini, bukan lantaran galau kok gak laku-laku, tapi sebenarnya menulis ini karena sedang bercermin apakah aku sudah pantas untuk menikah?

Yaelah er… udah berapa tahun sih lo hidup didunia ini? Masih nanya sudah pantas atau belum?

Menikah bukanlah perkara usia, itu apologiku. Tapi perkara kesiapan dalam pribadi untuk bisa berbagi peran dalam kehidupan berumah tangga. Peran yang mungkin sangat jauh dari peran kita selama masih jomblo. Nah, kerelaan untuk berbagi peran, bersama melangkah menuju visi dan misi hidup berumahtangga, bersama menyelesaikan persoalan baik pribadi (suami-istri), keluarga, tetangga, masyarakat, tempat kerja, kawan lama, sahabat baru, dsb adalah sebagian kecil yang harus diikatkan dalam komitmen bersama. Yah, KOMITMEN, dalam berumah tangga bukan hanya sekedar rasa “cinta” yang tumbuh diantara pasangan tapi lebih pada komitmen. Sejauh mana komitmen masing-masing pasangan terhadap pasangannya. Tak cukup hanya sekedar menerima kekurangan dan kelebihan, menutup kekurangannya dengan penerimaan kita. Memang kata-kata itu cukup untuk memberikan kelegaan bagi sipasangan, namun what next, lalu apa yang harus dilakukan dengan itu semua. Apakah hanya sekedar aku terima kamu apa adanya. (Titik)?? Rasa-rasanya jika kita hidup dengan prinsip yang demikian, yang terjadi adalah penerimaan yang tak produktif, ibarat kata, sudah tahu kita tak punya uang untuk makan, lalu apakah kita akan menunggu terus makanan itu jatuh dari langit. Tentunya tidak demikian, kita harus berusaha setelah tahu kekurangan dari pasangan kita bagaimana kita membuat kekurangan itu tidak berlarut-larut bahkan menjadi habbit (kebiasaan) yang mungkin bisa menjadi perusak komitmen dalam pernikahan. Alangkah baiknya jika demikian ada usaha, untuk bisa bersama-sama memperbaiki, saling support, saling membantu sehingga rumah tangga ini menjadi lebih produktif.

Aku pernah ikut beberapa kali dauroh/kajian pra nikah, dari beberapa hal yang aku garis bawahi adalah bagaimana pernikahan tidak menjadikan kita malah menurun dalam produktifitas. Baik itu dalam konteks dakwah ataupun personal. Misal, setelah menikah justru banyak ikhwah yang jarang datang liqo, banyak suami-suami yang tidak bisa pergi mukhoyam gegara sang istri merasa keberatan ditinggal beberapa hari, istri yang tidak diijinkan untuk mengisi kajian atau bahkan untuk hadir pada agenda dakwah karena harus mengurus suami/anak-anak. Bukankah ini yang dinamakan komitmen? Hmm, mungkin karena aku belum merasakan yang namanya berumah tangga, jadi teori-teori ini aku makan mentah-mentah. Hehehe… tapi kalau aku lihat pada prakteknya ada beberapa contoh rumah tangga yang memang produktif namun ada juga yang tidak produktif. Dan ternyata berdasarkan analisa sepintas sambil lalu, hal ini adalah karena pada proses awal pernikahan yang akan dirancang kedepan.

Nah, bagi mereka yang produktif biasanya proses yang lurus dan biasanya ada campur tangan jamaah akan lebih terjaga, sedangkan yang tidak produktif biasanya proses dari awal yang tidak sepenuhnya dari jamaah. Ah, aku tak membandingkan, tapi hanya analisa sambil lalu.

Eh jadi ngomongin jamaah juga. Intinya sih pada prosesnya saja. Prosesnya dengan baik dan syar’i insyallah berkah. Ada yang bilang kalau gak salah ust. Salim A. Fillah, Allah akan memberikan jodoh kita dengan lembut ketika kita berproses dengan baik, tapi bisa jadi Allah melemparkan jodoh kita karena kita berproses tidak baik. 

