Amelia

amelia
Cang cang…

Akhirnya bisa juga posting review buku hari ini. Buku ini memang sudah lama sekali dinanti-nanti oleh para penggemar serial Anak-anak Mamak, dan akhirnya baru realis Desember 2013. Padahal dah di janjiin dua tahun yang lalu.

Buku ini adalah akhir dari serian Anak-anak Mamak, pasti masih ingat kan, buku-buku sebelumnya? Ada Burlian, Pukat dan Eliana. Tokoh-tokoh dalam buku ini masih sama, ada Mamak, Bapak, Kak Eli “Si Pemberani”, Kak Pukat “Si Jenius”, Kak Burlian “Si Anak Spesial, dan Amelia “ Si Penunggu Rumah”. Selain keluarga Mamak dan Bapak, masih ada juga Pak Bin guru sekolah mereka yang (menurutku) keren, Nek Kiba, Wak Yati, dan tentunya Paman Unus (di seri ini jujur aku jadi ngefans sama dia, hihihi). Nah tidak ketinggalan teman-teman gang “Anak Bungsu” teman sepermainan Amelia ada Chuck Norris, Maya dan Tambusai.

Cerita di serial ini yaitu tentang perjuangan Amelia untuk bisa mengubah “sesuatu” yang ada di kampungnya. “Sesuatu” itu adalah membuat kampungnya lebih maju, lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya. Yaitu dengan kopi. Hmm, seru sekali mengikuti petualangan Amelia mengubah paradigma masyarakat kampung itu untuk mau merubah pola bertani dengan lebih baik. Ide itu muncul dari petualangan Amelia bersama paman Unus di hutan. Di sanalah Amelia, menemukan biji kopi yang kualitasnya sangat bagus dibadningkan dengan kopi yang selama ini warga tanam. Lalu dibawalah biji kopi itu untuk diperbanyak di perkebunan kampung. Dibantu oleh paman Unus, dan teman-teman segengnya, Amelia berhasil membibitkan tanaman kopi spesial yang diambilnya dari hutan.

Keberhasilan pembibitan ini coba ia sampaikan kepada Bapak dan juga masyarakat di sekitarnya. Perjuangan Amelia dan teman-temannya mengajak warga untuk menanam kopi hasil pembibitannya, cukup seru dan memberi banyak pengertian khususnya untukku sendiri bagaimana karakteristik warga yang sulit menerima sesuatu yang baru. Lalu bagaimanakah hasilnya? Apakah Amelia dan teman-temannya berhasil melakukannya? Ya, dia akhirnya berhasil membuat warga mau menanam kopi itu. Namun setelah menunggu hasilnya, waktu panen tiba bagaimana hasilnya? Hmmm, ini endingnya mengejutkan membuatku langsung berkata “apa?”. Bukan bermaksud untuk menyesalkan, tapi sedikit kecewa. Tapi ya namanya juga novel jadi suka-suka penulisnya mau diakhiri seperti apa. Namun di bagian epilognya, cukup membuat meredamkan rasa kecewa pada bagian akhir cerita. Amelia “anak bungsu penunggu rumah” apakah dia akan tetap menjadi si penunggu rumah? Ataukah dia akan meneruskan cita-cita hebatnya? Silahkan baca sendiri. Mumpung masih libur🙂

Selesai baca akhir bulan Desember 2013 tapi baru bisa posting sekarang🙂. (Malesnya mulai kumat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s