Negeri di Ujung Tanduk

negeri di ujung tanduk
Setelah menyelesaikan buku Negeri Para Bedebah, buru-buru aku sambar buku Negeri di Ujung Tanduk. Saking penasarannya dengan jalan cerita Thomas, Om Liem dan Opa. Langsung saja, oke?!

Kisah di Negeri di Ujung Tanduk masih tentang perjuangan Thomas menemukan siapa di balik konspirasi besar yang menimpa kasus Bank milik pamannya itu. Setelah keberhasilannya dalam menangani kasus Bank milik pamannya, kini Thomas mendirikan perusahaan konsultan bukan hanya ekonomi tetapi juga konsultan politik. Karena sistem ekonomi yang ada tidak bisa lepas dari sistem politik yang ada di suatu Negara. Lalu kasus yang kali ini di tangani oleh Thomas adalah tentang pemilihan presiden. Hehehe… mumpung ini lagi pilpres, sengaja baru nulis reviewnya sekarang. Dalam novel ini Thomas berusaha mengangkat seorang calon presiden yang jujur dan lebih pantas untuk menjadi seorang pemimpin dari pada yang pemimpin lain. Tentu saja pemimpin-pemimpin yang lain hanyalah pemimpin “boneka” yang disetir oleh pihak tertentu untuk kepentingan dan keuntungan pihak itu.

Di awal bab kita akan disajikan tentang pendidikan demokrasi. Tidak ada demokrasi untuk orang-orang bodoh. “Bagaimana mungkin kita akan mempercayakan keputusan pada orang yang tidak mengerti apa yang sedang mereka pilih atau putuskan? Atau yang lebih ekstrem lagi, mereka berkepentingan atas keputusan tersebut”. Kalimat ini yang disampaikan Thomas kepada wartawati bernama Maryam. Kalimat tadi cukup membawa alur cerita ini akan dibawa ke mana. Keseruan kembali dihadirkan layaknya film action. Thomas mencoba membuka celah “Mafia Hukum” untuk bisa membuka mata dunia betapa mengerikan Negeri ini dipimpin oleh para penipu. Dan ternyata “Mafia Hukum” ini tidak hanya berdiri sendiri, sebuah lingkaran besar mengikat dan berporos pada satu titik yang menjadi jawaban besar atas kasus-kasus di Negeri ini. Masih bersama sekretarisnya Maggie dan di temani oleh Maryam, Thomas berusaha mengurai benang dari lingkaran itu. Namun ternyata ujung dari benang itu tak mengikat pada poros apapun, sebagaimana seharusnya. Dan jawabannya ternyata begitu sangat dekat dengannya.

Oh ya, aku lupa menyampaikan bahwa Thomas adalah seorang “petarung” . Dalam istilah “petarung”, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir demi membela kehormatan. Nah karena dasar dalam jiwanya adalah seorang petarung sejati maka kasus yang dihadapinya yang selalu bertaruh dengan nyawa, akan tetap dia selesaikan untuk menjaga kebenaran yang seharusnya.

So, buku ini layak untuk dibaca untuk mengisi hari tenang menuju Pilpres 9 Juli besok. Paling tidak kita jadi tahu apakah benar demokrasi itu harus diterapkan untuk negeri ini? Atau, benarkah konspirasi besar itu ada? Aku hanya bisa mengatakan di Negeri di Ujung Tanduk ini, akan menemukan semua jawaban itu. Tapi untuk di kehidupan nyata, aku hanya mau bilang bisa iya, bisa juga tidak.

Selamat membaca, dan selamat memilih. Salam SATU jari🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s