Yah,melelahkan sekali menulisnya, mikirnya juga sampai ribuan kali. Karena minim dengan pengalaman, hanya melihat dari kanan kiri, mendengar dari sana sini, membaca dari cerita ini itu. Yah, cuma bisa berdoa juga semoga Allah memberikan yang terbaik. Baik dalam berproses, sampai ketemunya, dan juga menjalani kehidupan setelahnya. Lagi ngehits banget istilah jodoh sesurga. Nah semoga, segera “ketemu sama jodoh sesurga”. Hehehe… 

Tulisan diselesaikan ditemani bisingnya suara “truk molen” yang lagi ngecor jalan depan rumah. Hohoho… pelebaran jalan, bisa berakibat tambah lebar jalannya, tambah ramai kendaraannya, dan semakin “kota” deh kampung ane. Disyukuri saja, dan selamat malam.:mrgreen:

I’m back… 

Jeng jeng…. 

Allloooowwww… 

Wah, senang sekali bisa bertemu kembali di blog ini kawan. Lama nian tak mengeshare apapun di sini, alias dianggurin. Sudah satu tahun ternyata. Hmm… ngapain aja yah? Yah gak ngapa ngapain sih. Kalau sibuk mah, emang dari dulu sok sibuk. Kalau gak punya ide, dari dulu emang selalu kekurangan ide. Pada intinya sih males. Hehehe… gimana sih ngilangin rasa males, terutama nulis di blog? Padahal aktif juga kalau nulis di mini blog seperti fb, twitter, instagram. Hohoho… disono2 itu ane masih aktif. Hah ya sudah lah, dimana saja tempatnya yang penting tetep bisa share hal-hal yang positif dan juga memberikan pesan dan hikmah. Seperti kali ini, hikmahnya adalah??? Ternyata udah satu tahun ane tak tulis apapun diblog ini. Dan ternyata ane adalah korban sosmed kekinian, belum bisa istiqomah menulis di blog.

Sekarang ini sedang mencoba lagi untuk nulis-nulis, share kejadian seru dan lucu, pengalaman unik dan menarik, review buku yang kece-kece dan segudang hikmah lainnya yang masih tersembunyi dibalik ribuan peristiwa. Alah… ngomong opo to iki? Yang penting setelah satu tahun tak update di blog ini akhirnya gue ngeblog lagi kawan… 😁

Angkutan Umum

#angkutan umum

Kemarin adalah hari yg cukup menguras emosi. Dan aku beri judul #angkutanumum, karena berhubungan dengan angkot dan teman2nya.

Seperti biasa untuk menjalani aktivitas keluar kota pastinya moda transportasi yg aku gunakan adalah #angkutanumum

