Otomatis Islam

Pernahkah terbesit dalam pikiran kita bahwa kita adalah seorang muslim (bagi yang telah menjadi muslim sejak lahir)?

Ada sebuah pertanyaan, seperti apakah orang islam itu? Ingat kemudian sebuah hadist yang sangat terkenal yaitu ketika Rosulullah didatangi oleh seseorang yang tidak dikenal, beliau dengan memakai pakaian putih bersih dan rambut yang hitam legam, beliau lalu bertanya kepada Rosulullah “Wahai Muhammad tolong beritahukan kepadaku apa itu islam? Rosullullah menjawab, ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada illah yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan sholat, engkau menunaikan zakat, engkau berpuasa di bulan Ramadhan dan engkau menunaikan haji jika mampu”. Itulah penggalan hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dari Umar.

Sebuah analogi sederhana, ketika kita sedang melaksanakan sholat dzuhur lalu pada rokaat ketiga kita batal, maka apa yang akan kita lakukan? Tentunya kita akan mengulangi kembali rukun-rukun sholat dari awal, bahkan harus mengulang dari wudhu lalu mengerjakan sholat, tentunya juga dari rokaat pertama, bukan rokaat ketiga.

Analogi yang kedua, ketika kita sedang puasa Ramadhan, ternyata ditengah hari puasa kita batal. Tentunya pula kita akan mengulangi puasa kita dari awal, atau dari sahur, bukan pada tengah hari. Analogi berikutnya yaitu zakat dan haji. Tentu saja rukun-rukun itu harus urut dan wajib dilaksanakan kembali dari awal, bahkan dari niat apabila kita batal atau melewatkan satu rukun saja. Lalu muncul pertanyaan, lalu bagaimana dengan rukun islam? Tentunya haruslah urut dan dan tidak bisa dibolak balik. Urutan pertama yaitu syahadat lalu sholat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu.

Pertanyaan berikutnya, lalu kapan kita bersyahadat? Pertanyaan ini tentunya ditujukan bagi kita yang telah lahir dan dibesarkan dilingkungan islam, orang tua yang muslim. Mungkin jawabannya adalah ketika kita sholat. Tapi masih ingatkah bahwa rukun itu tidak bisa dibolak-balik harus urut, bila ada rukun yang ditinggalakan maka harus diulang dari awal. Nah, ingatkah kita kapan kita bersyahadat??? Mungkin bagi mereka yang mualaf syahadatnya telah disaksikan oleh banyak orang dan disyahadatkan oleh ustadz-ustadz. Lalu???? Inilah pertanyaan yang muncul dari kawanku, entahlah dia hanya mengujiku atau memang pertanyaan itu yang menjadi kegelisahan dalam hatinya.

Awalnya aku juga ragu untuk menjawab apa yang menjadi pertanyaannya, karena jelas aku tidaklah seorang yang berilmu tinggi. Jauh dari kata orang yang berilmu, apalagi keilmuan islam yang masih sangat jauh sekali dari ilmu ustadz-ustadz ataupun ulama-ulama, apalagi ilmu Allah SWT yang sangat luas sejagat raya.

Akupun hanya diam, mendengarkan semua apa yang temanku katakan, termasuk juga menanyakan tentang metode dakwah Rosulullah yang ternyata tidak diterapkan oleh aktivis-aktivis dakwah saat ini dengan baik (dan temanku sangat menyayangkan hal itu). Kalau yang ini aku hanya tersenyum saja, karena jelas arah pembicaraannya seperti apa dan kemana. Apalagi pertanyaan dan diskusi dengan tema ini sudah sangat sering dia lontarkan.

Kembali pada pertanyaan tentang syahadat kita yang telah menjadi seorang islam sejak lahir. Mungkin ada pemikiran bahwa kalau begitu kita harus mengulang kembali syahadat kita, karena selama ini ternyata kita belum bersyahadat, tapi sudah menjalankan rukun islam yang lainnya. Aih…ini juga yang sempat terlintas dalam pikiran bodohku.
Tapi kemudian aku renungi kembali, apakah memang harus begitu??

Dalam perjalanan pulang dari perpustakaan fakultas tempat kami berdua diskusi, aku renungi kembali. Bagaimana dengan syahadatku, atau juga kita yang telah menjadi islam sejak lahir.

