“Degradasi” makna Ukhuwah

Ini sebenarnya kisah dari teman satu liqo kawan kosku. Dia berasal dari wilayah luar jawa, tepatnya Sumatera. Tahun ini dia mendapatkan hadiah terindah dari Allah untuk melanjutkan studi S2nya di Yogyakarta. Ah, begitu bangga dan bahagianya dia saat akan menuju kota ini. Kota yang berhati nyaman, kota yang penuh dengan kenyamanan (akupun merasakannya, sampe-sampe gak mau pulang he…). Sambutan bahagia, tak hanya dirasakan oleh dia sendiri tapi juga oleh keluarga dan para sahabatnya di Sumatera sana. Bayangan kenyamanan, bukan hanya fasilitas, tapi juga keramahan dan rasa simpati telah memenuhi benaknya.

Sesampainya di Kota Pelajar ini, dia disambut di salah satu kontrakan khusus untuk muslimah. Betapa bahagianya dia berada di rumah ini. Baru satu hari dia ada di kota ini, tiba-tiba ada rasa janggal yang dia hadapi, bayangan tentang penyambutan kawan baru dengan ramah, penuh rasa simpati, dan tolong-menolongnya ala “ikhwah” ternyata tak sebaik yang dia sangkakan. Justru sebaliknya, ketika dia tiba satu hari di Kota Gudeg ini, penghuni rumah ini ternyata tengah sibuk dengan segala macam aktivitas dan kegiatan keorganisasian ala mahasiswa, tak ada sambutan sama sekali. Ketika itu dia mencoba untuk memahami dan memaklumi. Beberapa waktu kemudian, dia bertanya dimana warung makan yang dekat dengan kontrakan itu, padahal jika seseorang yang baru datang ke suatu daerah sudah menanyakan tentang warung makan itu artinya sudah sangat memalukan, harusnya penghuni lamalah yang mengajaknya, itu membuat dia masih memakluminya. Lalu beberapa saat dia bertanya lagi suatu tempat, dan ternyata hanya ditunjukkan arah-arah saja, kanan-kiri, utara-selatan dan timur-barat, tak ada peta apalagi diantar, padahal dia adalah orang yang sangat baru di kota ini, yang belum tahu arah sama sekali. Hal ini sangat membuatnya kecewa namun ia tetap memakluminya. Setelah satu bulan dia ada di kota ini akhirnya dia meminta orang tuanya untuk mengirimkan sepeda motor dari Sumatera. Ah, kenapa begini? pertanyaan dari keluarga dan kawan-kawannya di sana. Bukankah teman-teman di Jogja ramah-ramah, bukankah setiap ada tamu yang datang akan disambut dengan baik, ada apa gerangan??? Apakah ini yang dinamakan degradasi ukhuwah???

Deg, tiba-tiba saja aku tak bisa berkata-kata, speechless, ketika kawan kosku bercerita tentang ini. Ngilu. Ah begitukah, sambutan terhadap orang-orang baru di sekitar kita? padahal kita mengakui bahwa mereka adalah satu saudara dengan kita. Bukankah ikatan ukhuwah ini begitu kuat, namun kenapa begitu sangat kendur, tak tafahum (paham) sama sekali, tak ada ta’awun (saling membantu), apalagi takaful (rasa saling senasib sepenanggungan). Yah, mungkin inilah yang harus coba kita perbaiki terkait dengan amalan silaturahim kita. Perlu kita tanyakan dalam diri kita masing-masing. Bagaimana hubungan silaturahim kita dengan kawan terdekat kita? Bagaimana silaturahim dengan keluarga kita? Semua harus kita kembalikan pada diri kita, karena hubungan silaturahim antar manusia itu ternyata erat hubungannya dengan komunikasi kita dengan Allah. Jadi, perlulah kita mengintrospeksi diri bagaimana hubungan diri kita dengan Allah???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s