Kekalahan yang Indah

Teriakan demi teriakan membuatku semakin menggebu untuk melihat pertandingan final laga AFF leg 2. Kupikir aku tidak bisa menonton
laga penentuan lantaran teman satu kos yang punya TV sedang pulang kampung. Rupanya adzan isya’ yang kemudian membuatku harus turun mengambil air wudhu, menjadikanku tahu bahwa salah satu teman kosku yang punya TV baru saja pulang ke kos tak jadi pulang kampung. Akhirnya jadi bisa nonton juga.

Riuh ramai di kamar salah satu teman kosku itu, teriakan demi teriakan ketika rasa tegang menghampiri saat bola digiring hingga mulut gawang. Keluhan panjang karena setiap detik yang berarti tak juga membuahkan hasil. Sampai akhirnya sebuah gol yang cantik dari lawan menjadikan keluhan bertambah panjang, teriakan semakin keras dan sumpah serapah semakin terdengar kencang. Kekecewaan dan ketidakoptimisan menggelayuti setiap penonton, baik di Senayan ataupun di rumah masing-masin, termasuk di tempatku ini. Perasaan “lega” karena kemungkinan untuk mengungguli poin begitu sangat sulit. Namun rupanya, para pemain tak menyerah begitu saja, ketika penonton sudah mulai kehilangan semangat, hingga sebuah gol indah dari Timnas membuat semangat itu bergelora kembali. Ah… perjuangan itu rasanya indah betul.

Detik demi detik menit demi menit berlalu, kesempatan-kesempatan emas memasukkan bola ke dalam gawang lawan dari kedua belah pihak menjadikan penonton semakin bergelora dan memacu adrenalin. Gol kedua dari Timnas yang begitu sangat apik di menit-menit akhir rupanya membuat kita semua menjadikan lebih bersemangat, walaupun kemungkinan untuk lebih mengungguli semakin berat. Ah… hingga akhirnya peluit panjang dibunyikan oleh wasit, selesai sudah permainan kali ini. Skor 2-1 untuk Indonesia VS Malaysia, ternyata tak mampu membawa Indonesia memboyong piala AFF untuk tahun ini. Jelas hal ini karena di pertandingan leg 1 yang diselenggarakan di kandang Malaysia, Indonesia digunduli dengan skor 3-0.

Yah, kekalahan ini tetap membuatku bangga. Bangga sebagai anak bangsa Indonesia, bangga sebagai pencinta sepak bola Indonesia. Bukan karena kemenangan yang bertubi-tubi sebelumnya, namun bangga karena dapat melihat dan membersamai dengan doa untuk para pejuang sepak bola. Luar biasa, perjuangan itu tak bisa dihargai hanya dengan satu dua medali ataupun piala, bahkan uang miliaran rupiah, karena perjuangan itu hanya dihargai dengan pahala yang membersamainya, yang dicatat oleh malaikat-malaikatNya. Hasil yang kita dapatkan adalah sesuai dengan apa yang kita kerjakan. Hasil kekalahan ini juga merupakan hasil dari apa yang telah kita ikhtiarkan. Baik dari pemain sebagai eksekutor, manajemen dan juga pemain keduabelas yaitu suporter. Semua bertugas dengan masing-masing fungsinya. Tapi tentunya kita tidak lupa, bahwa ada tangan utama yang menjadikan usaha kita dan ikhtiar kita sesuai dengan yang diharapkan, yaitu Tuhan.

Ingat sebuah ayat Al Quran “apa yang menurut kita baik belum tentu menurut Allah baik, apa yang menurut kita tidak baik belum tentu menurut Allah tidak baik”. Dari ayat ini jelas bahwa semua adalah kuasa Illahi, sebenci-bencinya kita hingga ingin membantai, kalau memang Allah tidak mengendakinya maka semua yang kita harapkan tidak akan terwujudkan. Karena itu, setiap apapun yang kita lakukan lebih bijak dan baiknya jika kita terus bersyukur, termasuk kekalahan kali ini. Entah apa yang akan ditunjukkan oleh Allah, yang pasti begitu banyak hikmah yang dapat kita petik dalam arena pertandingan ini.