Karena memang tidak memiliki kendaraan pribadi juga karena bln bisa pakai. Jadi satu2nya cara adalah berkendaraan dengan #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Pagi kemarin memang sdh kurencanakan untuk menikmati akhir liburan ke Jogja, selain mengobati kerinduan jg ajang refreshing #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Sepengetahuanku untuk tarif #angkutanumum menjelang lebaran tidak ada kenaikan, karena sdh ada kenaikan sebelum ramadhan lalu — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Jadi sdh ada dlm perhitunganku berapa uang yg aku siapkan untuk membayar #angkutanumum. Rmh-terminal secang 3rb,secang-mgl 4rb,mgl-jgj 12rb — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Biasanya kalau berangkat pagi naik bus langsung dr terminal secang-jogja cukup 15rb. Tp kemarin tiba2 kondektur bus minta 20rb #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Dengan agak kesal karena kondekturnya juga bermuka tak ramah sekaligus maksa, aku protes “lho biasanya 15rb,kok pak” #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Kondekturnya bilang “kalau 15rb dari mgl-jogja”.Berarti logikanya secang-mgl 5rb??? Waduh mahal amat, ini betul2 keterlaluan #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Walaupun sdh aku bilang kalau sdh biasa naik bus dan tarifnya 15rb, kondektur tetap bersikeras tidak memberikan uang kembalian #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ya sudahlah, berdebat panjang nalah emosi dan kesel. Lebih baik diikhlaskan saja, toh juga pergi ke jogja tak setiap hari #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Sesampainya dijogja tak perlu aku ceitakan panjang lebar karena bisa dikatakan cukup puas berjalan2, silaturahim, dan tentunya mbakso diEMHA — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Langsung pada kisah perjalanan pulang. Ternyata eh ternyata bus yang aku tumpangi dr terminal jombor-mgl br terisi 3 orang #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Aku pikir akan lama “ngetem” menunggu penumpang, tp rupanya bus ini berangkat hanya dengan 4 penumpang saja #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Kembali aku duduk paling belakang (entah kenapa lebih suka duduk dibangku belakang),sembari menikmati tenggelamnya matahari di #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Lalu kondektur bus mulai menarik ongkos, utk memastikan aku bertanya tarif dr jogja-mgl, pak kondektur menjawab ramah “12rb” #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Aku benar2 tak menyangka, ternyata bus yg aku tumpangi saat berangkat telah menipuku. Jadi kesel deh, kok yah beda gitu tarif #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Lalu akupun mulai mengingat kembali PO apa yg aku naiki, krn dulu sempat jg begitu tarifnya seenaknya sendiri #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Yah PO itu,bukan ramayana, bukan sumber waras,bukan mustika, bukan tri sakti,apalagi nusantara (patas ac) -> kok jadi ngelist #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Yah sudahlah, tak perlu dipikirkan lagi?? Tapi yg bikin heran knp kok bisa2nya pake tarif yg beda, maksa lagi? #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ah, pokoknya diingat saja jangan sampai naik bus itu lagi karena sdh 2x ini kena tipu2 kondektur. Yg naikin tarif seenaknya #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ohya ya, ternyata dari 4 penumpang bus ini yg tersisa dr muntilan-mgl hanya daku seorang. Berasa nyarter bus sendirian #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Berdasarkan curi2 dengar dr percakapan kondektur di telpon dgn kondektur bus yg lain ternyata jmlh penumpang dibawah 10 orang #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ah, tentu saja saat ini orang akan lebih nyaman berkendara sendiri lebih irit ongkos dan efisien waktu,tdk bnyk berhenti spt #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Lanjut ke kejadian berikutnya yg membuatku kesel sampai keubun2.Sampai diterminal mgl, ternyata aku tertinggal bus ke secang #angkutanumun — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Otomatis harus menunggu antrian bus berikutnya.Sampai di depan bus antrian berikutnya, dan kondektur menawariku untuk naik bus #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Saat aku bilang mau turun secang,tiba2 kondektur itu menahanku tdk naik bus itu dan memintaku keluar terminal utk mencari #angkutanumum lain — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ya Robb,saat itu aku betul2 kesal.Aku betul2 bingung dengan kelakuan kondektur bus itu?Kok bisa2nya penumpang ditolak naik #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Sebetulnya aku sdh sering mengalami kejadian ini,memang sering diterminal bus #kotamagelang sering menolak penumpang ke secang #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Alasan sebenarnya aku tak tahu, mungkin krn jarak tempuh yg pendek tp logikanya terminal secang itu pemberhentian selanjutnya #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Jadi bus tidak akan sembarangan menurukan penumpang disepanjang