Ketemu Jodoh

Ehm lagi pengen ngomong serius tapi tetep santai. Hehehe… umur-umur segini lagi sensitif dengan hal hal yang berbau nikah. Apalagi abis lebaran ini, undangan sudah menanti banyak. Hohoho… kalau udah gitu pasti deh langsung ditembak, “ditunggu undangannya er”, weladalah… tak undang rapat wae po piye? Hahaha…diundang rapat wae kadang yo ra teko. Eh malah curhat. Emang lagi mau curhat. 

Ckckck… sebenarnya nih tulisan udah nangkring hampir satu tahun yang lalu, tapi baru bisa edit sana edit sini dan share malam ini. I dont know why? Kenapa harus segera share tulisan ini. Ah ya sudahlah, pokoke tak share wae. Tapi ada satu yang bikin galau saat mau ngeshare ini, judulnya apa yah?? Ternyata ngasih judul tuh susah yah? Wis lah teko tak kasih judul “ketemu jodoh”, biar lebih dramatis eh nggak ding tapi biar lebih menarik buat dibaca. Tapi yakin wis, antara judul ma isinya beda. Hehehe… tipu tipu ala artikel or berita online. 😁

Cuuss ajah yah. Yuk marie… 

Yang namanya jodoh itu pastinya tidak ada yang tahu. Pun demikian dengan diri kita sendiri. Sesuka – sukanya kita dengan si dia pun demikian dianya juga suka pada kita, namun jika Allah tak menakdirkan berjodoh, yah sudah usaha apapun tak akan bisa lolos. Dan jika kita tak pernah menganggap dia bakal jadi jodoh kita, eh tiba-tiba saja Allah menjodohkan kita maka jadilah si dia berjodoh dengan kita. Hmm… berat memang pembicaraan kali ini, bukan lantaran galau kok gak laku-laku, tapi sebenarnya menulis ini karena sedang bercermin apakah aku sudah pantas untuk menikah?

Yaelah er… udah berapa tahun sih lo hidup didunia ini? Masih nanya sudah pantas atau belum?

Menikah bukanlah perkara usia, itu apologiku. Tapi perkara kesiapan dalam pribadi untuk bisa berbagi peran dalam kehidupan berumah tangga. Peran yang mungkin sangat jauh dari peran kita selama masih jomblo. Nah, kerelaan untuk berbagi peran, bersama melangkah menuju visi dan misi hidup berumahtangga, bersama menyelesaikan persoalan baik pribadi (suami-istri), keluarga, tetangga, masyarakat, tempat kerja, kawan lama, sahabat baru, dsb adalah sebagian kecil yang harus diikatkan dalam komitmen bersama. Yah, KOMITMEN, dalam berumah tangga bukan hanya sekedar rasa “cinta” yang tumbuh diantara pasangan tapi lebih pada komitmen. Sejauh mana komitmen masing-masing pasangan terhadap pasangannya. Tak cukup hanya sekedar menerima kekurangan dan kelebihan, menutup kekurangannya dengan penerimaan kita. Memang kata-kata itu cukup untuk memberikan kelegaan bagi sipasangan, namun what next, lalu apa yang harus dilakukan dengan itu semua. Apakah hanya sekedar aku terima kamu apa adanya. (Titik)?? Rasa-rasanya jika kita hidup dengan prinsip yang demikian, yang terjadi adalah penerimaan yang tak produktif, ibarat kata, sudah tahu kita tak punya uang untuk makan, lalu apakah kita akan menunggu terus makanan itu jatuh dari langit. Tentunya tidak demikian, kita harus berusaha setelah tahu kekurangan dari pasangan kita bagaimana kita membuat kekurangan itu tidak berlarut-larut bahkan menjadi habbit (kebiasaan) yang mungkin bisa menjadi perusak komitmen dalam pernikahan. Alangkah baiknya jika demikian ada usaha, untuk bisa bersama-sama memperbaiki, saling support, saling membantu sehingga rumah tangga ini menjadi lebih produktif.

Aku pernah ikut beberapa kali dauroh/kajian pra nikah, dari beberapa hal yang aku garis bawahi adalah bagaimana pernikahan tidak menjadikan kita malah menurun dalam produktifitas. Baik itu dalam konteks dakwah ataupun personal. Misal, setelah menikah justru banyak ikhwah yang jarang datang liqo, banyak suami-suami yang tidak bisa pergi mukhoyam gegara sang istri merasa keberatan ditinggal beberapa hari, istri yang tidak diijinkan untuk mengisi kajian atau bahkan untuk hadir pada agenda dakwah karena harus mengurus suami/anak-anak. Bukankah ini yang dinamakan komitmen? Hmm, mungkin karena aku belum merasakan yang namanya berumah tangga, jadi teori-teori ini aku makan mentah-mentah. Hehehe… tapi kalau aku lihat pada prakteknya ada beberapa contoh rumah tangga yang memang produktif namun ada juga yang tidak produktif. Dan ternyata berdasarkan analisa sepintas sambil lalu, hal ini adalah karena pada proses awal pernikahan yang akan dirancang kedepan.

Nah, bagi mereka yang produktif biasanya proses yang lurus dan biasanya ada campur tangan jamaah akan lebih terjaga, sedangkan yang tidak produktif biasanya proses dari awal yang tidak sepenuhnya dari jamaah. Ah, aku tak membandingkan, tapi hanya analisa sambil lalu.

Eh jadi ngomongin jamaah juga. Intinya sih pada prosesnya saja. Prosesnya dengan baik dan syar’i insyallah berkah. Ada yang bilang kalau gak salah ust. Salim A. Fillah, Allah akan memberikan jodoh kita dengan lembut ketika kita berproses dengan baik, tapi bisa jadi Allah melemparkan jodoh kita karena kita berproses tidak baik. 

Yah,melelahkan sekali menulisnya, mikirnya juga sampai ribuan kali. Karena minim dengan pengalaman, hanya melihat dari kanan kiri, mendengar dari sana sini, membaca dari cerita ini itu. Yah, cuma bisa berdoa juga semoga Allah memberikan yang terbaik. Baik dalam berproses, sampai ketemunya, dan juga menjalani kehidupan setelahnya. Lagi ngehits banget istilah jodoh sesurga. Nah semoga, segera “ketemu sama jodoh sesurga”. Hehehe… 

Tulisan diselesaikan ditemani bisingnya suara “truk molen” yang lagi ngecor jalan depan rumah. Hohoho… pelebaran jalan, bisa berakibat tambah lebar jalannya, tambah ramai kendaraannya, dan semakin “kota” deh kampung ane. Disyukuri saja, dan selamat malam.:mrgreen:

2 thoughts on “Ketemu Jodoh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s