Eliana

Membaca novel karya Tere-liye “Eliana”, mengulang kembali masa anak-anak yang penuh kejutan dan menyadarkan kembali bahwa masa itu adalah masa yang hebat dengan segala keterbatasan yang ada. Dalam serial anak-anak mamak kali ini, tokoh Eliana “si anak pemberani” muncul menjadi seorang anak yang sempurna dengan segala keterbatasan dan kelemahannya. Jadi iri dengan indahnya keluarga yang dibangun oleh mamak dan bapak, menjadi iri dengan “idelanya” sebuah pola pendidikan dan pengasuhan yang diterapkan mamak-bapak, masih juga iri…(dasar tak tahu terima kasih, tak tahu bersyukur… ^o^). Kata bapak “Sayangnya kita tidak bisa memilih dilahirkan nomer berapa, Eli. Sama tidak bisa memilihnya siapa yang akan menjadi mamak kita, bapak kita, semua sudah digariskan demikian. Suka tidak suka”. Begitulah penggalan kalimat yang bapak sampaikan kepada Eliana, yang saat itu tengah risau dengan kesalahpahaman yang dideritanya.

Novel ini selain merenungi idealnya sebuah keluarga, kita juga akan ikut berpetualang ala Tere-liye, penuh dengan kejutan dan ending yang tak disangka, sama dengan karya-karya sebelumnya. Kembali Tere-liye mengungkap sisi “kenakalan” dan keingintahuan seorang anak manusia yang berumur 12 tahun. Menjadikan semua mengalir memecah kebuntuan dari rumitnya pemikiran-pemikiran orang dewasa dan memberikan sebuah jalan keluar bagi orang-orang tua.

Banyak yang bisa kupetik hikmahnya dari karya ini, diantaranya tentang bagaimana cara mendidik anak dan membuat sebuah komunikasi antar keluarga, bagaimana menyikapi “kenakalan” seorang anak yang memiliki keingintahuan tinggi, menyadari arti tentang kekuatan laki-laki dan perempuan yang memiliki kodratnya masing-masing (walau sampai saat ini aku masih terus saja berpikir, lebih enak kalo jadi anak laki-laki ^^?), mengartikan sebuah cita-cita dan mendiskripsikannya dengan tepat (ini karena cita-citaku yang dulu, kusadari telah terkubur oleh idealisme-idealisme yang telah merasuki pikiranku ^^$) dan juga merasakan hidup di tengah kampung yang dikelilingi hutan dan di pinggirnya mengalir sungai nan jernih lagi segar (ah… rasanya menyenangkan ). Oh ya satu lagi, tentang bagaimana kita harus menyikapi akan keseimbangan bumi yang diciptakan olehNya, yang begitu banyak manfaat dan tak boleh kita rusak. Pesan-pesan itu mengalir dalam setiap paragraf dan kalimat-kalimat yang sederhana dan sangat mengena. Ah rasanya benar-benar menjadi Eliana, dan rasanya benar-benar tengah berpetualang membela kebenaran dan keadilan (seperti power ranger… :p).

Notes:
Aku mendapatkan buku ini dari hadiah menjadi juara 1 di blog competition yang diadakan oleh salah seorang kawan. Gak nyangka jadi juara 1, padahal awalnya hanya ingin berbagi lewat tulisan berujung dengan hadirnya novel ini. Iihh senang sekali, karena buku ini menjadi koleksi pertamaku dengan katagori fiksi dengan halaman yang tebal, dianatra buku-buku non fiksi milikku. Semoga dengan adanya satu buku ini bisa nambah lagi buku fiksi menghiasi rak bukuku…hahaha…(maklum selama ini kalo baca novel cumi doang alias cuma minjem ^o^).

Thanks buat Panji atas kesempatan berbagi dan Agung(adiknya Panji) yang berusaha mengirimkan buku ini walau hanya lewat perantara dan gak ketemu langsung. Pokoke keren deh buku ini, wajib baca apalagi yang ngaku pecinta anak dan pecinta buku petualangan…ah…

Dan spesial buat penulisnya, lagi-lagi harus menitikkan air mata saat membacanya, walau tak sederas pas baca “Hafalan Sholat Delisha”. Tapi semua karya-karya Tere liye yang kubaca memang tak bisa menahan lelehan air mata lalu merenungi dan menuliskan kembali kesalahan-kesalahan yang pernah ku buat dan mencoba untuk bangkit menghapus kesalahan-kesalahan itu, walau belum bisa semua..hiks..TT.
Mamak….ibu….huah….

10 thoughts on “Eliana

  1. Wah, belum baca je,.kayaknya penting banget tu. Sepertinya habis Islamic Book Fair pada nampilin di blog buku-buku yang dibeli (atau mau dibeli). Coba aja liat blognya mbak Nia.🙂

    • wah wah… blog saya diiklanin sama hasan rupanya, terima kasih…
      tp sayangnya, saya ndak bisa sama sekali ke JIBF, padahal kemaren sabtu ke jogja, tp agendanya padet bgt, jadi gak bisa mampir bukfer..

  2. sudah baca buku sebelumnya di serial anak-anak mamak er…??
    burlian dan pukat..
    sedang menunggu amelia terbit… katanya tengah tahun ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s