Masih Pantaskah Menjadi Guru?


Tulisan ini adalah hasil dari kontempelasi (walah bahasane…), renungan panjang, evaluasi diri, sekaligus melihat fenomena yang sedang marak diperbincangkan khalayak ramai di dunia maya. Sebagai seorang guru memang menjadi sensitif jika ada kabar (entah itu gosip ataupun nyata) tentang guru lain. 

Kesimpulan dari kontempelasi yang ujug-ujug di subuh hari ini, adalah bahwa ternyata menjadi seorang guru itu tidak mudah. Dari segala aspek, entah pribadi, profesional dan juga pedagogik (widih pake bahasa tingkat dewa, padahal aye juga kagak ngarti. Ini aye simpulkan dari apel pagi yang dipimpin oleh bapak kepala sekolah). 

Aspek pribadi atau individu yaitu guru dituntut untuk menjadi sempurna seorang teladan (bukan telatan, ini mah aye). Dalam istilah bahasa jawa guru berarti digugu lan ditiru, yang artinya bahwa guru itu akan dianut, didengar kata-katanya dan ditiru perilakunya. Lebih simpelnya sebagai teladan. Menjadi teladan itu tidak mudah teman, teladan yang dilihat pertama adalah sikap, perilaku, alias akhlak. Sikap/perilaku/akhlak ini tidak begitu saja timbul ujug-ujug, tapi tentunya diiringi proses panjang pembentukan karakter pribadi/individu dari guru tersebut. 

Guru, haruslah ramah, murah senyum supaya anak didiknya menjadi anak yang ramah pula. Guru, haruslah ringan tangan membantu dikala ada kesulitan, supaya murid-muridnya juga menjadi anak yang peduli. Guru, haruslah pandai menjaga diri dari kata-kata kotor, supaya siswa/inya menjadi anak yang terpuji tutur katanya. Guru, haruslah jujur dengan sikap dan tingkah lakunya, supaya peserta didiknya menjadi anak yang berani dalam menghadapi masalahnya. Guru, haruslah seorang yang penyabar lagi pemaaf, supaya anak-anak didiknya menjadi anak yang bisa menerima segela permasalahan dengan baik. Guru, haruslah menjadi sosok tanpa cela dalam kesehariannya sepert cara makan, minum, berjalan, duduk, berpakaian, bahkan sampai tidurnyapun harus sempurna. Oh, emang ada ya yang sampai ngintip tidurnya guru (hehehe..). Tentu saja hal ini membuat guru harus belajar lagi untuk menjadi pribadi yang sempurna, walaupun kesempurnaan itu hanya milik Allah semata dan manusia yang paling sempurna hanyalah Rosulullah SAW saja. Tapi paling tidak akhlak yang baik haruslah dijaga dengan sungguh-sungguh, jangan sampai izzah (alias harga diri) jatuh karena akhlak buruk kita dilihat oleh murid-murid kita. 

Aspek kedua yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah professional. Aspek yang sangat menunjang profesi sebagai seorang guru. Bagaimana cara dia mengajar, bagaimana memanajemen kelas, bagaimana dia menerangkan sebuah materi apakah sudah sesuai dengan kurikulum yang ada, bagaimana dia menyelesaikan seluruh administrasi yang diperlukan dan lain sebagainya. Yah, yang jelas ini lebih pada profesionalisme “kerja” sebagai guru, tenaga pendidik. Nah, ini juga tidak mudah untuk serta merta membuat kita menjadi seorang guru yang professional. Untuk menjadi guru yang professional dibutuhkan banyak hal, baik itu dari latar belakang pendidikan dari guru bersangkutan dan juga tambahan-tambahan ilmu baik dari pelatihan-pelatihan ataupun dari pengalaman selama mengajar dan tentunya dari sumber lain seperti membaca buku, sharing, dan lain sebagainya. 

Lalu aspek yang berikutnya adalah pedagogik (panganan opo iki?), mohon maaf sejujurnya aye juga kagak ngerti maksudnya gimana? Secara aye baru ngerti istilah pedagogik itu juga akhir-akhir ini aja pas ada UKG (Ujian Kompetensi Guru). Jujur kagak ngerti sama sekali, karena latar belakang pendidikan aye yang berbeda jauh dari dunia pendidikan. Hal inilah yang menjadi PR buat aye pribadi untuk belajar lagi dan lagi supaya kagak blank blank amat kalau ngomongin istilah-istilah pendidikan kayak gini. Nah berdasar hasil browsing-browsing beberapa waktu lalu, bisa aye simpulkan bahwa pedagogik itu adalah ilmu mengajar/ mendidik. Layaknya seorang yang berprofesi sebagai dokter, dia tentunya akan menjalani kuliah formal profesi dokter. Begitu juga seorang apoteker dia juga harus mengambil profesi apoteker. Demikian juga dengan guru, sebelum dia berprofesi sebagai guru dia harus terlebih dahulu mempelajari pedagodik. Terlebih guru SD dan TK, karena pedagodik ini merupakan ilmu khusus untuk mendidik anak. 

Nah lho? Ternyata dan ternyata menjadi seorang guru itu tidaklah mudah. Apalagi ini menyangkut hajat hidup dan masa depan seorang anak. Kudu dan musti berilmu dulu sebelum mengajar/ mendidik anak-anak. Memang sih awalnya dulu mengajar karena senang ada didepan kelas bicara dan menerangkan, tapi itu saja tidak cukup karena mendidik anak itu berbeda dengan mengajar sebuah materi. Berbicara didepan kelas itu mudah, namun bagaimana ilmu yang kita sampaikan itu bisa masuk dan meresap ke anak-anak itulah yang penting. 

Huh, jadi berpikir ulang apakah diri ini memang pantas dan layak menjadi seorang guru. Beberapa kali sahabat-sahabat tercinta setiap kali bertegur sapa mereka bilang, “masih nggak percaya kalau erli itu jadi guru SD”. Dan beberapa waktu lalu bertemu dengan salah seorang guru SD senior bilang “gak cocok jadi guru SD, cocoknya jadi pegawai Bank”. Hoh, jadi gimana gitu. Mungkin dari segi tampang emang gak cocok blas, dari segi kebiasaan juga gak mungkin banget (terkhusus untuk kawan-kawan yang sudah tahu aku lama, pasti ngerti), dari segi latar belakang pendidikan juga gak pas. Jadi sudah paslah jika pertanyaan itu tak perlu dijawab dengan perenungan panjang. Namun, entah mengapa justru akhir-akhir ini aye merasa tidak bisa melepaskan jati diri sebagai guru SD. Aye merasa senang dan tenang melihat anak-anak berpolah ketika belajar. Itu hiburan tersendiri, sungguh sangat menyenangkan bersama mereka, kepolosan dan kejujuran mereka membuat semakin betah dan tak ingin melepaskan mereka. 

Terlepas dari perasaan dan cita-cita sejak kecil dibenturkan dengan kondisi yang ada, pertanyaan “masih pantaskah menjadi guru?”, selalu terngiang. Membuat hati menjadi semakin bergejolak untuk bertahan ataukah melepaskan. Namun, yang dicari di sini bukan hanya sekedar profesi tapi panggilan hati. Mendidik dengan sebaik-baiknya, untuk menjadi tabungan amal kelak di yaumil akhir. Sembari seiring berjalan waktu belajar kembali tentang bagaimana berprofesi menjadi guru yang betul-betul professional. 

(Tulisan diselesaikan 2 pekan, hihihi…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s