jln. Agak sedikit berbeda kalau turun di payaman atau yg lain #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Biasa bus2 yang “pilih2” penumpang adalah jurusan temanggung-wonosobo/sukorejo. Kalau jurusan semarang biasanya tdk masalah #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Tapi akan lebih efisien waktu perjalanan naik yg jurusan ke wonosobo/sukerejo krn “ngetem”nya tidak terlalu lama #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Walaupun kondektur bus menolak menaikan tapi aku dgn cuek dan pedenya tetap naik bus itu.Itu dulu.Tp hari kemarin, tak sanggup #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Aku tak sanggup untuk naik bus itu. Hari kemarin aku betul2 pada puncaknya kesal, marah, dan ah sampai menangis kesal bertanya #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Kenapa perlakuan kondektur pada penumpangnya seperti itu? Andai saja punya kendaraan sendiri pastinya tdk ada kejadian ini #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Andai saja ada yg bs menjemput pasti tdk akan diperlakukan seperti ini. Lalu apakah mereka tdk berpikir? #angkutanunum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Andai sj perlakuan ini terjadi pd istri/anak mereka? Ah,kuhapus kata2 “andai”,toh semua sdh terjadi dan mrk tdk brpikir kesana #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Pastinya mereka sdh memberikan fasilitas terbaik utk istri/anaknya dg motor atau jaminan aman utk tdk ditolak naik bus #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Stelah setengah jam,merenung kenapa begitu kerasnya dunia terminal?sembari ditemani lalu lalang bus antar kota antar propinsi #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Mencoba kembali meneguhkan hati untuk berpikir positif dengan keadaan, dan juga menenangkan diri. Akhirnya bus itu berangkat #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Dan tiba2 kondektur bus menawariku untuk naik ke busnya memperkenankan turun di terminal secang. Lega tapi juga kesal #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Seiring perjalanan msh jg terpikir knp mrk memperlakukan penumpang spt itu? Tak berpikirkah mrk, tnp kami kalian tak makan #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Nasib kalian mungkin akan sama dengan para sopir angkutan kota, yang setiap waktu mengeluh karena tak ada penumpang #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Lalu merenung dan bertanya, apakah ini efek dari pemerintahan sekarang? Tiba2 teringat pembicaraan pakde2 saat lebaran kemarin #angkutanumun — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Kondektur menarik ongkos, uang sdh kusiapkan, 4rb.Kuulurkan kpd kondektur,dan kondektur bilang kurang 1rb. Lagi2 aku bertanya #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Biasanya 4rb”. Kondektur sptnya kesal, tetap memaksa.Akupun bertambah kesal, rasa puas dijogja td musnah sdh gara2 perlakuan #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Drpd aku berantem sama kondektur lebih baik menenangkan diri dan kuberi tambahan 1rb.Lalu kudengar bisik2 dr penumpang sebelah #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ternyata keluhannya sama dgnku, tarifnya dinaikkan seenaknya sendiri.Ya Robb, ada apa ini sebenarnya?Kenapa mrk melakukan itu? #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Apakah ini benar2 akibat dari sulitnya ekonomi saat ini?Ah pikiranku jauh melayang kesana, akibat kenaikan BBM,rupiah melemah, #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Yah spt perbincangan dgn pakde2 kmrn lebaran.Rakyat kecil sdh menderita, mrk yg tak punya kendaraan pribadi pastinya akan naik #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Tapi kendaraan umum sekarang seenaknya dinaikkan tarifnya olrh kondektur tak bertanggung jawab, maka makin beratlah beban ini #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Mungkin bagi masyarakat menengah ytk mengurangi pengeluaran transport akan lebih efisien dgn sepeda motor (walau hrs kredit) #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Ditinggalkanlah #angkutanumum, maka nelangsalah nasib sopir/kondektur #angkutanumum ini, garus bersaing dengan kendaraan pribadi. — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Setoran yg tak seberapa, apalagi utk penghasilan. Bahkan ada pula yg harus “nombok” untuk setoran. #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Itu sj dulu curhatan malam ini tentang #angkutanumum. Besar harapan dr aku pribadi sbg pengguna #angkutanumum utk mndpt fasilitas yg baik — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Fasilitas berupa pelayanan ramah dr kru (sopir/kondektur), dan juga masalah tarif yg sering sekali berasa tertipu oleh oknum #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Karena bisa jadi dgn pelayanan rak ramah, masalah tarif yg tdk seragam akan membuat orang semakin enggan menggunakan #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Semoga ada yg baca tulisan ini terutama pihak2 yg bersangkutan. Sopir, kondektur, pemilik/perusahaan,organda atau pemerintah #angkutanumum — Erli_aaE (@Erli_aaE)

