Gagal Sarjana 

Ini sudah bulan Agustus akhir, sudah saatnya posting lagi di blog. Semoga tetep istiqomah buat nulis di sini minimal satu bulan sekali. Ide itu sebetulnya tidak terbatas tapi menulis butuh komitmen yang kokoh. Ehm ehm malah jadi ngomongin komitmen, sudahlah, aku mau bahas tentang judul diatas “Gagal Sarjana”. Tulisan itu sebetulnya aku dapatkan dari sebuah tulisan di belakang truk saat perjalanan ke Semarang jemput keluarga mas yang pulang kampung sekitar satu tahun yang lalu. Emang mau dijadikan tulisan, tapi yah itu tadi komitmen menulis itu yang sepertinya belum kokoh. Hehehe… oke mari sejenak rileks dan membaca tulisanku yang masih acak acakan ini. 

Menjadi sarjana adalah impian dari setiap orang (betul tidak?). Kalau misalnya tidak, yah ini buatku sajalah. Menjadi sarjana adalah impianku, apalagi menjadi sarjana dari sebuah perguruan tinggi yang “bagus”. Dan aku sangat bersyukur karena menjadi salah satu dari sekian puluh ribu lulusan dari PT “bagus” tersebut. Oke, aku sebut merek sajalah dari pada tak jelas, Universitas Gadjah Mada atau UGM. Siapa yang tidak mau belajar di universitas ini. Bisa dikatakan sebagian siswa/i SMA pasti bermimpi untuk belajar di sini. Dan salah satunya aku. Yah, sejak kecil entah awalnya dari mana mendengar perguruan tinggi ini aku langsung berkeinginan jika nanti kuliah harus di sini, di UGM. Seiring berjalannya waktu, menginjak SMA kelas 3 idealisme yang tertanam semenjak kecil bertarung, yah ada dua idealisme dalam diri. Bercita-cita menjadi guru dan kuliah di UGM. Kita tahu bahwa UGM tidak memiliki faktultas kependidikan (kecuali pendidikan dokter). Jadi otomatis harus punya pilihan lain apakah meneruskan idealisme menjadi guru dengan kuliah di fakultas kependidikan atau ambil jurusan lain tapi tetap mendaftar di UGM. Maka ikhtiar awal adalah mencoba untuk mendaftar PMDK di UNNES (Universitar Negeri Semarang) yang saat itu aku memilih jurusan Pendidikan Matematika (karena aku sangat suka pelajaran ini). Karena keyakinan dalam diri maka, aku putuskan untuk tidak mendaftar di lain kampus termasuk UGM yang saat itu membuka jalur pendaftaran UM UGM yang menjadi pintu terbesar untuk masuk ke universitas ini. Sekitar 75% kursi direkrut melalui jalur ini, sedangkan 25% melalui jalur PMDK dan SPMB (kalau sekarang namanya SBMPTN, kebijakan ini dikarenakan adanya status baru dari 5 PTN yang berubah menjadi BHMN (sekarang apa yah namanya?). Namun di last minute, ada saran dari mas untuk mencoba mengambil juga formulir UM UGM. Istilahnya buat coba-coba aja. Awalnya ragu, tapi karena didukung oleh bapak dan ibu jadilah aku membeli formulir UM UGM di hari terakhir pendaftaran kolektif. Nah pada saat mengisi formulir terjadilah konflik batin dalam diri apa saja yang harus diambil (pada saat itu ada 3 pilihan). Lalu akupun mengisi 3 pilihan yang menurutku logis untuk kemampuan akademikku. Pilihan pertama yaitu matematika karena aku suka matematika, lalu pertanian, saat itu mikirnya karena aku tinggal di desa jadi sepertinya pas dan cocok jika nanti lulus bisa langsung dipraktekkan. Dan pilihan ketiga adalah peternakan, aku beralasan yang sama ditunjang dengan saat itu aku senang dengan hewan, entah ayam, kucing, dll. Singkat cerita, ternyata aku tidak lolos untuk PMDK Unnes dan lolos di UM UGM jurusan social ekonomi peternakan. Wow, mengingat pada saat tes UM UGM aku tak belajar, hanya belajar satu kali seminggu sebelumnya dan malam sebelum ujian malah nonton sepakbola kalau  tidak salah Piala Eropa. Hahaha ini yang namanya takdir.

Setelah dipikir ulang dan mempertimbangkan banyak hal aku putuskan untuk tidak mengambil kuliah di UGM ini, dan akan berikhtiar lagi untuk ikut SPMB mengambil jurusan keguruan. Namun, orang tua mempertimbangkan lain dan tetap mengambil di UGM dan tidak perlu ikut SPMB dan tes-tes masuk perguruan tinggi yang lain. Yah sudah karena sudah diputuskan begitu maka dijalani saja. 

Sepanjang perjalanan awal kuliah ternyata agak berat, bukan karena mata kuliah yang sulit. Tapi merasa ini bukan duniaku, selama awal kuliah menekatkan dan meniatkan diri untuk keluar dari kampus ini dan mengikuti SPMB tahun berikutnya dan mengambil kuliah keguruan. Namun, seiring berjalannya waktu sampai pada detik terakhir pendaftaran SPMB tahun 2005 takdir berkata lain. Masih teringiang sampai sekarang kata-kata mbak MRku, bahwa inilah takdir yang harus kita syukuri dan kita jalani. Belum tentu apa yang nanti kita ambil nanti menjadi baik untuk kita, dan bisa jadi di sinilah tempat kita menjemput takdir kita yang lebih baik. Yah, inilah pilihan terberat dalam hidup menentukan masa depan yang belum pasti. Lalu, keputusan di last minute kali ini adalah aku akan menjemput takdirku di fakultas Peternakan UGM. Tidak mudah memang, harus mengulang semua dari awal. Niatkan kembali dengan lurus, bahwa dimanapun kita berada semua karena Allah dan niatkan untuk ibadah, mencari ilmu karena Allah. Akhirnya takdir-takdir indah yang mengiringiku sampai detik akhir meninggalkan kota Jogja tercinta begitu indah dan dahsyat. Tak pernah disangka dan tak pernah dinyana aku pada titik ini. 