Menurutku hikmah yang bisa kita dapatakan yang pertama, dunia sepak bola Indonesia dilirik kembali, setelah sekian lama menjadi bulan-bulanan karena ketidakbecusan manajemen (PSSI) yang terkadang membuat banyak pihak enggan untuk memperhatikan bahkan menikmati permainan laga lokal Indonesia. Namun ternyata, dengan prestasi yang sangat mengejutkan diawal babak penyisihan membuat atmosfir cinta Timnas menjadi semakin menggila. Ditambah dengan personality para pemain Timnas yang enak dipandang mata menjadi nilai plus untuk mencintai Timnas Garuda. Kedua, semangat nasionalisme dan kebersamaan untuk mendukung Timnas yang entah bagaimana bisa merasuki setiap darah dan helaan nafas masyarakat Indonesia. Bukan hanya suporter fanatik Timnas dari kalangan biasa tapi juga para politisi, pejabat hingga presiden. Itu semua begitu saja, menjelma menjadi sebuah kekuatan yang begitu dahsyat seperti siap membantai para musuh di medan laga. Kalau saja bisa berandai-andai, jika rakyat Indonesia bersatu padu, bersama para pejabat hingga presiden, dengan semangat yang menggebu memerangi satu musuh yaitu korupsi dan segala macam kejahatan politik pastinya Indonesia akan menjadi negara yang penuh dengan perbaikan dan kebaikan. Yah itu hanya seandainya, namun saat ini sepak bola hanya dijadikan sebagai simbol kekuatan dan kenasionalismean semata. Beberapa waktu yang akan datang akan hilang bersama dengan breaking news-breaking news yang lebih menarik dan aktual. Ah…
Hikmah ketiga yang bisa kita petik adalah, setiap pertandingan pasti ada yang menang dan kalah, tak mungkin semua menang atau semua kalah. Kekalahan yang keempat kalinya dalam final yang telah Indonesia dapatkan, bukalah kekalahan secara mutlak karena masih akan ada kesempatan lain. Kekalahan ini justru semakin membawa banyak hikmah dan pelajaran. Tak hanya dalam teknis permainan ataupun kualitas permainan, namun lebih pada takdir Illahi yang telah mengaturnya. Timnas memang perlu dievaluasi kembali, baik secara teknis ataupun juga manajemen. Bagiamanapun caranya, kekalahan ini akan membawa sebuah pembelajaran positif bagi kita semua. Kekalahan ini bukanlah akhir dari segalanya namun justru harus membangkitkan semangat untuk lebih baik lagi. Ku pikir saat ini masyarakat Indonesia lebih cerdas dalam menghadapi permasalahan-permasalahan seperti ini, kita sudah pernah 3 kali kalah dalam final, tentunya pernah merasakan bagiamana memghadapi kekalahan ini. Kita hanya perlu mengevaluasi dari setiap detail apa yang ada di Timnas baik teknis permainan dan juga manajemen, termasuk juga kita sebagai suporter, yang hanya bisa mensuport para pejuang sepakbola.