Mungkin karena sdh terlalu malam jd tdk ada yg merespon, tp skr aku cukup lega bisa share tentang #angkutanumum yg sdh lama ingin kutuliskan.

Ah siap2 besok pagi, sdh bertemu lagi dengan anak2 di sekolah dan juga akan menikmati perjalanan bersama #angkutanumum. Good night 😪

Tulisan tengah malam di twitter 26 Juli 2015

Sebait Kata Itu

image

Ku baca satu persatu lembaran kertas yang berkisah. Berpikir kembali aku dibuatnya oleh kata-kata yang ia tulis. Sejujurnya tak ada yang istimewa dari kata-kata itu. namun entah mengapa tiba-tiba sebait demi sebait kata yang ku baca membuatku terbang melayang, serasa menuju nirwana. Sekali lagi, sesore ini ditemani buaian angin yang berhembus pelan, bait – bait itu ku baca.

21 Februari 2000
Dear Rasya

Hari semakin cerah, setelah seharian kampung diguyur hujan. Dan betapa dinginnya sore ini, sehingga rasa enggan untuk keluar rumah bersarang di benakku. Tapi aku ingat bahwa hari ini aku harus menyampaikan sesuatu kepadamu.

Aku terus bertanya pada diriku, apa yang sebenarnya terjadi denganmu malam itu. Engkau tiba-tiba marah, tanpa aku tahu apa salahku. Hingga satu pekan berlalu, tak juga kau sapa aku dan aku terus saja bertanya. Tak tahu aku harus bertanya kepada siapa, tentang masalahmu itu. Namun kemarin, salah satu sahabat kita, Ira, mengatakan bahwa kau marah karena sikapku yang tak tak mau jujur padamu.

Mungkin, sudah saatnya aku memang harus berkata jujur kepadamu tentangku dan juga tentang perasaanku. Tapi entah mengapa rasa berat itu selalu muncul ketika aku ingin mengatakan semuanya kepadamu.

Maaf jika saat itu bahkan sampai detik ini aku tak bisa jujur padamu. Tapi dengan tulisan kecil ini, semoga bisa membuka kejujuran yang selama ini aku simpan. 

Jujur aku sedang menyukai seseorang, dia gadis yang baik, lincah, menyenangkan dan yang pasti membuatku berdesir setiap melihatnya. Namun ketika aku ingin mengatakan rasa sukaku itu, aku selalu tak bisa. Dan akhirnya ku coba untuk menuliskannya dalam sebuah bait ini :

“Sembilu angin terus berdesir
Membuat anganku melampaui jalanku
Terus kuterbuai dalam lamunan panjang
Dan tiba-tiba muncul engkau yang tak sengaja ku pandang
Mungkinkah ini suatu pertanda?
Aku masih juga tak sanggup untuk percaya
Bahwa anganku terus melaju mencarimu
Wahai engkau sang pujaanku, bisakah kau hadir dalam jalan nyataku?
Sebab jika hanya bersarang di khayalku saja maka tak berguna ku sebagai insan di dunia”

Rasya, bagaimana menurutmu kata-kata itu? Apakah kata-kata itu pantas tuk aku ucapkan pada seseorang itu?
Aku minta maaf sebelumnya, sejujurnya inilah yang ingin ku katakan kepadamu waktu itu. Semoga kau tak marah lagi kepadaku, aku hanya ingin kau membantuku menyampaikan bait ini kepadanya.
Sekarang kau sudah tahukan? Aku harap kau tak marah lagi, dan aku meminta tolong untuk menyampaikan bait ini kepadanya, Ira. Sudilah kiranya kau membantuku wahai sahabat.

Salam sahabatmu
Dendi

Sebait, yah hanya sebait itu yang membuatku seakan terjebak pada perasaanku sendiri. Ternyata pria itu berharap bukan kepadaku tapi pada gadis lain, Ira. Yah, tak bisa ku sembunyikan lagi, perasaan ini. Kini ku sadari bait-bait itu sudah tak bersisa maknanya untukku, dan kini aku harus berdiri sendiri menuju anganku yang lain.

Ah itu semua sudah berlalu sekian lama, tapi entah mengapa setiap kali ku baca dan ku baca lagi, serasa bait itu tertuju kepadaku. Mungkin itu hanya perasaanku saja, karena ku yakin dia sudah bahagia dengannya, Ira.

Semilir angin sesore ini masih terus membawaku pada angan, yang tak akan mungkin tersampaikan. Namun aku tetap bahagia bersama bait yang tertulis untukku.

Memori, 21 Februari 2015
Aku yang masih berharap
Rasya

Pesantren Impian

preorder-pesantren-impian
Well, saatnya review satu buku lagi dari Asma Nadia yang berjudul Pesantren Impian. Novel yang ku selesaikan hanya 3 jam ini cukup menghibur diantara kepenatan dan itngkat kelelahan bekerja selama beberapa waktu terakhir. Bagaimana tidak, dalam satu minggu mengajar sampai 46 jam. Hoah…. dari jam 7 sampai jam 3 sore non stop (lebay), tapi akhirnya karena yang cuti-cuti sudah kembali berkuranglah jam mengajarku, dan sekarang sudah bisa sedikit santai meregangkan otot-otot dan menjalankan aktivitasku secara normal. Maaf ye malah curhat, okey kita mulai saja review novel ini.

