Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman

MEi-Hwa-500x500
Buku ini aku beli karena penasaran dengan sebuah review penulisnya (Afifah Afra) di twitternya. Yang membuat penasaran adalah novel ini cocok dibaca untuk mengingat dan merefresh tragedi Mei 1998. Nah, menurutku latar di tahun itu sangat menarik dan bisa dikatakan novel berlatar sejarah. Oke mari kita simak sedikit hasil apa yang aku baca.

Novel ini berkisahnya dua orang wanita. Pertama adalah Sekar Ayu. Sekar Ayu adalah wanita sang pelintas zaman, hadir ke dunia saat Indonesia masih dijajah Belanda, terlahir dari seorang ibu ningrat dan ayah pedagang arab yang alim. Kelahirannya menjadikan sang nenek menginginkan cucunya harus dididik ala Ningrat, sedangkan sang ayah mendidik dengan cara islam. Namun, takdir berkata lain, kematian sang ayah menjadikan Sekar Ayu harus dididik ala ningrat seperti keinginan neneknya. Semenjak kematian ayahnya, ibunya menikah lagi dengan seorang pegawai pemerintah pilihan nenek. Sang ayah tiri sangat menyayangi Sekar Ayu bahkan sudah selayaknya anak kandung sendiri. Seorang gadis cantik berusia 5 tahun berwajahkan ayu seperti ibunya blasteran Eropa menjadikan Sekar Ayu semakin di sayang di keluarga ini. Namun kisah bahagianya hancur diusianya masih begitu belia. Ketika Jepang menduduki Indonesia, sang ayah tiri di masukkan ke dalam penjara dan ibunya dijadikan jugun ianfu.

Ketika kejadian malam itu, saat ayahnya dibawa ke penjara dan ibunya di bawa oleh tentara jepang, dia berlari menjauhi rumahnya. Di tengah perjalanan Sekar Ayu bertemu dengan seorang perwira Jepang sangat baik, dan menjaganya di rumah perwira itu. Namun kebaikkan itu tidaklah selamanya, diusianya 6 tahun dia diperkosa dan dijadikan pemuas nafsu pria jepang itu. Dan dalam perjalananannya akhirnya dia mampu melarikan diri. Pelarian Sekar Ayu dari rumah itu tidak serta merta membuat hidupnya aman, justru ini adalah awal dari kisah hidupnya yang berat dan keras.

Wanita yang kedua adalah Mei Hwa, gadis berparas cantik keturunan Tionghoa. Selain cantik juga pintar dan kaya, sehingga dia masuk di fakultas kedokteran. Cita-citanya untuk menjadi dokterpun tercapai. Keluargnya yang begitu sangat kaya, tidak membuatnya sombong dan angkuh. Selama menjadi mahasiswa Mei Hwa dikenal mahasiswa yang cerdas dan banyak prestasi sehingga mendapatkan gelar mahasiswa berprestasi. Mei Hwa sering mengisi di berbagai acara mahasiswa baru untuk memberikan semangat belajar.

Pertemuan Mei Hwa dengan Firdaus sang aktivis mahasiswa yang sangat jauh pemikirannya dengannya, membuatnya semakin membuka diri tentang perjuangan dan kepedulian terhadap sesamanya. Tidaklah hanya karena berbeda suku menjadikan adanya perbedaan perlakuan. Tapi di era tahun 1998 kebelakang hal ini tentu menjadi sangat diperhatikan. Dan hal ini yang membuat Mei Hwa sedikit ragu dengan ajakan Firdaus untuk berjuang bersama para mahasiswa lain memperbaiki kondisi bangsa ini. Seiring berjalannya waktu Mei Hwa sang gadis keturunan Tionghoa itupun akhirnya mulai mencoba sesuatu yang baru baginya. Tidak hanya belajar dan membaca saja tapi juga bersama para mahasiswa ikut berdemontrasi.

Bersamaan dengan itu saat ia kembali ke Jakarta untuk menemui keluarganya, kondisi Jakarta dan kota-kota besar lainnya sedang dalam siaga. Bukan hanya demonstrasi tetapi juga penjarahan, kerusuhan dimana-mana. yang menyebabkan kelumpuhan di kota-kota besar. Kenekatan Mei Hwa untuk kembali ke Jakarta dicegah oleh Firdaus, namun keras kepala Mei Hwa tidak bisa membuat Firdaus mampu mencegahnya. Dan peristiwa besar terjadi dalam hidup gadis cantik, cerdas nan kaya itu. Rumah habis terbakar, ayahnya stress, ibunya bunuh diri dan dia diperkosa. Hal ini membuatnya tidak percaya lagi akan perjuangan dan semangat kesamaan perlakuan pada orang-orang Tionghoa. Kepercayaan yang telah sedemikian besar dia sampaikan kepada Firdaus luruh sudah.

Lalu bagaimana kisah dua wanita ini berlanjut, apa hubungan mereka? Sekar Ayu sang manusia setengah kayu dan Mei Hwa sang manusia setengah kapas, mereka bertemu dan saling melengkapi masing-masing kisahnya, di kota Solo.

Jujur saja setelah baca buku ini jadi tahu tentang sejarah, khususnya dimasa PKI dan kisah heroik para mahasiswa di era 1997/1998. Alurnya dijadikan dua bagian, satu bab untuk Sekar Ayu di bab berikutnya untuk Mei Hwa. Tapi di atas paragraph sudah tertulis tahunnya, jadi kita tidak bakalan keliru untuk membaca kisahnya siapa. Wah jadi penasaran sama novel lain dari Afifah Afrah (kayaknya aku yang banyak ketinggalan tentang dia😮 ). Siap-siap berburu lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s