Seusai sholat ashar, aku mencoba untuk mencari jawaban itu sendiri, karena begitulah pesan temanku, agar pertanyaan ini dicarikan jawaban sendiri, jangan diberi tahukan kepada orang lain (Hmmm aku jadi curiga karena hal ini dia sampaikan kembali melalui sms). Yah, tentunya aku lebih percaya kepada Allah yang telah menakdirkan aku untuk bertemu dengan temanku yang sudah lama tak bersua itu. Aku minta petunjukNya, agar tidak salah dalam menjawab pertanyaan itu dan juga berharap bahwa Allah benar-benar memberikan jalan yang tepat kepadaku selama ini (semoga tetap istiqomah di jalan dakwah ini).
Dalam perenungan, lalu aku teringat satu hal, yaitu tentang proses kejadian manusia. Bagaimana Allah menciptakan manuasia. Yah, ku pikir itulah jawabannya.

Ingatkah bahwa kita ini adalah ciptaan Allah, yang berasal dari tanah dan juga ruh yang telah meninggali Lauh Mahfudz bahkan sebelum kita dikirimkan ke dunia ini. Ingatkah bahwa saat kita masih menjadi ruh-ruh yang Dia ciptakan, kita telah berjanji dihadapanNya langsung bahwa Dia adalah pencipta kita, bahwa Dialah yang berhak disembah dan tidak ada yang lain yang bisa disembah kecuali Dia, bahwa Dia telah menetapkan tentang hidup kita di dunia (hidup, mati, dan segala rizkiNya). Ahhh… Subhanallah, aku menangis ketika menyadari hal tersebut.

Lalu, ingatkah ketika kita hadir di muka bumi ini yang lahir dari seorang ibu yang berjuang mengeluarkan kita dijanjikan oleh Allah bahwa kita adalah manusia yang suci. Bahkan diandaikan dengan kertas putih yang masih kosong dan tidak tercoret apapun, walaupun orang tua kita bukanlah orang yang benar-benar suci. Lalu kita dibesarkan oleh mereka, mereka yang memberikan gambar, tulisan, warna pada kertas putih ini. Mereka yang menjadikan kita bagaimana rupa-rupa kita, bagaimana cara hidup kita. Ketika orang tua kita ternyata adalah seorang bukan islam, maka tentunya kita yang masih bayi yang masih putih bersih ini akan digambari dan akan diberi tulisan layaknya mereka menulis dan mewarnai hidup kita. Jika kita beruntung bahwa orang tua kita adalah muslim maka merekapun pasti akan mewarnai hidup kita dengan cara yang islam pula.

Yah, ingatkah ketika kita setelah menghirup udara dunia ini pertama kali maka kita diwajibkan untuk di perdengarkan adzan langsung di telinga kanan dan kiri kita? dan ingatkah bahwa adzan itu adalah kalimat syahadat??? Itulah suara yang pertama kali kita dengar saat kita berpindah ke bumi. Yah, janji kita ketika kita masih di Lauh Mahfudz dan juga janji kita saat pertama kali kita berpindah dari Lauhul Mahfudz ke dalam rahim ibu kita, kita telah berjanji dan bersaksi dihadapan Allah. Lalu jika beruntung orang tua adalah muslim maka saat pertama kali kita menghirup udara di bumi ini kita juga telah dijanjikan dengan syahadat di dalam adzan yang diperdengarkan.
Wallahua’lam biishowab

NB :
Pertanyaan ini datang dari seorang kawan tepatnya tanggal 22 Februari 2011. Yah, ketar ketir juga mau jawabnya, akhirnya aku menuliskan ini didiaryku, dan suatu saat aku akan memposting tulisan ini diblogku kalau aku sudah yakin dengan jawabanku. Subhanallah, sekian bulan aku mencarinya jawaban yang jelas dalilnya, akhirnya ku temukan saat i’tikaf di maskam (MAsjid Kampus UGM) Ramadhan ini. Saat itu sang penceramah tarawih menjelaskan tentang syahadatain, lalu beliau menukil satu hadist yang isinya tentang saat kita masih dalam kandungan kita kita dijanji oleh Allah dan kita bersaksi atasNya. Sehingga secara otomatis bayi yang baru lahir adalah muslim. Subahanallah, sungguh hal ini membuatku jadi sumringah akhirnya ku temukan jawabannya dan aku berani memposting sekarang, setelah sekian lama akhirnya… Tapi tak cari hadist lengkapnya belum ketemu yak, may be ada yang bisa bantu???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s