Berkisah tentang 15 siswi Pesantren Impian, yang sengaja diundang secara khusus belajar ilmu dien di pesantren ini. Tempat yang sangat jauh dari hiruk pikuk kota besar yang ternyata tak ada di dalam peta. kelima belas siswi pilihan ini adalah siswi yang mempunyai latar belakang permasalahan berbeda-beda. Mulai dari seorang gadis yang menjadi korban pemerkosaan, gadis pencuri, gadis pembunuh, gadis penipu, gadis pemakai narkoba dan lain-lain. Mereka sengaja dipilih oleh relawan Pesantren Impian yang juga alumni dari pesantren ini.

Para gadis ini belajar meninggalkan segala macam permasalahan yang selama ini ada di kehidupan mereka sebelumnya. Mereka diajari banyak hal di tempat ini, memperbaiki sholat-sholat mereka, belajar membaca Al Quran, kegiatan keterampilan sampai kegiatan fisik. Selama beberapa waktu mereka mulai menikmati kehidupan di pesantren. Tetapi di akhir tahun mereka belajar di pesantren ini, mulai banyak permasalahan muncul yang ternyata menguraikan segala rahasia-rahasia diantara mereka.

Si Gadis pembunuh yang selama ini di buru oleh si polisi yang juga berada dalam rombongan ini terus menghantui kehidupan mereka beberapa waktu terakhir menjelang selesainya masa pendidikan. Teungku Budiman sang pemilik pesantren yang sangat cemas dengan keadaan pesantren karena mulai diganggu oleh orang-orang luar yang meneror para siswi pesantren.

Lalu bagaimana dengan nasib para gadis-gadis ini setelah teror-teror yang mengganggu mereka, dan apakah si Gadis pembunuh itu akan tertangkap oleh si polisi, lalu bagaimana dengan Teungku Budiman yang sangat misterius dan bagaimana dengan keadaan Pesantren Impian ini?

Seru, itu jawabku. Biasanya aku bisa nebak-nebak apa siapa atau bagaimana ending cerita dari novel yang sering ku baca. Tapi kali ini tidak. Hehehe… tidak menyangka Asma Nadia begitu jeli menyembunyikan si Gadis pembunuh itu sebagai tokoh utama dalam novel ini. Sangat halus dan tidak terlihat. Dan di halaman terakhirlah semua jawaban itu tersembunyi. Tidak mau banyak berkomentar, hanya ingin menyampaikan, novel ini keren, dan bisa menjadi obat penghilang stres. Hehehe…

Surga yang tak Dirindukan

preorder-surga-yang-tak-dirindukan
Novel ini adalah salah satu novel dewasa dari Asma Nadia. Dewasa di sini maksudnya novel kelas orang-orang yang sudah menikah. Hehehe… ceritanya tentang kehidupan pernikahan, mirip-mirip ma CHSI. Oke mari sedikit review novel yang selama 2 minggu lebih menyelesaikannya. Maklum kurang pas untukku yang masih jomblo.

Ini kisah tentang Arini, seorang ibu rumah tangga yang bahagia bersama suami dan ketiga anaknya. Kebahagiaan itu tampak dari kehidupan sebelum Arini berumah tangga. Dulunya dia seorang gadis yang aktif dan ceria. Seorang gadis penyuka dongeng dan menganggap bahwa hidupnya mirip dengan kisah-kisah dalam dongeng. Arini menikah dengan pria yang ternyata adalah seorang dari masa lalunya, layaknya cerita dongeng sang putri dan pangeran. Kehadiran ketiga putra putrinya menambah kebahagiaan dalam keluarga ini.

Arini yang seorang penulis, mempunyai banyak sahabat dan rekan dipercaya untuk menjadi tempat untuk menumpahkan segala permasalahan-permasalahan rumah tangga mereka. Permasalahan yang ternyata sangat sulit bagi seorang wanita, istri dan juga seorang ibu. Mulai dari perselingkuhan sang suami, permasalahan ekonomi keluarga, ketidakharmonisan rumah tangga yang mengharuskan mereka membuat keputusan yang berat. Perceraian. Ini yang menjadi catatan bagi Arini, yang sering dia tuliskan dalam berbagai macam tulisannya.

