Mengantuk bersama (sindrom reuni lagi)

Aku akan coba menghadirkan kembali kenangan masa itu. Masa yang penuh dengan keluguan, kepolosan dan kelucuan yang dianggap sebagai kenakalan. Cerita ini adalah cerita saat kelas tiga SMA. Ya… momen yang paling indah justru kudapatkan saat di kelas 3 ini., saat nakal-nakalnya. Seharusnya pada saat ini memikirkan tentang masa depan kami, yaitu kelulusan, yang saat itu pemerintah membuat standar baru kelulusan yaitu dengan nilai terendah 4,01. Namun, ternyata kami masih asyik dengan kebandelan kami. Teringat saat masih duduk di kelas 1 dan 2, aku melihat kakak-kakak kelas tiga adalah anak-anak yang serius, rajin, dan semangat untuk mempersiapkan ujian kelulusan dan juga mempersiapkan untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Jarang sekali melihat keanehan- keanehan mereka. Aku tahu tentang hal ini juga karena mendapatkan cerita dari guru-guru yang mengajar di kelas kami. Mereka membandingkan angkatan kami dengan angkatan-angkatan sebelumnya ataupun juga dengan kelas lain. Mereka sepertinya sudah menyerah untuk mengingatkan kami, menasihati kami, yang masih juga berkelakuan seperti anak-anak. Sepertinya kami tak menyadari empat bulan lagi ujian nasinal akan diselenggarakan.

Cerita pertama yaitu berhubungan dengan wali kelas kami yang bernama ibu Astuti, guru kimia. Namanya juga pelajaran kimia, tentu saja pelajaran yang sedikit menguras tenaga, pikiran dan konsentrasi tinggi lebih dari pelajaran yang lain. Pelajaran yang dua tahun sebelumnya menjadi pelajaran “gak banget”. Tapi saat kelas tiga menjadi pelajaran yang “harus bisa”. Karena banyak faktor terutama faktor guru. Ya biasalah, namanya juga murid gak jauh-jauh deh sama yang namanya guru (hehehe…).

Lupakan sejenak tentang guru kelas 1 dan 2 kami. Akan aku lanjutkan tentang guru kelas kami, yang sangat kami cintai sampai saat ini. Saat itu kimia menjadi pelajaran yang sedikit ringan karena guru kami lebih santai dan sangat memahami kami yang dua tahun sebelumnya begitu tertekan. Walaupun sejujurnya beliaulah yang tertekan karena katanya sih harus mengulang dari kelas 1. Hiks.. sedih juga. Namun itu tak menjadi soal, dengan tekad di hati kami untuk belajar lebih giat dan keikhlasan dari bu Astuti untuk merefresh dan mengulang materi-materi dua tahun sebelumnya, kami terus dan terus berusaha mendapatkan yang terbaik.

Ditengah perjalanan rupanya tak semulus yang kami semua harapkan. Ada noda. Kalo gak ada noda, gak belajar (iklan…). Ndilalahe kalo dalam bahasa Indonesia kebetulan, saat itu pelajaran wali kelas kami pada jam terakhir hari senin. Ya biasalah, jam-jam paling enak dan nyaman untuk istirahat. Kebiasan kami, atau mungkin juga anak sekolah pada umumnya, untuk menghilangkan rasa penat dan capek setelah mengikuti pelajran :

  1. Makan kuaci di dalam kelas (atau makanan yang lain)
  2. Makan permen karet (atau permen yang lain)
  3. Baca komik lucu, horor, petualangan atau serial cantik, bahkan untuk yanng dewasa juga ada. (Kalo yang ini tidak dilakukan soalnya paling gak bisa baca komik…)
  4. Baca novel sastrawan-sastrawan Indonesia yang biasa kupinjam di perpus (kalo ini yang lebih kusuka dari pada baca komik, lebih dapat berimajinasi)
  5. Sms-an menggunakan kertas yang disobek kecil trus dilempar-lempar keteman yang diajak ngobrol. Ni dia paling asyik, kadang bisa ketawa ketiwi sendiri membaca surat singkat dari kawan. (maklum saat itu HP belum dimiliki oleh semua siswa)

Kelima hal diatas adalah obat mujarab menghilangkan rasa kantuk dalam kelas saat pelajaran. Namun hal diatas tidak dapat meningkatkan konsentrasi belajar, yang ada malah asyik mengerjakan kelima hal itu. Asli, kantuk hilang seketika. Tapi kelima hal diatas tidak dianjurakan kepada para siswa ataupun mahasiswa yang tengah mengikuti proses belajar-mengajar. Tips paling baik adalah minta ijin kepada guru/dosen keluar sejenak untuk membasuh muka dan sedikit mengendurkan otot yang kaku dan tegang, dijamin lebih aman dan lebih terhormat. Bila kelima hal diatas tetap saja dilakukan maka akan berakibat fatal:

  1. Laci meja jelas akan sangat kotor oleh kulit kuaci, kalau ketahuan maka kuaci akan disita (sayang kan, kalo kuacinya dimakan sama guru..)
  2. Begitu juga dengan permen karet, mendingan permen biasa aja. Kalo ketahuan bisa langsung ditelan (tapi hati-hati nyangkut ditenggorokan, bisa bahaya..)
  3. Komik bakal disita, dapat point hukuman pelanggaran. Apalagi kalo yang dibawa komik dewasa, bakal berkali-kali lipat deh tu hukumannya. Bisa-bisa orang tua dipanggil. Syerem, bikin malu keluarga aja…
  4. Novel juga bisa disita. Buka pelajaran bahasa Indonesia malah baca karya sastra. Payah tenan (tapi alhamdulillah, belum pernah disita walaupun pernah ketahuan, he…)
  5. Nah kalo yang ini, suratnya bakal dibaca di depan kelas, bakalan malu banget kalo yang diobrolin TOP SECRET. Atau paling gak disuruh keluar kelas atau dapat hukuman yang lain.

