Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah berkisah tentang seorang pemuda bernama Borno yang mencari cinta sejatinya. Borno tinggal di tepi sungai Kapuas Kota Pontianak. Borno hanya tinggal bersama ibunya, namun dia mempunyai keluarga besar yaitu para tetangga yang sangat mengasihi dan menyayangi Borno. Ayah Borno meninggal ketika Borno masih berusia 12 tahun. Kematian ayah Borno karena suatu hal yang sangat luar biasa. Ayahnya yang begitu sangat mulia mendonorkan jatungnya demi keselamatan seorang pasien yang lebih membutuhkan jantung ayahnya. Dari sinilah kisah ini dimulai.

Seiring berjalannya waktu Borno tumbuh menjadi dewasa. Kehidupannya layaknya pemuda-pemuda lain seusianya. Namun dia begitu istimewa, bukan hanya karena dia keturunan dari ayahnya yang berhati mulia namun juga karena dia dididik menjadi seorang yang sangat luar biasa mulianya. Didikkan itu tidak hanya diberikan oleh ibunya, namun seluruh keluarganya di tepian sungai Kapuas itu. Keluarganya bukanlah keluarga sedarah, tetapi keluarganya hanyalah tetangga-tetangga yang berasal dari suku dan daerah yang berbeda. Pak Tua adalah tokoh sentral yang bijakasana dan penting dalah novel ini, dari dia Borno bukan hanya memiliki ayah yang bijaksana namun juga mendapatkan banyak pelajaran hidup bahkan menjadi kunci dalam setiap perjalanan hidupnya. Bang Togar, Cik Taulani, Koh Acong, Ayah Andi dan sahabnya Andi merupakan tokoh-tokoh yang juga berperan penting dalam kehidupan Borno, dan mereka semua adalah keluarga besar Borno.

Masa pendewasaan Borno dimulai setelah lulus sekolah. Sebagai seorang pemuda dia dituntut untuk mandiri dan dapat memenuhi kebutuhan sendiri. Masa-masa peralihan menuju dewasa ini, Borno dihadapkan pada banyak permasalahan klasik kebanyakan orang. Berganti-ganti pekerjaan selama dua tahun setelah lulus SMA. Mulai dari menjadi buruh di pabrik karet, menjadi tukang karcis di dermaga kapal feri sampai akhirnya dia memutuskan untuk mau menjadi pengemudi sepit (dari kata speed, adalah perahu kayu panjang lima meter, lebar satu meter dengan tempat duduk melintang dan bermesin tempel yang digunakan untuk menyeberang sungai Kapuas). Padahal dalam benaknya dia tidak ingin menjadi pengemudi sepit karena sesuai pesan dari ayahnya sebelum meninggal yaitu agar Borno tidak menjadi seorang pengemudi sepit, akan tetapi akhirnya diapun harus melakoni pekerjaan itu.

Berasal dari pekerjaan menjadi pengemudi sepit inilah kisah cinta Borno dimulai. Sepucuk angpau merah tertinggal di bawah tempat duduk penumpang. Borno mengira-ira pemilik angpau ini. Borno adalah pemuda yang sangat jujur dan lurus hatinya. Dia berniat untuk mengembalikan angpau yang tertinggal di atas sepitnya. Berhari-hari dia mencari pemilik angpau ini. Rupanya pemilik angpau itu adalah seorang gadis keturunan cina yang sering dia lihat di dermaga dan juga menjadi penumpang sepit di sungai Kapuas ini.

Berawal dari angapu merah yang tertinggal inilah, kisah cinta antara Borno dan gadis cina yang bernama Mei bermula. Kisah itu tak semulus yang diharapkan, Borno yang berhati lurus rupanya sangat pemalu dengan seorang gadis. Mei yang juga sangat misterius namun menyenangkan juga tidak begitu banyak memberikan sinyal-sinyal perasaannya. Kisah cinta mereka harus diawali dengan perpisahan, yang membawa Mei ke Surabaya. Semenjak kepergian Mei ke Surabaya menjadikan hari-hari Borno sangat berat. Kisah cinta ini membawa perjalanan hidup Borno yang keras namun membuat dia semakin dewasa dan tetap berhati mulia.

