Monjali


7 Juli 2011
Monjali singkatan dari Monumen Jogja Kembali. Letaknya di sebelah utara jalan Ring Road Utara,. Sebelum perempatan jalan Monjali. Bingung??? Kalau dari jalan Magelang ke arah Timur, nah tepatnya sebelum perempatan yang pertama. Jelas banget bangunannya, kerucut putih menjulang tinggi ke angkasa. Kalau masih bingung, silahkan lihat peta, atau bertanya langsung ketika ada di Jogja (gak solutif banget yah..).

Sebenarnya lokasi wisata museum ini dah pasti aku lewati jika pulang atau pergi dari rumah menuju kampus UGM (otomatis lewat, kecuali jika lewat jalan Magelang, yang ke arah Borobudur Plaza bisa dipastikan tidak akan lewat). Nah, bisa dikatakan setiap minggu pasti lewat tempat ini, bahkan sudah hampir tujuh tahun ini (hah tujuh tahun??? ckckck…), tapi sampai sebelum tanggal 7 Juli 2011, aku belum pernah masuk ke tempat ini. Hmm, dulu sih pernah sekali waktu masih kecil dan juga pas SMP (itu juga sudah lupa isinya apa saja). Nah untuk mengobati rasa penasaran dan juga menunjukkan bahwa tidak sia-sialah lama-lama di Jogja, maka datanglah aku ke lokasi wisata ini. Aku berdua bersama my soulmate (Fany), akhirnya pada tanggal 7 Juli 2011 mengunjungi tempat ini. Hah senangnya.. yah, sekalian ajang untuk narsis (foto-foto) juga untuk mengetahui apa aja isi dari museum ini.

Museum ini lumayan bagus, dari segi koleksi dan juga kebersihannya. Walau agak sepi, tapi cukup menyenangkan. Di lantai satu ada empat museum, yang menggambarkan tentang perjuangan para pejuang untuk merebut kembali Yogyakarta dari tangan Belanda. Koleksi dari senjata dan juga perlengkapan-perlengkapan untuk berjuang juga dipajang di sini. Di lantai dua, agak kaget juga sih ternyata gelap gulita. Awalnya hanya aku berdua dengan Fany, agak aneh nih museum sepi banget, serem juga gelap gitu, tapi akhirnya ada serombangan keluarga di belakang kami. Di lantai dua ini adalah kisah bagaimana proses perjuangan itu, digambarkan dengan patung-patung dan juga suara untuk menceritakan ilustrasi dari patung-patung itu. Setelah mengitari seluruh lantai dua, maka dilanjutkan ke lantai tiga. Sempat kaget ternyata tidak ada apa-apa. Hanya puncak dari kerucut bangunan. Yang berisi bendera merah putih yang ada di tengah, dan di dinding sebelah kanan dan kiri diukir tangan-tangan yang menggambarkan perjuangan merebut kemerdekaan. Ah… rasanya semangat patriotisme ini berkobar, tapi disisi lain juga sedih dengan kondisi bangsa yang semakin panas. Ah sebenarnya bangsa ini tidak panas, panas hanya ketika harga kebutuhan pokok melonjak seperti sekarang ini. Sebenarnya yang panas hanyalah para elit yang sedang asyik dengan euforia mempertahankan kekuasaan, yang sudah lupa dengan janji manis saat berkampanye. Yah, semoga Allah segera menunjukkan jalan keadilan untuk bangsa ini. Rakyat hanya berharap untuk bisa hidup dengan aman dan sejahtera saja. Yah semoga.

Ada kata-kata menarik di museum ini, yang di tulis oleh Pak Dirman (Jendral Soedirman) “Dalam menghadapi apapun, jangan lengah sebab kelengahan menimbulkan kelemahan dan kelemahan menimbulkan kekalahan sedang kekalahan menimbulkan penderitaan.” Dan, “Percaya dan yakinlah bahwa kemerdekaan suatu negara yang didirikan diatas timbunan reruntuhan ribuan jiwa, harta benda dari rakyat dan bangsanya tidak akan dapat dihapuskan oleh manusia siapapun juga.”
Yah, semoga menjadi penyemangat untuk bisa memperbaiki diri sendiri dan bangsa ini.

NB : Fany, perjalanan kita berikutnya Bonbin, Benteng Vedenburg, dan Keraton (setuja???).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s