Dua Rahmat di Bulan Januari

Pagi itu, 3 Januari, sms masuk dari salah satu kawanku di Jogja. Isinya sungguh mengejutkan tidak tahu aku harus berekspresi seperti apa namun yang jelas bahagia itu pasti dan perasaan berduka itu juga.

Beberapa hari sebelumnya, menjelang akhir tahun aku bertemu dengan dua orang kawanku, bernostalgia sekaligus bercerita tentang banyak kisah. Salah satu pembahasan kami kala itu adalah takdir pernikahan, maklumlah salah satu diantara kami ada yang tengah berbahagia menantikan acara pernikahan di awal bulan Maret nanti. Terus saja kami bersemangat berbagi tentang kisah-kisah pernikahan dari yang sedih mengharukan hingga kisah yang membahagiakan dan semua itu membuatku semakin sadar akan takdirNya yang entah bagaimana caranya pasti akan terjadi, baik kita suka ataupun tidak. Yah… akhir tahun 2010 ini kami tutup dengan mengambil hikmah dari sebuah kata “pernikahan”.

3 Januari, adalah takdir lain yang ternyata tak pernah terbayangkan oleh kawanku itu. Dua hari sebelumnya dia baru saja sampai di kota asalnya di Jawa Timur, namun tanggal 2 Januari malam dia harus kembali lagi ke Jogja karena ternyata sang (calon) ayah mertua dipanggil olehNya. Ah… sebuah takdir yang tak pernah terbayangkan oleh siapapun, bahkan juga oleh dia. Lalu sampailah dia di kota Jogja tengah malam menjelang fajar, dan keputusan itupun diambil, menikahkan kedua calon pengantin itu di depan jenazah sang ayahanda tercinta. Yah, tanpa persiapan yang dia bayangkan selama ini, bahkan baju pengantinpun harus meminjam dari salah satu sahabat kami yang lain. Hah, tak pernah terpikir sebelumnya. Diantara keluarga dan para pelayat, ijab qobul itu terucap dari sang mempelai pria dan sang wali. Suasana berkabung dan bahagia bersatu membuat haru seisi ruangan, walaupun aku tak ada disana namun, suasana itu dapat kurasakan setelah sehari berikutnya aku hadir menemui sahabatku ini. Yah inilah takdir Allah, rencanaNya lebih kuat dari rencana kita, yah… itulah takdirNya.

**********************

4 Januari, sore yang manja bersama dengan tetesan-tetesan air pasca hujan deras disiang hari menemani kami berenam (aku, Ayun, Yuni, Wulan Riska, Hani dan Wulan Purnama) berkujung ke rumah salah satu kawan kami yang sedang berbahagia sekaligus berduka, Septi. Di tengah perjalanan kami tampak seorang akhawat asyik dengan Al Quran birunya dan bersanding di atas motor Vega kesayangannya, itu Mifta, yang menanti kami di pinggir jalan dekat XXI Jalan Solo.Diapun bergabung dengan rombongan kami sekaligus dia yang menjadi petunjuk jalan menuju rumah Septi, lebih tepatnya rumah mertua. Entahlah kami menamai kunjungan ini apa, kondangan atau melayat, yang jelas kami ingin bersilaturahmi menyampaikan rasa belasungkawa sekaligus rasa bahagia untuk Septi.

Setibanya di rumah Septi yang tampak sepi, seorang wanita paruh baya menyambut kami dengan senyum mengembang. Seorang wanita yang tampak tegar dari tatapan mata dan senyumnya pasca ditinggal oleh suami tercinta menghadap Sang Khalik. Sambutan itu lalu kami terima dengan bersalaman sembari mengucapakan rasa turut berbela sungkawa. Di depan pintu utama, berdiri dengan sambutan yang tak kalah hangat, dialah Septi. Pelukan yang hangat dan lama, sembari menitikkan air mata. Entah apa itu rasanya, bahagia atau sedih, namun yang jelas kesedihan itu bercampur dengan rasa bahagia. Sambutan itu rupanya tak hanya sampai disitu, di dalam rumah itu sambutan dari sang suami dan anggota keluarga lain menyambut kami dengan hangat pula. Cerita-cerita tentang almarhum dan proses akad nikah mendadak itu silih berganti menghiasi sore menjelang malam.

Pada akhir sesi, seperti biasa sang mempelai berceloteh “siapa yang mau nyusul duluan?”. Senyuman-senyuman kami cukup memberikan jawaban. Tapi akhirnya ku coba untuk merusak suasana senyum-senyum tak jelas itu, “ada kok…ayo ngomong aja…” sambil kulirik salah satu diantar ke tujuh tamu keluarga itu. “ya insyaallah aku nikah besok tanggal 23” jawab Yuni. Semua di forum itu pun sedikit kaget dan semakin bergairah untuk mendesak dia bercerita. Pertanyaan-pertanyaan dalam benak masiang-masing yang akhirnya terlontar juga “dengan siapa??” penuh penasaran, “dengan Rahmat…”. Semuapun terkaget-kaget karena tidak menyangka, walaupun sudah ada tiga orang yang sudah tahu sebelumnya akan adanya berita bahagia ini, termasuk aku.

Ya, dua Rahmat di bulan Januari, satu Rahmat untuk Septi dan satu Rahmat untuk Yuni, dan dua Rahmat untuk kami yang akan menjadi “ipar-ipar” kami. Ah… rahmat di bulan Januari ini memang Engkau berikan kepada kami dengan caraMu sendiri dengan penuh kasih dan sayang. Engkau berikan takdir yang indah untuk dua orang saudariku. Kau sungguh pemurah lagi penyayang, ya Allah nikmatMu yang manakah yang dapat kudustakan?? Ku hanya bisa bersyukur dan terus berharap akan kebaikanMu.

Barokalloh untuk Septi Yuwana Trisnasari (Septi) dengan Rahmat Hidayat (mas Rahmat) dan Slamet Tri Wahyuni (Yuni) dengan Rachmat Suparjo (Rahmat) semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dalam mengarungi kehidupan baru kalian dan semoga hidayah itu Dia tetapkan untuk kalian seumur hidup kalian. Amin.

Catatan:
Kata orang, orang-orang yang tengah berbahagia seperti orang-orang yang baru menikah doanya makbul, jadi nitip doa boleh dong :
1.Cepet lulus
2.Cepet kerja
3.Cepet nikah
Hmmm… ada yang akan jadi rahmat ketiga? (ini guyonan antara aku, Yuni dan Ayun di kamis sore yang baru saja terang benderang karena selama sehari semalam mati listrik di kosku…hehehehe…)

Tulisan ini kuselesaikan : 14.30, 7 Januari 2011 di ruang referensi Sosek fakultas peternakan yang dingin dan ditemani dua bapak penjaga ruang referensi (ruangan itu hanya dipenuhi 3 orang, termasuk aku), sepi…^_^

8 thoughts on “Dua Rahmat di Bulan Januari

  1. Saya boleh nambahin catatan-nya mbak? Saya dulu dapat prinsip ini ketika menginjakkan kaki pertama kali di Jurusan Teknik Elektro melihat sebuah baliho besar yang bertuliskan singkatan yaitu : 4T
    1. rajin sholaT
    2. lulus cepaT
    3. ip empaT
    4. jauhi maksiyaT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s