Anak Buangan

Huhuhu… membaca judulnya aja udah ngeri merinding disko. “Anak buangan” adalah istilah yang cukup popular dikalangan “kami-kami”. Mendengar istilah ini pertama kali, berasa kalau konotasinya sangatlah negatif, betul-betul negatif. Entahlah waktu awal aku mendengarnya memang agak risih, tapi lama-lama menjadi hal yang biasa. Namun hari ini aku tersadar, sesaat aku berdiskusi panas dengan salah seorang rekan kerjaku. Dengan tegas beliau mengatakan tentang si “anak buangan” itu, dan saat itu hatiku tiba-tiba berontak dan mengatakan dengan lantang, mereka bukan “anak buangan”, seperti yang beliau katakan. Cukup itu saja, aku tak memberikan penjelasan atau argumen apapun, karena jika diteruskan sampai magrib bisa-bisa aku gak jadi pulang (lebay…).

Sekarang aku baru menemukan argument yang tepat, untuk tidak menyebutnya sebagai “anak buangan”. Aku lebih suka menyebutnya anak-anak yang belum beruntung atau anak-anak malang, karena keadaan dan kebijakan sang “pengambil keputusan”. Mereka hanyalah korban dari ketidakmampuan sang “pengambil keputusan” dalam mengambil langkah kebijakan yang bijaksana. Mereka bukanlah objek selayaknya robot yang bisa disetir sesuka hati sang pengendailnya, tapi mereka adalah anak-anak yang lemah hatinya dan lemah berpikir karena kodratnya mereka yang masih bersenang-senang dengan apa yang mereka sukai dan yang mereka ingini. Hanya karena kebijakan sang “pengambil keputusan” yang tidak bijaksana menyebabkan anak-anak itu menjadi korban. Mengorbankan dirinya, mengorbankan keinginannya, mengorbankan mimpinya. Hal pertama yang dilakukan adalah mengevaluasi, di mana letak salahnya? Sembari mengurai missing link yang terjadi, sambil terus berpikir bagaimana langkah selanjutnya. Langkah terbaik untuk mereka, agar bisa mengakomodasi hasrat dan keinginan dalam wadah yang tepat.

Hal ini yang akan menjadi PR terberat selama satu tahun ke depan, menyembuhkan korban-korban itu dengan kreativitas sang “penunjuk jalan” yang akan membawa mereka ke jalan yang terbaik. Dan semoga mereka bisa menemukan harta karun terhebat di tempat anak-anak malang ini berlabuh sementara.
Dan kini aku, sang “pengambil keputusan” ini bukan hanya merasa bersalah dan berdosa tapi juga harus meminta maaf dan meminta mereka untuk bersabar sampai satu tahun ini berjalan. Dan aku berharap agar mereka benar-benar bisa menemukan harta karun di tempat itu suatu hari nanti.

STOP MENYEBUT MEREKA ANAK BUANGAN!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s