Sebait Kata Itu

image

Ku baca satu persatu lembaran kertas yang berkisah. Berpikir kembali aku dibuatnya oleh kata-kata yang ia tulis. Sejujurnya tak ada yang istimewa dari kata-kata itu. namun entah mengapa tiba-tiba sebait demi sebait kata yang ku baca membuatku terbang melayang, serasa menuju nirwana. Sekali lagi, sesore ini ditemani buaian angin yang berhembus pelan, bait – bait itu ku baca.

21 Februari 2000
Dear Rasya

Hari semakin cerah, setelah seharian kampung diguyur hujan. Dan betapa dinginnya sore ini, sehingga rasa enggan untuk keluar rumah bersarang di benakku. Tapi aku ingat bahwa hari ini aku harus menyampaikan sesuatu kepadamu.

Aku terus bertanya pada diriku, apa yang sebenarnya terjadi denganmu malam itu. Engkau tiba-tiba marah, tanpa aku tahu apa salahku. Hingga satu pekan berlalu, tak juga kau sapa aku dan aku terus saja bertanya. Tak tahu aku harus bertanya kepada siapa, tentang masalahmu itu. Namun kemarin, salah satu sahabat kita, Ira, mengatakan bahwa kau marah karena sikapku yang tak tak mau jujur padamu.

Mungkin, sudah saatnya aku memang harus berkata jujur kepadamu tentangku dan juga tentang perasaanku. Tapi entah mengapa rasa berat itu selalu muncul ketika aku ingin mengatakan semuanya kepadamu.

Maaf jika saat itu bahkan sampai detik ini aku tak bisa jujur padamu. Tapi dengan tulisan kecil ini, semoga bisa membuka kejujuran yang selama ini aku simpan.Β 

Jujur aku sedang menyukai seseorang, dia gadis yang baik, lincah, menyenangkan dan yang pasti membuatku berdesir setiap melihatnya. Namun ketika aku ingin mengatakan rasa sukaku itu, aku selalu tak bisa. Dan akhirnya ku coba untuk menuliskannya dalam sebuah bait ini :

“Sembilu angin terus berdesir
Membuat anganku melampaui jalanku
Terus kuterbuai dalam lamunan panjang
Dan tiba-tiba muncul engkau yang tak sengaja ku pandang
Mungkinkah ini suatu pertanda?
Aku masih juga tak sanggup untuk percaya
Bahwa anganku terus melaju mencarimu
Wahai engkau sang pujaanku, bisakah kau hadir dalam jalan nyataku?
Sebab jika hanya bersarang di khayalku saja maka tak berguna ku sebagai insan di dunia”

Rasya, bagaimana menurutmu kata-kata itu? Apakah kata-kata itu pantas tuk aku ucapkan pada seseorang itu?
Aku minta maaf sebelumnya, sejujurnya inilah yang ingin ku katakan kepadamu waktu itu. Semoga kau tak marah lagi kepadaku, aku hanya ingin kau membantuku menyampaikan bait ini kepadanya.
Sekarang kau sudah tahukan? Aku harap kau tak marah lagi, dan aku meminta tolong untuk menyampaikan bait ini kepadanya, Ira. Sudilah kiranya kau membantuku wahai sahabat.

Salam sahabatmu
Dendi

Sebait, yah hanya sebait itu yang membuatku seakan terjebak pada perasaanku sendiri. Ternyata pria itu berharap bukan kepadaku tapi pada gadis lain, Ira. Yah, tak bisa ku sembunyikan lagi, perasaan ini. Kini ku sadari bait-bait itu sudah tak bersisa maknanya untukku, dan kini aku harus berdiri sendiri menuju anganku yang lain.

Ah itu semua sudah berlalu sekian lama, tapi entah mengapa setiap kali ku baca dan ku baca lagi, serasa bait itu tertuju kepadaku. Mungkin itu hanya perasaanku saja, karena ku yakin dia sudah bahagia dengannya, Ira.

Semilir angin sesore ini masih terus membawaku pada angan, yang tak akan mungkin tersampaikan. Namun aku tetap bahagia bersama bait yang tertulis untukku.

Memori, 21 Februari 2015
Aku yang masih berharap
Rasya

Advertisements

Naila dan Buku ke-100

baca buku

Hari ke-1
Naila, gadis berusia 8 tahun kelas 2 SD, menjadi tamu pertama Rumah Cahaya. Aku menyambutnya dengan senang, kuperlihatkan seluruh deret buku yang masih tertata rapi dirak-rak itu. Naila takjub tak sabar ingin segera mengambil 1 bacaan yang menarik untuknya. Ku biarkan dia bebas berkelana di setiap deret buku. Tak lama dia mengampiri mejaku dan menyerahkan satu buku cerita bergambar khas anak-anak yang cukup menarik. “Selamat membaca, sayang”. Senyumku dan senyumnya beradu menyemangatiku untuk terus melangkah di jalan ini.