Sekali lagi perjalanan ini tidak mudah, meniatkan kembali memang mudah namun menjalaninya ada saja ujiannya. Dan inilah yang harus ditempuh, dijalani, dikalahkan dan diperjuangkan. Sebagian teman-teman seangkatan ada yang lulus dengan cepat, ada juga yang pas, dan ada pula yang berlebih, like me. Yah, saat di akhir waktu yang sangat krusial membuat diri ini merasa sudah tak sanggup lagi untuk melangkah, jangankan melangkah bertahanpun sulit. Merasa sudah berhenti, dan akan gagal menjadi seorang sarjana. Hingga kemudian tangan Allah mulai bekerja. Entah apa yang kulakukan dulu, hingga kemudian Allah sungguh meringankan bantuanNya melalui sahabat-sahabat yang setia menemani dan menyemangati untuk bisa menyelesaikan kuliah. Kadang masih tidak percaya bahwa akhirnya aku bisa lulus. Hehehe kalau ingat masa itu rasanya aku ini bukan apa-apa dan bukanlah siapa-siapa. Hanya bisa bersyukur dan terus bersyukur, bahwa satu cita-citaku tercapai yaitu menjadi sarjana dari universitas terbaik di Indonesia. 

Aku mengakui disinilah aku mendapat banyak hal. Bukan hanya ilmunya saja, tapi banyak yang aku dapatkan. Lebih tepatnya disinilah aku mendapatkan ilmu tentang hidup. Bagaimana kita hidup, bertahan hidup bahkan bisa menghidupi orang lain. Disinilah aku mendapatkan semuanya. Aku tidak bisa menyangkal bahwa disinilah universitas terbaik bukan karena dosen-dosen terbaik ada di sini, bukan juga karena fasilitas yang memadai. Tapi bertemu dengan orang-orang bijak yang membuat diri ini mampu menerima takdir dengan baik, menggunakan fasilitas yang ada menjadikan lebih banyak bersyukur karena begitu mudah mengakses sesuatu yang terkadang tak pernah ditemui diluar sana.  

Yah, lulus dari sini bukan berarti langsung menjadi orang sukses. Butuh perjuangan untuk melangkah kembali. Dan kali ini bisa dikatakan aku benar-benar menjadi orang yang gagal sarjana. Bagaimana tidak? Teringat kata MRku dulu Sebuah perguruan tinggi membuat program studi itu ada latar belakangnya, yaitu bahwa Negara ini membutuhkan orang-orang dengan latar belakang pendidikan tersebut. Contohnya, pertanian, peternakan, dll. Bahwa sebetulnya Negara ini membutuhkan sarjana pertanian, peternakan untuk memajukan Negara ini dibidang agro. Hmmm, jadi mikir lagi saat setelah lulus waktu itu. Apakah kemudian akan berkecimpung di dunia yang sesuai dengan latar belakang pendidikan atau hijrah ke cita-cita yang berikutnya atau menerima takdir lainnya? Saat itu aku juga teringat ketika dosen pembimbingku bertanya, Setelah lulus mau apa? dengan mantap aku menjawab, Jadi guru, pak. I dont know. Kemantapanku dari dulu saat kuliah pertama kali sampai detik selesai ujian skripsi, dibenakku ingin menjadi guru. Yah, inilah yang menjadi kegagalan sebenarnya. Bukan ijazah yang diterima atau gelar yang tersematkan sebagai tanda keberhasilan, namun sejatinya keberhasilan dan kegagalan menjadi seorang sarjana adalah pada sejauh mana kebermanfaatan dari ilmu yang didapatkan. 

Teringat kembali pada perbincangan dengan salah seorang teman beberapa waktu lalu. Dia adalah seorang dosen disalah satu sekolah tinggi di kota Magelang yang juga dulu satu almamater denganku. Dia berasal dari, yang menurutku, program studi terkeren di UGM. Dia menganalisis bahwa sekitar 70% mahasiswa itu salah jurusan. Bisa dilihat dari setelah lulus dari kuliah kemana dia bekerja, apakah sesuai dengan latar belakang pendidikan ataukah menyebrang jauh. Selain itu juga dari passion yang mereka miliki, apakah mereka kuliah itu sudah sesuai dengan kesenangan dan minat sesungguhnya dalam dirinya. Analisa ini coba sedikit aku buktikan. Hehehe contoh konkrit yah, daku ini. Ngakunya sarjana peternakan eh kerjanya jadi guru SD (gak cuma aku sih, temen-temenku yang lulusan peternakan jadi guru SD ternyata banyak, mungkin karena kita sayang sama hewan jadi bisa representasi sayang sama anak-anak (). Ada juga temanku kuliahnya di keguruan eh kerjanya malah di Bank. Termasuk temanku ini yang ternyata mempunyai passion yang bukan di latar belakang pendidikannya itu. Hahaha apakah ini yang namanya gagal sarjana atau gagal dalam proses pendidikan? Atau? Entahlah 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s