Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Bahwa hidup harus menerima…..penerimaan yang indah
Bahwa hidup harus mengerti….pengertian yang benar
Bahwa hidup harus memahami …..pemahaman yang tulus
Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.

Novel ini menjadi satu novel yang ku benci dari sekian banyak novel yang ditulis Tere Liye. Kebencian karena kecewa dengan kisah yang ada, kebencian karena bukan kisah seperti ini yang ingin aku baca saat ini. Huh… bukan masalah apa makna di balik kisah itu, tapi membacanya seperti membaca diary lamaku (halah berlebihan…). Episode yang sudah lama terkubur, eh muncul lagi, hingga akhirnya aku membaca kembali diary lama yang membuatku tertawa. Alamak… macam mana pula persis begini… (walau hanya sepotong-sepotong saja sebenarnya). Tapi lumayan membuatku seharian jadi tertawa, senyum-senyum tak jelas dan sungguh menyesali. Kenapa aku ternyata separah itu?? Ah, bukan curcol tapi lucu jadinya mengingat hal-hal yang aneh itu. Hahaha…yah sudahlah…
Tapi yang jelas, aku benci dengan novel ini… (benci tak berarti tidak suka kan??? Hehehe…ngeles).

Tapi masih tetap ada yang kusuka dari pesan-pesan tersirat itu, “Kebaikan itu seperti pesawat terbang. Jendela-jendela bergetar, layar teve bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garputala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat”.

2 thoughts on “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s