Rantau Satu Muara

Rantau 1 Muara

Rantau 1 Muara

Sebuah Prolog :

Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu

Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu

Melipur duka dan memulai penghidupan baru

Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji,

serta meluaskan ilmu

(Imam Syafii)

 

Hohoho… sudah bulan Agustus teman, enaknya review buku aja sambil nunggu bedug buka. Dah lama gak review buku, karena emang dah lama gak baca buku (lebih banyak baca buku pelajaran hehehe…). Nah, hari ini mau review bukunya Ahmad Fuadi yang baru release “Rantau Satu Muara”. Lumayan ditunggu banget nih bukunya, setelah sekian lama menanti akhirnya dapet juga nih buku (cetakan pertama lagi :)). Ehm, mau cerita dapetinnya dulu yah sebelum review isinya, maklum ini untuk pertama kali beli pake uang hasil keringet sendiri, karena selama ini paling-paling jadi cumi-cumi alias cuma minjem. Ngedapetin buku ini juga mesti jauh-jauh ke Jogja, why?? Yah karena di Magelang belum ada, sekalian belanja buku yang lain sih, sekalian juga main dan rindu kawan-kawan di sana. Hmm, dan alhamudillah dapet buku ini di Toga Mas yang emang terkenal ma diskonan, hahaha. Maklumlah karena masih ada kesempatan beli yang diskonan.

Oke, setelah review sedikit perjalanan mendapatkan buku ini, langsung saja simak isinya. Kisah tentang Alif yang baru pulang dari Kanada, program student exchange. Pasca kepulangannya dihadapkan dengan aktifitas menyelesaikan studi yang harus segera diurus. Walhasil semua lancar dan bahkan menjadi wisudawan terbaik. Menjadi seorang yang mempuyai prestasi yang “wah” dikala mahasiswa tak berarti menjadikan Alif langsung bisa mendapatkan pekerjaan yang “layak” sesuai prestasinya. Kondisi negara yang tidak stabil di tahun 1998 menjadikan seorang Alif juga harus berjuang sebagaimana para sarjana lain yang mungkin prestasinya tak se”wah” Alif. Namun, Alif kemampuan lain yang menjadi nilai lebih dari dirinya yaitu kemampuan menulis. Kemampuan menulisnya yang memang sudah melanglang buana di beberapa harian di kota Bandung, menjadikan dirinya tahu bahwa menjadi seorang penulis (wartawan) adalah passion dirinya. Yang kemudian dia bekerja menjadi wartawan di Ibu Kota. Disanalah dia mulai merajut kembali cita-citanya, merenda mimpi-mipinya bersama seseorang yang memberikan banyak support. Dan akhirnya semua cita-citanya bukan hanya sebatas mimpi, tapi benar-benar terwujud, karena kerja keras dan kesungguhannya. Amerika, menjadi tempatnya mewujudkan semua keinginannya dan disana pula setelah sekian lama impian yang sudah mendarah daging diuji. Diuji sebagai seorang manusia, apakah dia akan terus meneruskan impiannya di tanah rantau atau dia menjalankan amanahnya sebagai manusia yang memberikan manfaat bagi orang banyak di tanah kelahirannya?

Dapet banget deh bacanya, dapet banyak hal, yang paling nampol di otak dan diinget-inget terus tuh kta-kata ini : “Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menulislah”, ini merupakan kata-kata dari Imam Al Ghazali. Hmm, inspire banget. MENULIS. So lets write.

Hal kedua yang jadi catatan penting buatku yaitu impian itu harus dikejar sungguh-sungguh. contohnya saja, bagaimana Alif berusaha mendapatkan beasiswa ke Amerika dari Fulbright. Waktu aku baca-baca tentang beasiswa ini, wow banget ternyata dan gak semua bisa dapet, mesti “sesuatu” untuk bisa dapet beasiswa full dari bayar kuliah sampai biaya hidup. (Hmm, ngarep banget :)). Cara alif mendapatkannya benar-benar serius, tidak hanya sekedarnya. Contoh, buat aplikasinya aja benar-benar dipikirkan penulisannya sampai isinya, bahkan sampai latihan wawancara yang menurutku itu menunjukkan kesungguhan yang sangat. Selain kesungguhan juga keistiqomahan alias konsistennya dalam mewujudkan mimpinya. Yang akhirnya mimpi benar-benar terwujud, sampai pada tujuannya (jadi mesti istiqomah nih biar tujuannya sampai :))

Hal ketiga yang menjadi catatan pentingku adalah hakekat hidup manusia. Kata Alif waktu ngobrol di tengah kegelapan kantor dengan Kinara, “ Hidup itu adalah seni menjadi. Menjadi hamba Tuhan, sekaligus menjadi penguasa alam. Kita awalnya makhluk rohani, yang kemudian diberi jasad fisik oleh Tuhan dengan tugas menghamba kepada Dia dan menjadi khalifah untuk kebaikan alam semesta. Kalau kedua peran ini bisa kita jalankan, aku yakin manusia dalam puncak kebahagiaan. Berbakti dan bermanfaat. Hamba tapi khalifah”. Hmm dalem banget kan yah? jadi mikir nih sudah jadi hamba belum yah?

Nah hal terakhir yang menjadi catatan penting adalah, sejauh-jauhnya merantau tetap kembali ke satu muara juga. Nice banget nih dibagian epilognya :

Akulah si perantau ragawi. Akulah si pengembara rohani. Akulah si pencari yang terus menderap langkah, berjalan dan berjalan terus, karena aku yakin suatu saat akan sampai.

Sejauh manapun aku mengembara, keseluruhan hidup pada hakikatnya adalah perantauan. Suatu saat aku akan kembali berjalan pulang ke asal. Kembali ke yang satu, yang esensial, yang awal. Yaitu menghamba dan mengabdi. Kepada Sang Pencipta.

 

Hmm, mungkin itu saja review buku ketiga Bang Fuadi. Bagi yang lagi galau abis lulus kuliah mau ngapain mesti baca ini buku, paling tidak bisa nagasih spirit buat kita untuk melanjutkan hidup (Jadi inget pasca sidang skripsi, what next?).

Man jadda wajada (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)

Man shabara zhafira (Siapa yang bersabar akan beruntung)

Man saara ala darbi washola (Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan)

 

2 thoughts on “Rantau Satu Muara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s