Namun di ujung kisah, Arini menemui hal yang tidak jauh berbeda dengan kawan-kawannya. Pria yang selama ini disanjungnya, dijadikan pangeran dalam dongengnya, yang akan setia sampai maut memisahkan ternyata memiliki seorang wanita lain dalam kehidupannya. Arini yang berharap adalah menjadi syurga terindah suaminya, ternyata tak berbanding lurus dengan kenyataan yang ada. Ada syurga lain yang telah memenuhi hidup sang suami.

Nah, apakah Arini bisa menyelesaikan permasalahan yang tengah dihadapinya? Sanggupkah dia menerima syurga lain suaminya?

Yah, begitulah sekelumit cerita tentang novel ini. Endingnya juga sama dengan paragraf yang aku tulis sebelumnya. Sepertinya Asma Nadia memang tidak ingin menyelesaikan begitu saja kisah ini. Kisah tentang poligami yang masih saja dalam perdebatan di kalangan masyarakat umum. Jangan tanya kepada ku tentang poligami, karena nikah aja belum, hehehe. Tapi yang jelas menurut pendapat pribadiku sah-sah saja asal ada komunikasi yang baik antara suami dan istri. tapi kalau diam-diam tentu saja ini akan menimbulkan konflik yang lebih berat. Dan satu lagi, bahwa niat berpoligami itu yang harus diluruskan, serta menyiapkan si istri untuk bisa berpoligami. Iiiih… ngomongin ini berat banget, karena aku sendiri juga tidak tahu, jadi aku rasa stop pembahasan ini di sini.

Anak Buangan

Huhuhu… membaca judulnya aja udah ngeri merinding disko. “Anak buangan” adalah istilah yang cukup popular dikalangan “kami-kami”. Mendengar istilah ini pertama kali, berasa kalau konotasinya sangatlah negatif, betul-betul negatif. Entahlah waktu awal aku mendengarnya memang agak risih, tapi lama-lama menjadi hal yang biasa. Namun hari ini aku tersadar, sesaat aku berdiskusi panas dengan salah seorang rekan kerjaku. Dengan tegas beliau mengatakan tentang si “anak buangan” itu, dan saat itu hatiku tiba-tiba berontak dan mengatakan dengan lantang, mereka bukan “anak buangan”, seperti yang beliau katakan. Cukup itu saja, aku tak memberikan penjelasan atau argumen apapun, karena jika diteruskan sampai magrib bisa-bisa aku gak jadi pulang (lebay…).

Sekarang aku baru menemukan argument yang tepat, untuk tidak menyebutnya sebagai “anak buangan”. Aku lebih suka menyebutnya anak-anak yang belum beruntung atau anak-anak malang, karena keadaan dan kebijakan sang “pengambil keputusan”. Mereka hanyalah korban dari ketidakmampuan sang “pengambil keputusan” dalam mengambil langkah kebijakan yang bijaksana. Mereka bukanlah objek selayaknya robot yang bisa disetir sesuka hati sang pengendailnya, tapi mereka adalah anak-anak yang lemah hatinya dan lemah berpikir karena kodratnya mereka yang masih bersenang-senang dengan apa yang mereka sukai dan yang mereka ingini. Hanya karena kebijakan sang “pengambil keputusan” yang tidak bijaksana menyebabkan anak-anak itu menjadi korban. Mengorbankan dirinya, mengorbankan keinginannya, mengorbankan mimpinya. Hal pertama yang dilakukan adalah mengevaluasi, di mana letak salahnya? Sembari mengurai missing link yang terjadi, sambil terus berpikir bagaimana langkah selanjutnya. Langkah terbaik untuk mereka, agar bisa mengakomodasi hasrat dan keinginan dalam wadah yang tepat.

Hal ini yang akan menjadi PR terberat selama satu tahun ke depan, menyembuhkan korban-korban itu dengan kreativitas sang “penunjuk jalan” yang akan membawa mereka ke jalan yang terbaik. Dan semoga mereka bisa menemukan harta karun terhebat di tempat anak-anak malang ini berlabuh sementara.
Dan kini aku, sang “pengambil keputusan” ini bukan hanya merasa bersalah dan berdosa tapi juga harus meminta maaf dan meminta mereka untuk bersabar sampai satu tahun ini berjalan. Dan aku berharap agar mereka benar-benar bisa menemukan harta karun di tempat itu suatu hari nanti.

STOP MENYEBUT MEREKA ANAK BUANGAN!!!