Perjalanan ke Timur # 1

Bulan Maret tahun ini terasa berbeda, terasa berbunga-bunga. Suasana yang cerah ceria dan penuh dengan romantika. Perjalanan di bulan Maret lalu, perjalanan penuh warna, warna kebahagiaan seorang anak manusia yang kemudian menular ke seluruh penjuru dunia. Termasuk juga aku, menjadi salah satu manusia yang ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh seorang anak manusia. Kudapati kawanku berbahagia merayakan cintaNya yang Dia ikatkan dalam sebuah tali yang kuat “Mitsaqon Gholidzo”. Kebahagiaan ini membawaku ke daerah timur Pulau Jawa bersama kawanku yang tengah berbahagia.

Tanggal 9 Maret, hari yang istimewa untukku, karena adalah hari keberangkatanku menuju kota di wilayah timur pulau Jawa. Terus terang saja, ini pertama kalinya aku ke Jawa Timur, dulu waktu SD pernah juga tapi itu ke Bali dan wilayah Jawa Timur ini hanya kulewati tanpa tinggal untuk sementara. Jadi ini adalah hal yang sangat menyenangkan untukku. Sejak sehari sebelumnya aku sudah excited mempersiapkan segala sesuatunya, berada di kota Nganjuk selama 2 hari tentunya membuat persiapan lebih banyak. Pukul 6.15 diantar oleh kawan satu kos, menuju stasiun Tugu, dan ini untuk kedua kalinya aku ke stasiun Tugu, dan ini untuk ketiga kalinya perjalanan by train, menyenangkan. Sesampainya di stasiun Tugu aku menunggu rombongan yang ikut bersamaan denganku, rombongan keluarga kakak ipar dari kawanku, sepasang suami istri dan dua putra-putrinya. Dua anak kecil yang masih kelas satu SD dan TK ini menjadi kawan perjalanan selama lebih dari 4 jam perjalanan. Mengajari Dek Vina si kecil bermain karet dan bernyanyi dengan lagu yang tidak aku ketahui dan bercerita sepanjang perjalanan dengan mama dan bude yang ikut dalam rombongan. Banyak hikmah dan banyak kisah yang yang disampaikan oleh kedua ibu ini. Terutama tentang pernikahan dan keharmonisan rumah tangga. Sebagai seorang lajang, tentunya aku hanya bisa diam, mengangguk bila kurasa itu benar dan senyum-senyum saja, kerena jelas aku tak paham lebih tepatnya belum berpengalaman tentang berumah tangga. Jadi kupilih diam. Namun keceriaan bersama dek Vina membuatku jadi semakin menikmati perjalanan yang penuh dengan pemandangan alam, sawah. Hmm perjalanan yang menyenangkan.

Sesampainya di kota Nganjuk, lebih tepatnya Kertosono rombongan kami dijemput oleh adik dan sepupu mempelai wanita. Alhamdulillah, akhirnya aku sampai juga di kota ini dan aku menikmatinya.

Dua hari di kota ini bersama kebahagiaan kedua mempelai merayakan walimah di sebuah gedung dan dihadiri ratusan tamu undangan membuat hati semakin bergembira karena aku juga di temani oleh salah satu kawan baikku yang sepuluh hari setelah itu merayakan indahnya ikatan suci dariNya. Banyak bercerita bagaimana proses yang dia jalani, membuatku semakin yakin akan sebuah takdir yang baik diikuti dengan ikhtiar yang baik pula. Menjemput takdir yang baik, dengan proses yang baik pula, sampai Allah menentukan takdir itu. Yah, kembali hikmah yang kudapatkan saat ternyata kawan-kawan lama yang berasal dari kota-kota di sekitar Ngajuk ikut menghadiri acara walimah kali ini. Bertegur sapa dan saling bercerita aktivitas masing-masing menjadikan satu pengalaman yang sangat menarik dan tidak bisa dilewatkan begitu saja. Yah, inilah hikmah bersilaturahim, inilah hikmah datang ke walimah, reuni.

Acara yang telah selesai, membuat badan terasa capai, namun tetap saja kebahagiaan itu masih tetap terpancar dan terus merona sepanjang hari. Sore tiba dan kupustuskan untuk pulang lebih dulu, dari rencana semula. Hal ini terjadi karena esok pagi ada agenda yang tak bisa kutinggalkan, sehingga malam ini harus segera kembali ke Jogja. Dengan demikian harus ikut rombongan mobil bersama mertua mempelai wanita. Ah perjalanan di mulai ba’da magrib dengan mobil yang ternyata penuh dengan barang dan oleh-oleh. Akupun duduk di kursi belakang bersama dengan barang-barang yang tak muat di bagasi. Perjalanan malam yang menyenangkan, menikmati perjalanan dari Kertosono – Yogyakarta dengan kendaraan yang berbeda dari keberangkatan. Menikmati panjangnya jalan dan ramainya kendaraan malam serta hiasan lampu yang menghiasi kota yang dilewati. Yah pemandangan yang berbeda, namun tetap sama mengasyikkan. Hanya saja, karena fisik sudah tak lagi mampu melawan kantuk dan lelah, karena semalaman begadang akhirnya diri inipun tertidur. Alhamdulillah, sampai di kos dengan selamat tepat pukul 00.00. hmm perjalanan ke Timur yang tidak akan kulupakan.

Barokallahulaka wabaroka ‘alayka wajama’a baynakuma fii khoiri untuk Septi dan Mas Rahmat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s