Apabila aku berbicara masalah teknis, mungkin bukan kompetensiku, namun paling tidak bisa memberikan masukan yaitu Timnas lebih banyak bermain di kandang lawan, sehingga bisa merasakan atmosfir kandang lawan dan bisa mengantisipasi bagaimana mengahadapi lawan di kandang mereka, sehingga kita tidak hanya disebut sebagai tim jago kandang. Selain itu, mental para pemain juga harus dikontrol dengan baik, karena hal ini sangat berpengaruh juga dengan permainan. Bila berbicara masalah manajemen akan sangat banyak persepsi tentang hal ini, entah masalah politik atau jabatan dan kekuasaan. Sulit untuk ditebak karena hanya bisa ditebak-tebak saja, tanpa bisa diketahui kebenarannya. Namun yang jelas masukan bagi manajemen adalah perbaikan sistem dan personal dalam tubuh manajemen agar kepecayaan dari masyarakat menjadi lebih baik. Sedangkan pihak lain yang juga perlu dievaluasi yaitu suporter, tentunya masih ingat di kepala bagaimana ricuhnya pembelian tiket menonton pertandingan. Hal ini perlu menjadi catatan bagi suporter yaitu kesabaran, kedisiplinan dan kejujuran kita dalam mendapatkan tiket ,dan ini sangat penting. Jangan sampai ulah kita justru akan menjadikan permasalahan baru dan menambah daftar panjang permasalahan dunia persepakbolaan Indonesia. Satu pihak yang juga menjadi pihak yang paling penting yaitu media. Media massa yang begitu sangat antusias memberikan laporan dan juga analisis-analisisnya alangkah lebih baik tidak memberikan espektasi yang berlebihan dari Timnas untuk masyarakat. Media yang akhir-akhir ini begitu gencar menayangkan setiap detail kejadian, menjadikan masyarakat berharap lebih kepada Timnas. Jadi sebaiknya media jangan terlalu berlebihan menayangkan kegiatan-kegiatan Timnas, karena hal ini memebawa dampak psikologis baik pemain Timnas ataupun masyarakat.

Hal yang sangat penting dan menjadi catatanku untuk Timnas, manajemen dan suporter yaitu kekuatan doa, kekuatan Tuhan yang akan menjadikan semuanya indah. Alangkah baiknya kita lebih banyak bertaubat, bertaubat atas segala apa yang telah kita lakukan selama pertandingan ini. Mungkin kita yang berpikir untuk curang atau bahkan telah melakukan kecurangan, melakukan tindakan-tindakan anarkis, melakukan tindakan manipulasi, dan mungkin juga kurangnya kita berdoa. Akupun menyadarinya, ketika pertandingan final leg 1, saat pertandingan ternyata aku belum sholat Isya’, ah… rasanya menyesal sekali. Bukan karena kekalahan Timnas tapi karena doa kita yang belum maksimal sehingga Allah menjauhkan kita dari takdir kemenangan. Mungkin karena keterlambatanku menunaikan ibadah ini menjadikan satu kesempatan kita untuk meraih impian belum tercapai. Selain kekuatan doa, juga espektasi yang berlebihan kepada Timnas membuat beban tersendiri baik untuk Timnas ataupun suporter. Alangkah baiknya jika kita menyerahkan semua kepadaNya, kita hanya memaksimalkan ikhtiar kita dan hasilnya kita serahkan yang diatas. Sehingga jika kita kalah maka kita akan dapat menerima kekalahan dengan syukur, jika kita menang maka akan menerima dengan sabar. Yah, takdir adalah pertemuan kehendak kita dengan kehendak yang diatas, ketika kehendak kita tak bertemu dengan kehendakNya maka takdir yang kita harapkan tidak akan pernah terjadi.

Akhir dari tulisan ini, ingin kuungkapkan bahwa aku sangat bangga dengan Timnas Merah Putih yang telah membawa begitu banyak cerita dan hikmah begitu sangat dalam. Aku juga bangga dengan kekalahan kali ini. Walaupun kita tak membawa piala itu namun bagiku Timnas tetap menjadi juara, dari 7 kali pertandingan hanya 1 kali kalah. Ku harap kekalahan ini tak menjadikan para pemain Timnas menjadi lebih terluka, karena semua ini hanya permainan, dan bahkan hidup kita juga permainan. Jadi tetap semangat dan jadilah sang juara, juara yang menerima kekalahan dengan lapang dada dan akan kembali membawa diri ke medan laga, karena itu kau tetap akan menjadi pahlawan. Garuda akan tetap di dada kita, saat ini sang garuda tengah terbang tak membawa apa-apa, namun dia membawa senyum untuk kita karena hikmah yang tersembunyi yang Tuhan berikan untuk kita. Ah… kekalahan ini terlalu sayang jika hanya untuk disesali, kekalahan ini akan selalu menjadi indah jika kita banyak mengambil hikmah.

Tulisan ini ku persembahkan untuk TIMNAS MERAH PUTIH dan SUPORTER GARUDA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s