Hari ke-2
Tamu pertama yang menyenangkan kemarin sore, menjadi tamu pertama di hari kedua ini. Ku sambut dengan ceria, begitu pula sambutannya. Naila tampak bersemangat menuju rak buku yang sama seperti kemarin. Sesaat kemudian dia datang ke mejaku memberikan buku itu untuk ku catat di buku administrasi ‘Peminjaman Buku’. Kali ini dengan judul yang berbeda tapi tak kalah menarik dari buku sebelumnya.

Hari ke-3
Naila kembali menjadi tamu kehormatan kami yang pertama. Sudah tiga kali berturut-turut sepertinya dia pantas mendapatkan payung. Kembali Naila mencari buku yang ingin dia baca. Setelah dapat dia akan berlari ke mejaku dan memberikan buku itu untuk dicatat agar segera dia baca.
….

Hari ke-98
Hari ini hari yang melelahkan, tapi sekaligus menyemangatiku untuk bisa sampai di Rumah Cahaya secepat mungkin, pasti Naila sudah menungguku di sana. Kekhawatirannya tampak nyata di wajahnya. “Ku kira kakak tidak datang.” Kalimat pertama itu membuatku semakin bersemangat untuk tetap di sini membersamai mereka dengan buku-buku itu. “Tentu tidak sayang, kakak akan selalu datang apapun yang terjadi, meskipun terlambat. Kau akan tetap menunggu kan?” Keteranganku cukup melegakannya, ditandai dengan anggukan dan senyuman khasnya.

Hari ke-99
Untuk kedua kalinya aku terlambat ke Rumah Cahaya, gadis kecil itu masih juga setia menunggu. Senyumnya membuat keyakinanku bulat. Aku akan tetap mempertahankan Rumah Cahaya, Naila dan buku-buku itu.
Sesaat setelah mengambil buku dan menyerahkan kepadaku, Naila juga menyerahkan sebuah buku tulis yang cukup tebal kepadaku, “Kak aku selalu menulis apa yang aku baca di sini. Agar nanti aku bisa ingat kembali apa saja buku yang sudah aku baca. Dan buku ini adalah buku ke-99 yang akan aku tulis di sini”. Terkejut aku dibuatnya, aku tak pernah menyangka dengan apa yang dia lakukan selama ini di sini.
“Kakak senang sekali Naila, kakak yakin buku ke-100 besok pasti akan menjadi buku terhebat yang Naila baca.” Diapun mengangguk mengambil buku ke-99nya untuk dibaca.

Hari ke-100
Suasana riuh tegang tak terhindarkan. Lagi-lagi aku terlambat ke Rumah Cahaya, terlambat pula aku menyelamatkan semuanya. Semua telah hangus terbakar tak bersisa.
Naila, sesenggukan di ujung jalan. Kuhampiri dia, “Naila, kamu tidak apa-apa sayang?” Mungkin itu pertanyaan bodoh tapi paling tidak itu bisa membuatku lega karena aku bisa berbicara. “Kak, aku tidak bisa membaca buku yang ke-100 itu. Buku yang kakak bilang buku terhebat”. Ku peluk dia, aku tahu ini menjadi hari terberat untuknya (pun untukku). “Sayang, kakak masih punya buku yang banyak yang bisa Naila baca. Bukan hanya seratus bahkan seribu.”
Dia melepaskan pelukanku, aku terkaget dengan perlakuannya. Tidak seperti biasa. “Buku-buku kakak tidak ada yang sehebat yang ingin Naila baca!” teriakknya. “Tentu saja Naila, kakak bisa belikan atau carikan lagi untuk Naila,” ku tenangkan dia bahwa semua akan baik-baik saja. “Tidak! Buku itu tidak dijual siapapun!” Teriakkannya membuat hatiku semakin remuk. “Kakak pernah bilang, buku terhebat yang kita punya atau kita baca adalah karya kita sendiri. Yang kita tulis penuh dengan semangat dan rasa cinta kepada orang yang ingin membacanya.” Aku terhentak hatiku remuk dan semakin hancur. Aku teringat kemarin sore saat aku membereskan buku-buku dan rak. Ku lihat buku Naila ada di rak buku. Aku pikir dia meninggalkannya di sana untuk membatasi buku mana yang ingin dia baca.
Kini aku tahu, kini aku sadari hatinya pasti lebih hancur dariku. Buku ke-100 yang ingin dia baca telah hacur bersama ratusan buku lainnya. Bersama 99 kisah hebat di buku Naila.