Terlambat point 2 (sindrom reuni…)

Sedih kalo bahas masalah ini, tapi memang menarik untuk diceritakan disini. Entah kenapa dalam sehari bisa saja jadwal yang telah telah disusun rapi ternyata dalam penyelenggaraannya tidak sesuai atau bisa dikatakan tidak pas. TERLAMBAT.

Mungkin sudah mendarah daging atau mungkin juga karena faktor keturunan. Kenapa aku bilang faktor keturunan, karena aku sering melihat ayahku juga begitu. Santai… trus melakukan sesuatu mepet waktu. Hmmm mungkin hal ini bisa diteliti lebih lanjut.

Tiba-tiba keingetan jaman SMA (lagi sindrom reuni nie…) gak keitung lagi deh berapa kali telat masuk kelas (parah banget…). Bisa dikatakan kalo gak telat gak Erli banget. Pernah sautu saat datang agak pagian, sampai sekolah jam 7 kurang. Apa kata teman2??? Kepagian er, tumben datang pagi, masih subuh er, dan kalimat-kalimat lain yang menunjukkan bahwa diri ini sungguh sangat tidak layak untuk datang pagi (hiks…). Yah inilah aku siswa TELADAN…eh TELATAN…(hahaha…).

Bahkan surat peringatan dari BP sudah dua kali datang padaku hehehe…itu surat peringatan karena telat ikut upacara tiap senin pagi. Jangan sampai deh dapet surat peringatan ketiga yang itu artinya orang tua harus datang ke sekolah untuk langsung diperingatkan. Akhirnya aku harus berangkat lebih pagi tiap hari senin.

Ada kebiasaan unik di kelasku waktu itu khususnya pas kelas 3, yaitu siapa yang datang pagi bebas memilih tempat duduk yang dia suka. Namanya juga anak sekolah tentunya bangku pojok belakang merupakan tempat favorit. Nah sudah barang pasti tempat duduk depan apalagi pas depan meja guru, adalah tempat paling angker dan menjemukan, gak asyik dan hanya diperuntukkan siswa-siswa telatan (seperti aku) sebagai hukuman atas keterlambatannya masuk kelas. Sehingga hal ini menjadikanku biasa untuk duduk paling depan dan tepat di depan meja guru. Walaupun tempat itu bukan tempat favoritku, tapi cukup menguntungkan untukku karena tidak akan ada gangguan kepala-kepala yang duduk di depan kita. Sehingga penjelasan guru semakin jelas.

Suatu saat, aku seperti biasa sampai di gerbang sekolah pukul 7 lewat 15 menit, itu artinya gerbang sudah dibuka kembali. Karena gerbang sekolah akan ditutup pada pukul 7.05-7.15 yang artinya kami para siswa bila masuk ke sekolah harus berputar ke gerbang depan yang mewah. Maklum sekolah kami adalah sekolah yang mewah alias mepet sawah (hiihii..) dan disana menunggu dengan setia guru BP dan guru jaga untuk mengabsensi kami yang datang terlambat.

Kalau sudah begitu pastilah butuh waktu untuk berputar dan berlari-lari serta berhadapan langsung dengan guru jaga untuk mempertanggungjawabkan keterlambatanan kami. Secara otomatis akan mendapatkan point hukuman. Tapi bila sudah lebih dari 15 menit maka gerbang belakang (yang menjadi akses utama keluar masuk warga SMA) akan dibuka kembali. Jadi mendingan telat lebih dari jam itu (parah..!!). Karena tak perlu berputar ke gerbang depan, tak perlu bertemu dengan guru BP dan jaga, dan bisa menyelinap dengan mudah untuk masuk ke kelas. Walaupun di bagian satpam kami harus mengisi daftar keterlambatan kami (haha..sama aja…gak ada guru, satpampun jadi…).

