Negeri Para Bedebah

negeri para bedebah
Hmm, akhir tahun lalu saat semester 1 usai, sengaja jalan-jalan ke Jogja untuk mencari bacaan seru buat mengisi liburan. Maklum belum ada teman yang bisa diajak tukeran buku, jadi mesti nyari jauh-jauh ke propinsi sebelah. Sekaligus silaturahim teman-teman di sana. Itu yang bikin aku selalu pengen balik lagi ke sana.

Oke kali ini tidak sengaja membeli buku dengan Judul Negeri Para Bedebah dari Tere Liye. Dari judulnya sebetulnya tidak terlalu menarik, kerena terlalu kasar dan keras. Ada hal negatif yang membuatku menjadi enggan untuk membacanya atau membelinya. Sebetulnya buku ini sudah sering aku lihat satu tahun sebelumnya dan ingin ku baca karena penasaran, tapi karena dengan judul yang membuatku terasa aneh, akhirnya ku putuskan untuk tidak membacanya (ternyata judul buku mempengaruhi seseorang untuk membaca atau membeli buku). Dan baru akhir Desember 2013 itu aku memutuskan untuk membelinya sekaligus sekuelnya yang berjudul Negeri di Ujung Tanduk. Oke sekarang aku akan mulai menceritakan sedikit apa yang aku baca di buku ini. Yang boleh di katakan buku ini adalah obat kekecewaanku dari buku Tere Liye yang ku baca sebelumnya.

Thomas, adalah tokoh utama dalam novel ini. Pemuda berusia 30 tahunan, seorang ekonom terkenal dan keturunan Tionghoa. Ketika membaca novel ini kita akan di ajak, untuk mengenal tentang ilmu ekonomi yang sejujurnya istilah-istilahnya menurutku agak sulit (maklum waktu kuliah dulu tidak terlalu mendalami ekonomi). Awalnya memang menjadi bosan dan harus banyak berpikir tentang arti dari istilah-istilah itu. Namun, beberapa bab berikutnya mulai terbuka alur yang jelas dari novel ini.

Kisah ini adalah tentang Thomas seorang konsultan perusahaan yang mencoba untuk menyelamatkan perusahaan (Bank) milik pamannya yang bernama Om Liem. Bank yang harus diselamatkan karena adanya krisis ekonomi tahun 2008 dan juga konspirasi pihak-pihak tertentu untuk membuat bank ini beku. Thomas di temani oleh sekretarisnya bernama Maggie berusaha sekuat tenaga untuk membuat bank central untuk tetap mengucurkan dana (bailout) agar bank ini tetap bertahan. Di bantu oleh seorang wartawan bernama Julia, Thomas berusaha untuk mempertahankan perusahaan pamannya. Perjalanan yang panjang dan adegan-adegan seru serta mengangkan menemani kita menemukan jawaban-jawaban dari kisah ini. Cerita ini jauh dari cerita petualangan di alam liar, gunung atau terdampar di pulau tak berpenghuni, tetapi petulangan mencari kebenaran di tengah banyak kawanan aparat dan konspirasi besar (dunia). Hmm, jadi seperti nonton film-film aksi Hollywood. Aku cukup bilang novel ini SERU BANGET!!! Apalagi yang suka action dan berbau-bau politik. Aku bilang ini dapet banget.

Ya, ketika dipertengahan kita seperti dibawa penulis untuk membuka celah kasus Bank Century. Hampir mirip, mungkin saat itu penulis terinspirasi dari kasus Bank Century, jadi tertulislah buku ini. Tapi harus hati-hati jangan sampai terjebak bahwa kasus Bank Century itu sama dengan kasus yang ada dalam buku ini (kisah fiksi kalah seru dibandingkan dengan kisah nyata). Hehehe… Nah bagaimana akhir ceritanya? Yang jelas, konsiprasi itu ada dan seperti dalam film-film action, pihak-pihak yang melakukan konspirasi akan mati dan kalah. Tapi ternyata masih ada kelanjutannya di sekuelnya “Negeri di Ujung Tanduk”. Dan di buku kedua ini akan menyajikan sebuah jawaban besar dari pertanyaan pada buku pertamanya. Selamat membaca kawan-kawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s