Ramadhanku (episode 4)

Episode puncak, episode klimaks yang pernah kulalui, sangat berbeda dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya. Mengikhlaskan segala apa yang telah Dia berikan kepada kita di 10 hari terakhir, dan memaksimalkan usaha kita untuk meraih segala apa yang Dia berikan untuk kita. Allah telah menjanjikan kita untuk dijauhkan dari api neraka, dan juga memperoleh kesempatan untuk beribadah selama 1000 bulan dalam satu malam. Hanya orang-orang berutung yang akan mendapatkan keistimewaan ini. Kita hanya bisa berusaha, Allahlah yang menentukan. Termasuk juga hidayah, kita harus mengusahkan supaya Allah juga memberikan kepada kita.

Berduyun-duyun orang datangi masjid-masjid penjuru kampung. Berdiam, bertafakur, berdzikir mengingat sang Khalik, atas segala kenikmatan yang telah Dia berikan kepada kita di dunia ini. Sungguh luar biasa ramainya masjid-masjid itu. Sungguh ingin kukatakan bahwa aku rindu, benar-benar sangat rindu. Tapi jelas sangat disayangkan karena target 10 hari itu tak terlakasana dengan maksimal dengan hanya satu kali niat i’tikaf. Masih bolong-bolong, atau bahasanya Dimas (salah seoarang teman laskar) “i’tikaf kalong”. I’tikaf hanya di malam hari saja, sampai masjid magrib dan kembali ke rumah ba’da subuh. Bagi orang-orang yang mempunyai kesibukan yang tinggi di siang hari seperti itu memang wajar dilakukan. Tapi Allah akan tetap mencatat amal-amal ini. Semoga Lailatul Qodar dapat diraih. Lalu bagaimana denganku?? Ya seperti diawal, target belum tercapai masih asyik dengan kesibukan duniawi (payah dah…)

Masih banyak yang harus dievaluasi Ramadhan kali ini, walaupun beberapa target telah terpenuhi. Tapi masih banyak target yang belum terpenuhi. Semoga Allah mengijinkanku untuk memperbaikinya.

Di akhir Ramadhan kali ini, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. H-2 adalah salah satu hari yang sibuk khususnya bagi para pengguna jalan raya. Jalan raya pasti ramai oleh kendaraan dengan segala macam bawaannya, kereta penuh sesak manusia, pesawat sibuk beterbangan di udara, bus-bus besar penuhi jalan, kapal-kapal hilir mudik di lautan, dan ribuan sepeda motor menyesaki ruas jalan yang kian sempit. Subhanallah ritual yang sangat indah luar biasa. Kemacetan yang memuakkan turut hadir di akhir Ramadhan ini. Sampai-samapi ratusan orang menjadi korban. Semuanya mempunya satu tujuan kempabli ke kampung halaman.

Sama juga denganku H-2 saatnya pulang kampung. Walaupun tiap minggu mudik, namun suasana jalan agak sedikit berbeda dengan mudik-mudik mingguanku. Siang itu hujan teramat lebat, tapi apa boleh buat harus pulang saat itu juga karena sudah ada janji dengan kawan-kawan semasa SMA, acara buka puasa bersama. Haih.. reuni tahap I. Dan hujanpun kuterjang bersama kawanku dengan sepeda motor (klebus…walaupun sudah memakai mantel). Siang itu rupanya seluruh penjuru kota yang kulewati basah kuyup oleh hujan. Ya, Allah mengadirkan rahmat di hari itu…

Sorenya pun aku dan dua orang kawan SMAku menghadiri acara reuni tahap I. Alhamdulillah hujan sudah reda, sehingga nyaman untuk berkendara kembali, tanpa harus berbasa-basahan (karena naik mobil, jadi gak basah…). Nostalgia sore itu hanya dihadiri 12 orang dari 40 (plus plus…) yang seharusnya hadir. Walaupun hanya segelintir tapi cukup memberikan energi baru dan mengobati rasa kangen dijiwa.

Akhir Ramadhan yang unik dan berbeda disetiap tahunnya. Ku hanya bisa berharap dan berdoa agar Allah senantiasa mengingatkanku atas segala nikmatNya atas segala apa yang Dia berikan. Dan ku terus bersyukur atas apa yang terjadi di Ramadhan tahun ini. Walau kali ini ku akhiri dengan isak tangis penuh sesal atas semua ketidak berdayaanku.

10 Agustus 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s