Nah lanjut ke cerita keterlambatku kali itu. Masih sedikit teringat kala itu hari selasa pas pelajaran biologi. Agak santai, karena guruya juga santai, gaul dan anak muda banget. Namanya bu Layli asli Jawa Barat. Sunda banget pokoknya. Sering sekali kami kerjai dengan kata-kata bahasa Jawa yang nakal. Hahaha dasar anak muda, indah sekali mengerjai orang tua. Karena santai, maka aku juga santai masuk kelas, setelah mengetuk pintu kelas dan dipersilahkan untuk masuk maka dengan santai pula aku mengutarakan permohonan maaf atas keterlambatanku, dan alhamdulillah masih diijinkan untuk ikut pelajaran pagi itu. Sesaat setelah berbasa basi dengan guru, kuayunkan kaki untuk duduk di tempat yang biasanya, namun ada yang ganjil dengan kelasku hari itu. Tempat duduk paling depan sudah terisi semua. Tidak mungkin, bagaimana bisa??? Pasti ada yang salah, semua anak pun terheran, kok bisa, gak mungkin. Pikirku apakah ada siswa baru di kelas kami, atau ada makhluk lain yang menyerupai salah satu diantara kami, atau ????? pikiranku melayang, sedikit bingung. Kuperhatikan mata-mata kawan juga tengah mencari keganjilan ini, dan ternyata eh ternyata ada bangku kosong pojok belakang, salah seorang anak laki-laki pendiam bernama Edi, duduk sendirian di sana. Kulangkahkan kaki ke tempat duduk itu dengan lega dibersamai riuhnya kelas ini karena kekacauan yang terjadi pagi itu. Tak kusangka, ternyata ada ketidaksigapan kawan-kawan yang lain pagi itu, menjadikan aku sebagai penerima hadiah yang amat menyenangkan.

Bersama satu kawanku ini, dua jam pelajaran kulalui dengan diam, ya agak sungkan dengan salah satu kawanku yang pendiam ini, tak banyak bicara dan benar-benar pendiam. Dari sini aku baru menyadari betapa tersiksanya duduk di paling belakang, apalagi pas pelajaran pertama. Alasan tersiksanya duduk paling belakang, 1) banyak kepala di depan kita yang jelas sangat mengganggu ketika hraus memperhatikan penjelasan guru ataupun tulisan yang ada di panan tulis. 2) Suara guru jelas nyaris tak terdengar dan bias, karena gelombang suara diterima oleh siswa bagian depan, sehiggga bagian belakang samar-samar tinggal sisa. 3) Tulisan di papan tulis jadi buram (dan akhirnya ketahuan kalo mata ini butuh tambahan mata kaca agar bisa lebih jelas melihat). 4) Jadi tidak bisa konsentrasi karena tiga gangguan diatas, sehingga godaan untuk makan di kelas, ngobrol, baca komik/novel, sungguh sangat menggiurkan untuk dilakukan ketika pelajaran. Hahahaha…

Ya begitulah, akhirnya mulai saat itu mau telat, atau datang pagi bangku paling depan adalah bangku yang nyaman ntuk belajar dan bangku paling belakang paling asyik untuk makan kuaci, baca komik/novel, ngobrol dan pas ulangan karena bakal jadi tempat strategis untuk berbuat curang (kalo yang satu ini jangan dilakukan ye…).

Yah gitu deh kalo lagi ngomongin masalah terlambat saat SMA. Pernah juga tidak diijinkan masuk kelas, dan akhirnya nongkrong di perpus sambil baca-baca novel picisan karya sastrawan-sastrawan terkenal yang kusuka. Atau nongkrong di kantin sembari makan tempe goreng, tahu goreng, soto atau sop snerek+ceker ayam khas Magelang. Pernah juga karena agak tidak suka dengan salah seorang guruku (ya…agak gimana gitu…) sengaja telat dan kabur ke perpus sembari mengerjakan PR yang belum diselesaikan di rumah (ya..inilah kenakalan yang tak boleh ditiru, walaupun memang seru….)

Nyesel juga sih sekarang, kenapa dulu tidak bisa berprestasi atau jadi anak yang baik, jadi bisa menorehkan tinta emas untuk almamater. Bukannya tinta merah yang sangat menyiksa. Walaupun itu jadi pengalaman yang seru dan luar biasa menggairahkan karena tak mungkin dilupakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s