Ramadhanku (episode 3)

Episode tiga ini akan aku ceritakan tentang 10 hari kedua di bulan Ramadhan. Lima hari pertama masih kulalui di kampung halaman, masih dengan “pekerjaanku” yang insyaallah akan berakhir minggu ini. Aku sangat bersyukur karena selesai tepat waktu (alhamdulillah, terima kasih ya Allah) Kau berikan banyak hikmah selama satu bulan ini. Selain itu sebenarnya mau langsung ke Jogja karena aku harus ada agenda pekanan, tapi hari ahad pagi tepat sebelum ke berengkatan ke jogja ada kabar bahwa saudaraku ada yang meninggal. Terpaksa aku gagalkan karena harus menunggu rumah, sedangkan ibuku pergi melayat. Hmm tidak lama ibuku kembali, ternyata ada kabar lagi tetangga ada yang meninggal. Ya mesti nunggu rumah lagi (padahal tu rumah juga gak bakal kabur kalo ditinggal). Yah, tapi saatnya untuk berbakti ma ortu, setelah dapet kajian tentang birrul walidain minggu yang lalu (alasan…!!!). Terpaksa kutunda keberangkatan ke Jogja. Hari senin paginya rupanya ada yang berat dan mengganjal hati. Entah kenapa, rasanya kok berat mau balik ke Jogja, dan kuputuskan besok selasa pagi saja ku berangkat ke Jogja. Lalu kucoba untuk mengisi hari ini dengan pekerjaan rumah tangga (sedang ingin berbirrul walidain). Rupanya Allah sedang ingin menunjukkan sesuatu. Esok harinya di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini, aku kehilangan seorang yang kusayangi. Beliau adalah bulikku, seperti yang kuceritakan di Ramadhanku episode satu. Ya… begitu sangat kehilangan. Tapi Allahlah yang lebih tahu tentang diri kita dan kita hanya ikut atas apa yang dikehendakiNya. Seperti dalam status facebookku “Ketika kematian itu hadir dalam setiap detik kita, mampukah kita menghindar takdir ini? Allahlah yang menentukan hidup kita dan juga mati kita. Saatnya untuk berbenah diri, saatnya untuk mengingat kembali apa-apa yang telah kita lakukan di masa lalu. Sambut hari baru untuk keabadian yang telah dijanjikannNya. Semoga Ramadhan kita kali ini benar-benar membawa kita pada hidayah yang Allah sediakan”.

Ya begitu dekatnya kita pada kematian. Entah esok, lusa, tahun depan atau bahkan satu jam yang akan datang, hanya Allah yang tahu.

Di 10 hari yang kedua ini, Allah memberikan ampunan sebanyak-banyaknya bagi kita yang ikhlas dan meniatkan permohonan maaf atas segala kesalahan yang dilakukan di masa lampau, kapan lagi hari istimewa ini datang? Hanya satu tahun sekali. Maksimalkan, karena kematian begitu dengan kita, tak ada seujung jengkal. “Kematian itu pasti, sedangkan hidup itu belum pasti” Maksimalkan Ramadhan kita kali ini, mohonlah ampun kepada yang menciptakan kita, karena belum tentu Ramadhan depan kita akan menjumpainya.

2 September 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s