Kejadian seperti itu biasanya ketika pelajaran jam-jam terakhir dan biasanya pelajran non eksak. Kalau pas pelajran eksak otomatis mata melek pisan, mesti mikir dan mengerjakan contoh soal yang lumayan bikin puyeng. Namun, kali ini benar-benar aneh. Suasana kelas begitu sangat sunyi dan sepi. Suasana bukan layaknya pelajaran kimia seperti biasa, tetapi layaknya pelajaran sejarah yang sedang didongengkan kisah-kisah kerajaan atau jaman purba. Sunyi senyap, membuat mata tak tahan untuk ditutup, ditambah sepoi angin yang merayap melewati jendela. Tak seperti bisa (sekali lagi…) ku coba untuk tetap membuka mata karena tak mungkin melakukan kelima kebodohan diatas. Sudah sangat jelas tempat dudukku yang selalu depan, bakal ketahuan apabila melakukan hal-hal itu. Lalu kuputuskan untuk menulis apa saja yang ada diotakku, menggambar yang tidak jelas dan masih sedkit memperhatikan materi hari itu. Walau sangat berat.

Begitu sangat aneh suasana saat itu, kucoba untuk melirik kesebelah kanan dan kiri. Rupanya mereka mengalami hal serupa denganku. Kucoba tanyakan kepada meraka dengan menulis dibukuku “ngantuk??”, lalu kugeser agar terlihat oleh temanku. Kawankupun menganggukkan kepala, yang artinya dia merasakan suasana ngantuk luar biasa di siang ini. Berbeda dengan kawan sebangkuku, Dewi namanya, sudah tak tahan mata itu untuk berjaga. Kusenggol-senggol saja dia supaya tetap terjaga. Memang saat itu adalah waktu yang nyaman untuk terlelap. Saat iseng-iseng kulihat bagian belakang kelas, betapa terkejutnya aku. Beberapa diantaranya sudah tak tampak lagi mukanya. Ada yang diatas meja dengan menutup muka/merunduk atau juga dibalik buku yang diberdirikan. Ada juga yang tak dapat menahan kantuk yang luar biasa, “theklak thekluk” (ckckck…). Pantas saja kelas ini begitu sunyi, tanda-tanda kehidupan sirna, menghilang….

Bu Astuti menyadari hal ini, namun beliau masih sabar meneruskan dongeng tentang unsur-unsur kimia dan rumus-rumus yang tak mampu kami serap lagi. Rupanya, kesabaran itu ada batasnya, ha..akhirnya beliau berkata juga “ ya sudah kalau pada gak mau mendengarkan aku keluar saja, diterangke kok malah do turu!!” (kurang lebih seperti itu penyataan beliau). Hag…spontan mata kami terjaga, walau ada beberapa yang masih juga belum sadar.

Kami kebingungan, jam pelajaran belum berakhir masih ada satu jam pelajaran lagi. Bu Astutipun keluar walaupun sudah kami cegah. Kami berjanji untuk mendengarkan, namun pernyataan sikap kami tak beliau hiraukan. Beliaupun berlalu, menghilang di ujung jalan. Sedih… guru kesayangan kami marah dan kecewa karena kelakuan kelas ini. Mereka (para pengantuk) berapologi “do kesiperep ki” (terhipnotis). Lha kok bisa pas pelajran yang begitu dahsyat, sampai-sampai tertidur seperti itu. Walau beberapa dari kami senang bisa pulang lebih awal atau bahkan melanjutkan tidur siangnya. Namun bagi sebagian kami harus cepat tanggap untuk meminta maaf dan meminta beliau mengajar kembali. Ketua kelas kami, Ambar, (namanya sama dengan guru matematika kami) pergi ke ruang guru untuk meminta maaf dan menjemput beliau supaya kembali mengajar. Usahanya belum berhasil hari itu, akhirnya kamipun harus belajar sendiri sampai bel pulang terdengar.

Maafkan kenakalan kami ya bu…kami tahu, engkau begitu sabar dan ikhlas membimbing kami hingga akhirnya menjadi sekarang ini. Momen ini sangat berharga, dan menjadi pelajaran untuk kami. Supaya menghargai orang lain dalam keadaan apapun. Hanya Allah yang mampu membalas apa yang telah kau berikan, ilmu itu akan terus bermanfaat bagi kami. Hiks…

Special thanks to :

Bu Astuti, ibu kami, wali kelas kami, guru kimia kami, we love you mom…
Alumni 3 IPA 3 Smada Begarlist, jadi kangen ma kalian yang gokil abis dan kalian the best friend dah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s