Bumbu-bumbu kisah cinta ini tampak lebih sedap dengan peran Pak Tua yang bijaksana sebagai memberikan petuah dan tetua di tepian sungai Kapuas. Andi sahabat Borno yang selalu mendukung Borno dan akhirnya menjadikan Borno lebih dewasa dan arif dalam menghadapi permasalahan hidupnya. Serta kisah dari tokoh seperti Bang Togar yang juga menambah kuatnya karakter Borno sebagai seorang pemuda berhati lurus.

Secara menyeluruh alurnya memang mengisahkan tentang perjalan cinta Borno dengan Mei. Kisah cinta yang sederhana dan menarik untuk didalami. Walaupun novel ini menceritakan tentang kisah cinta namun menyuguhkan bukan hanya melankoli roman picisan semata tetapi bercerita tentang pemaknaan hidup sebagai manusia. Banyak makna yang bisa dipetik dari membaca novel ini, tentang kesederhanaan hidup dan kerja keras, cita-cita, keluarga, dan tentu saja cinta sejati. Yang kesemuanya dapat dilihat dari masing-masing tokoh yang berperan.

Seperti novel-novel lain karya Tere Liye sebelumnya, novel ini memiliki gaya penulisan yang sederhana dan mudah untuk dimengerti. Tidak menggunakan bahasa daerah lokal yang kental. Percakapan-percakapan yang dipakai menggunakan bahasa Indonesia sehingga memudahkan pembaca untuk mengikuti alur percakapan tanpa harus mengartikan di halaman belakang atau catatan kaki. Gaya bahasa yang ringan dan menarik dibumbui dengan adegan-adegan yang lucu membuat pembaca tidak bosan untuk terus melanjutkan bab demi bab. Novel ini juga menyajikan sebuah sejarah tentang kota Pontianak. Akan tetapi ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan bagi pembaca apakah sejarah memang seperti itu atau hanya mitos semata. Di novel ini pembaca akan diajak berjalan-jalan ke kota Pontianak dan juga kota-kota lainnya. Penggambaran yang jelas membuat pembaca dapat membayangkan dengan detail seperti apa lokasi yang di ceritakan.

Selain kita juga ada beberapa hal yang dapat menjadi tambahan pengetahuan kita yaitu tentang mesin motor. Bagi yang awam dengan istilah-istilah ini mungkin akan banyak bertanya apa yang dimaksudkan dengan istilah-istilah itu. Istilah-istilah tersebut tidak diartikan secara jelas baik dalam novel ini. Akan tetapi karena tema dari cerita ini adalah tentang cinta maka tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap alur yang ada. Diakhir cerita seperti biasa Tere Liye akan membuat kejutan yang menjadi sebuah jawaban dari kisah perjalanan hidup dan cinta Borno. Walaupun sedikit dapat ditebak namun tetap saja akhir kisah ini memuaskan pembaca.

Lalu bagaimana kisah perjalanan pencarian cinta sejati Borno? Apakah dia harus memilih tetap menjadi pengemudi sepit atau menunaikan cita-citanya sebagai seorang montir? Dan apakah kisah cintanya dengan Mei akan berakhir dengan indah atau sebaliknya? Lalu bagaimana dengan sepucuk angpau merah yang jatuh di sepit Borno? Semua jawaban akan ada di sana di angpau merah. Jawaban tentang kisah hidupnya yang membawanya menjadi seorang yang tetap berhati lurus.

Di akhir tulisan ini, ada sebuah kalimat bijak yang disampaikan oleh Pak Tua tentang arti cinta sejati kepada Borno, “Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Kalau kau sampai pulang ke Pontianak kau tidak bertemu gadis itu, berarti bukan jodoh. Sederhana bukan?” Cinta memang sederhana. Selamat membaca.

2 thoughts on “Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s